
"Ada keperluan apa kamu datang ke sini, hah! Apa kamu mau pamer anak dengan wanita lain?" yang seorang pria paru baya dengan tatapan sinis kepada tamunya yang sedang menggendong seorang anak laki laki.
Sang tamu yang tak lain adalah Sandi, nampak tersenyum tipis. Dia berusaha setenang mungkin menghadapi sang tuan rumah yang terlihat sangat marah. Sandi sangat memaklumi jika tuan rumah begitu terlihat marah dengan kedatangannya. Hal itu disebabkan karena perbuatan Sandi yang sudah sangat diluar batas, kepada anak si tuan rumah yang tidak lain adalah orang tuanya Arimbi.
"Apa karena anak itu yang menjadi alasan kamu tidak mau mengakui anak yang dikandung Arimbi? Apa karena kamu sudah menghamili anak wanita lain, hah!" Ayahnya Arimbi masih melempar pertanyaan dengan mencoba menahan amarahnya.
"Ini bukan anak saya dengan wanita lain, Om," jawab Sandi dengan setenang mungkin. "Ini adalah anak saya dengan putri Om, Arimbi."
"Apa!" bukan ayahnya Arimbi yang memekik, tapi Ibunya. Wanita itu baru saja datang untuk ikut menemui tamunya karena tadi sempat mendengar ucapan sang suami yang menggelegar. Ibunya Arimbi sangat terkejut dengan apa yang bartu saja dia dengar. "Ini anaknya Arimbi?"
"Benar, Tante, ini anak yang dilahirkan oleh Arimbi," jawab Sandi lalu dia mengusap punggung anaknya yang sedang merebahkan kepalanya di pundak Sandi. "Rey, sayang. Tuh ada eyang, Salaman dulu gih."
Anak kecil dalam gendongan Sandi sontak menoleh dan melhat dua orang tua yang juga sedang menatap anak itu dengan tatapan yang bercampur camnpur rasa. Tapi anak itu kembali meletakkan kepalanya di pundak Sandi. "Nggak mau. Ayah."
"Eh, jangan gitu, nanti Ibu marah loh," Sandi berusaha membujuknya. "Ayo salaman sebentar sama eyang?" Bukanya menurut, anak itu malah semakin menyencangkan tangan yang melingkar di leher Sandi. "Reyhan!" Sandi kembali membujuknya. "Kalau nggak mau, Ayah marah loh."
Anak itu pun mendadak merasa takut. Reyhan melonggarkan pelukan tangannya di leher Sandi lalu kembali menatap dua orang tua dan mengulurkan tangannya. Orang tua Arimbi malah terdiam dengan rasa yang berkecamuk. Bahkan air mata sang ibu sudah mengalir dengan cukup deras ketika melihat tangan kecil Reyhan terulur untuk mengajak berjabatan tangan.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain.
"Kamu mau melamar Eliza?" tanya pria paruh baya yang tidak lain adalah ayahnya Eliza. Pria itu bertanya dengan suara yang sangat lantang dan cukup membuat tamunya sedikit bergidik. "Kamu berani melamar anak saya setelah apa yang kamu perbuat dulu? Apa kamu sedang bermimpi?"
Sang tamu yang bernama Randi, sontak menggeleng dengan segala ketenangan yang dia kerahkan. "Saya tidak bermimpi, Om, Tante. Saya datang ke sini karena sangat serius ingin menjadikan Eliza sebagai istri saya."
Ayahnya Eliza sontak menyeringai, sedangkan sang ibu masih terdiam, meskipun wanita itu juga memiliki amarah yang cukup besar kepada pria yang sudah menghancurkan pernikahan anaknya dulu. "Apa kamu pikir, saya akan menerima lamaran kamu?"
Randi mencoba tersenyum. Dia tidak menunjukkan wajah terkejutnya sama sekali. Randi tahu, orang tuanya Eliza pasti tidak akan begitu saja memberi restunya kepada Randi karena kesalahan pria itu di masa lalu. "Saya tahu, Om, kesalahan saya begitu besar karena telah menfitnah putri Om dan menghancurkan pernikahan anak Om dan Tante. Maka itu saya ingin menebus kesalahan saya Om."
"Cihh! Menebus kesalahan," ucap Ayahnya Eliza sinis. "Apa kamu tahu apa yang terjadi karena perbuatan kamu, hah!"
"Dan kamu bangga melakukannya?"
"Tidak Om, saya tidak bangga sama sekali. Tapi Om juga harus tahu, calon suami Eliza malah menikah sebulan setelah kejadian itu karena menghamili wanita lain, Om."
"Apa!"
__ADS_1
Dan suasana tegang juga saat ini dirasakan oleh Dandi. Di malam yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Tepatnya di rumah Rianti, orang tua dari wanita itu begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Dandi beberapa detik yang lalu.
"Kamu mau melamar lagi anak saya?" tanya Ayahnya Rianti yang merasa tidak yakin dengan ucapan yang baru saja dia dengar.
"Iya, Om," jawab Dandi tegas. "Saya ingin melamar anak Om kembali."
"Hahaha ..." suara tawa Ayahnya Rianti langsung menggelegar. "Kamu pikir saya akan percaya, begitu?"
"Tidak, Om," jawab Dandi masih dengan sikap tenang. "Saya tahu Om tidak akan percaya begitu saja sama saya. Maka itu saya memberanikan diri datang kemari untuk melamar anak Om lagi."
"Atas dasar apa kamu berani melamar anak saya lagi, hah!"
"Mungkin kalau atas dasar cinta, Om tidak akan percaya begitu saja. Tapi sayabmelamar Rianti karena saya ingin melindunginya, Om."
"Melindungi atas dasar apa?"
"Tentunya selain atas dasar cinta, saya melamar Rianti untuk melindungi dia dari orang orang yang hendak berniat buruk pada Rianti, seperti tiga orang yang hampir menodai Rianti di kontrakannya."
__ADS_1
"Apa!"
...@@@@@...