TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Usaha Sandi


__ADS_3

"Kalau diperhatikan, wajah pria itu mirip dengan Reyhan loh, Mbi."


deg!


Wajah arimbi langsung berubah. dia langsung memalingkan wajahnya agar wanita dihadapannya tidak melihat raut wajahnya yang berubah menjadi tegang. Arimbi tahu akan hal itu, tapi dia tidak ingin orang lain tahu hubungan anaknya dan pria yang baru saja disebut oleh Bu Farida.


"Orang yang wajahnya mirip kan banyak, Bu," balas Arimbi sambil kembali mengusap bibir sang anak yang lagi lagi kotor karena eskrim. "Lagian Ibu aneh, aku tanya apa, Ibu malah jawab apa."


"Hehhe Ibu tahu. Tapi yang bikin ibu heran, Sandi itu kenal dengan kamu. bahkan kotanya juga sama dengaan kota asal kamu. Apa mungkin ini hanya sebuah kebetulkan belaka?" tanya Farida dengan segala rasa penasarannya.


"Ya bisa saja kan itu ..." Arimbi belum menyelesaikan ucapannya saat tiba tiba dia mendengar suara yang berasal dari ponsel miliknya. Wanita itu segera saja meraih ponsel yang sedang ditambah daya dekat televisi. Keningnya berkerut begitu dia menatap layar ponsel, ada nomer baru yang sedang melakukan panggilan.


"Siapa?" tanya Bu Farida yang seakan memahami kalau Arimbi sedang terkejut


"Nggak tahu, nomer baru," jawab Arimbi yang belum ada niat untuk memberi respon pada panggilan tersebut.


"Angkat aja, kali aja itu Sandi yang telfon."


"Apa? Ibu ngasih nomer aku ke orang itu?" Armbi kembali dibuat terkejut mendengar ucapan wanita yang telah menolongnya.


"Ya kan emang biasa gitu, kalau ada yang mau pesan dagangan lewat kamu," balas Farida yang sedikit merasa heran dengan sikap Arimbi.

__ADS_1


Arimbi pun mengangguk. Meski hatinya sedikit kesal, tapi apa yang bu Farida katakan memang benar. Setiap ada yang ingin memesan barang dagangannya memang selalu lewat Arimbi sejai dia tinggal di sana. Bu Farida dan suaminya terlalu malas untuk memegang ponsel. Mereka kalau megang ponsel pada saat mau pergi saja.


Di saat itu juga, ponsel Arimbi kembali berdering. Dia hendak menyerahkan ponsel itu kepada sang ibu, tapi wanita itu malah menolak dan memilih beranjak dari sana dan masuk ke kamarnya. Mau tidak mau Arimbi menggeser tombol hijau dan menempelkannya pada telinga.


Hallo!"


Senyum Sandi langsung merekah begitu dia mendengar suara wanita dari layar ponselnya. Sandi tahu itu suara wanita yang telah melahirkan anak karena kesalahannya. "Hallo, Mbi, apa kabar?" sapa Sandi sembari meletakkan pantatnya di atas lantai dan bersandar ke meja pembatas.


"Langsung saja, ada perlu apa?" suara Arimbi terdengar sangat kesal dan sandi tahu itu.


"Bisa antar cuanki lidah dan batagor kering ke tempatku, Mbi?" balas Sandi setenang mungkin. Sebenarnya dia ingin berbicara lebih banyak, tapi Sandi harus bisa bersabar diri dan pelan pelan mendekati wanita yang sedang dia telfon.


"Untuk hari ini, terserah kamu bisanya nganternya kapan. Sore juga nggak apa apa."


"Ya udah nanti aku kirim abis ashar."


"Naik, aku tunggu. Bawa Reyhan juga ya? Aku pengin ketemu."


"Buat apa?" terdengar suara Arimbi semakin memninggi.


"Ya pengin ketemu aja. Ya udah aku tunggu ya," Sandi langsung mematikan panggilan telfonnya. Dia memang sengaja melakukan itu demi menghindari penolakan yang sudah pasti akan dilakukan oleh Arimbi.

__ADS_1


Sedangkan di rumahnya, Arimbi terlihat geram bukan main. Wajahnya juga terlihat sedikit panik saat dia mendengar Sandi ingin ketemu anaknya. Arimbi jadi menerka nerka kalau pria itu sepertinya sudah tahu apa yang terjadi pada wanita itu. Arimbi ingun memastikan hal itu kepada Bu Farida, tapi dia takut sang ibu curiga kepadanya.


"Siapa tadi yang telfon?' tanya bu Farida begitu dia keluar kamar dan sudah berganti pakaian.


"Orang yang tadi ketemu ibu di pasar., dia pesan cuangki lidah sama batagor kering satu bungkusan. Nanti sore bapak aja ya yang nganter ya, Bu," balas arimbi.


"Nanti sore kan ibu sama bapak mau ke hajatan di desa sebelah, kamu lupa?"


"Astaga! Ya Reyhan ikut ibu ya, soalnya nanti dia pasti nggak bakalan mau pulang. Tempatnya orang itu kan dekat dengan taman kota, Reyhan pasti minta main."


"Ya nggak bisalah. Nanti kita pulang agak malam. Kasihan dia kalau ikut kita. Biasanya aja kamu yang ngantar sama Reyhan."


Arimbi langsung mencebikan bibirnya. Kalau sudah seperti ini, dia tidak punya pilihan lain lagi selain mengajak sang.


Sandi sendiri, senyumnya belum surut setelah berbicara dengan Arimbi. Bahkan tingkah pria itu mendapat cibiran dari dua temannya.


"Bisa bisanya pake modus pesan barang segala, orang stok kita juga masih banyak," protes Dandi.


Sandi tidak menanggapi. Dirinya terlalu senang hari ini. saat matanya lurus memandang ke depan, Sandi melihat seseorang yang dia kenal masuk ke warungnya. "Ran, ada Eliza tuh!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2