TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Meluluhkan Hati


__ADS_3

Saat itu juga suasana kamar yang menjadi kamar pengantin di dalam salah satu hotel menjadi sangat hening. Malam yang seharusnya dinikmati dengan hal yang indah indah, malah menjadi malam yang dilalui dengan perdebatan. Sang pengantin baru kini saling terdiam, setelah perdebatan yang terjadi diantara mereka.


Eliza masih terbaring miring tanpa ada niat untuk merubah poisisinya. Bukannya berbaring diatas ranjang yang sudah ditata rapi dan dikasih hiasan oleh pihak hotel, wanita itu memilih berbaring di sofa setelah meluapkan kejengkelannya kepada pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya. Namun beberapa saat kemudian tubuh Eliza tiba tiba menegang saat dia merasa ada tangan yang melingkar pada pinggangnya.


"Kamu ngapain?" sontak suara Eliza kembali menggema dengan wajah yang cukup terkejut. Dia tidak menyangka kalau Randi ternyata ikut berbaring di sofa juga dengan memeluk pinggangnya dengan kencang.


"Tidur bareng kamu lah," jawab Randi dengan cueknya. "Udah ayok kita tidur."


"Nggak usah aneh aneh deh. Sana, tidur di ranjang. Orang belum mandi juga," sungut Eliza yang masih merasa kesal.


"Nggak mau," tolak Randi. "Ngapain tidur diranjang kalau istriku malah tidur di sofa. Emangnya ini cerita novel apa gimana? Baru malam pertama menjadi suami istri, tidurnya malah terpisah. Kayaknyaseru juga kalau malam pertama tidur di sofa, ya, sayang."


"Sayang, sayang!" gerutu Eliza semakin kesal. "Mandi dulu sana, bau!"


"Nantilah, sebentar lagi. Emangnya kamu nggak ingin dipeluk sama suami kamu?"


"Percuma dipeluk suami kalau tujuan dia hanya mau membuktikan sesuatu,"

__ADS_1


Randi kembali dibuat terperangah. Lagi lagi ucapannya berhasil dipatahkan dengan mudah oleh istrinya. Pria itu langsung memilih diam tanpa mempedulikan protesnya sang istri yang menyuruhnya mandi. Sejak selesai pernikahan, Randi memang belum mandi sama sekali, tapi apa boleh buat, istrinya lagi marah dan dia harus menaklukan kemarahan istrinya dulu.


Suasana hening kembali menyapa. Dengan adanya Randi yang sedang memeluk istrinya, membuat Eliza jadi tidak bisa berkutik. Diamnya Randi juga membuat wanita itu tidak bebas bergerak. Namun, untuk menyuruh Randi melepas pelukannya juga rasanya tidak akan mungkin dituruti. Setelah beberapa menit berlalu, tiba tiba Eliza teringat sesuatu.


"Astaga! Aku lupa!" pekik Eliza sambil bangkit dari berbaringnya. Tentu saja sikap wanita itu membuat Randi tekejut dan membuka matanya.


"Lupa? Lupa apa?" tanya Randi dengan menatap istrinya dengan kening yang berkerut.


"Gara gara kamu sih, aku jadi lupa ibadah, udah jam berapa ini," sungut Eliza yang hendak turun dari Sofa.


"Tapi kan ibadah petang juga aku belum melaksanakannya."


"Ya nanti kita jamak, namanya juga lupa," ucap Randi, lalu dia bangkit dari sofa. "Aku mandi dulu, nanti kita ibadah bareng." Eliza tidak merespon, tapi dia juga tidak membantah keinginan suaminya. Hingga beberapa menit telah berjalan, kini sepasang pengantin baru telah melaksanakan ibadahnya bersama. Beruntung, mereka membawa alat ibadah juga saat merencanakan menginap di hotel.


Rencana menginap di hotel juga sebenarnya bukan rencana Randi dan Eliza. Mereka sebenarnya ingin melewati malam pertama di rumah saja. Namun ada tamu undangan dari rekan bisnis Papahnya Randi yang memberi hadiah berupa menginap di sebuah hotel yang sama dengan acara pernikahan mereka, selama tiga malam, jadi ya sayang kalau tidak digunakan.


"Jangan tidur di sofa sih, Yang?" rengek Randi begitu dia melihat sang istri duduk di atas sofa yang tadi menjadi tempat berbaringnya. "Kalau kamu tidur di sofa, ya kita tidur bareng aja di sini."

__ADS_1


"Iya, iya, bawel banget sih," sungut Eliza. Setelah ibadah selesai, bukannya emosinya mereda, dia malah kembali merasa kesal karena tingkah suaminya sangat menyebalkan menurut Eliza. Randi pun tersenyum lebar dan dengan percaya dirinya dia merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepala di pangkuan sang istri. "Kamu ngapain malah tidur di sini?" tanya Eliza dengan wajah yang cukup terkejut.


"Ya romantis romantisan lah sama istri. Masa malam pertama sebagai suami istri, nggak melakukan hal hal yang romantis, kan nggak asyik," ucap Randi dengan entengnya. Eliza hanya mampu mencebikan bibirnya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa selain pasrah dengan kelakuan Randi yang mengesalkan.


Pria itu meraih tangan Eliza dan menautkan jari jarinya. "Za, Kamu jadi meneruskan usaha kamu yang di kampung?"


"Ya jadi, kenapa?" tanya Eliza, masih dengan keketusannya.


"Buka kios aja ya? Nanti aku belikan?"


"Nggak usah," tolak Eliza. "Enakan lapak kayak gitu, orang orang lebih mudah mencarinya. Aku kan udah punya pelanggan yang banyak."


Randi mengangangguk tanda mengerti. "Terus kamu, ingin punya anak berapa, Za, setelah pernikahan ini?"


Deg!


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2