
"Kenapa sih, kamu selalu nolak kalau aku ingin nganter pulang?" tanya seorang pria yang kelihatan sangat kesal karena sudah beberapa kali mendapat penolakan dari wanita yang saat ini sedang berdiri tidak dari pria itu.
"Aku nggak mau ngerpotin, Mas. Lagian kan Masnya kerja," ucap wanita bernama Eliza dengan alasan yang sebenarnya juga cukup masuk akal. Tanpa ingin membuatnya tersinggung, Eliza menolaknya secara sopan.
"Yakin? Cuma itu alasannya?" pria itu menatap Eliza dengan tatapan penuh selidik. "Aku tidak pernah ngerasa direpotin loh, Za. Lagian aku cuma ingin membuktika, aja, apa omongan tentang kamu itu benar apa nggak."
Eliza jelas terkejut dengan ucapan pria yang dari gerak geriknya, jelas sekali kalau pria itu menyukai Eliza. "Maksud kamu, Mas?"
Pria itu malah menunjukan senyum sinisnya. "Bukan rahasia umum lagi kok, kalau kamu suka tebar pesona sama cowok kampung. Apa mungkin karena kamu merasa cantik dan anak kota, jadi kamu menganggap kalau cowok kampung itu bisa dipermainkan?"
"Siapa yang mempermainan siapa?" tentu saja Eliza langsung menunjukan rasa tidak terimanya. "Kalau ngomong itu jangan asal, Mas."
"Nggak! Aku nggak asal ngomong," bantah pria itu. "Memang terbukti kan banyak laki laki yang sudah kamu tolak. Aku yakin laki laki yang ngejar kamu sampai ke pasar itu juga bakalan kamu tolak lagi. Mentang mentang anak kota, gaya gayaan nolak semua cowok yang medekat. Mau nyari cowok sultan di kampung?"
"Kalau ngomong itu ati ati, Mas. Nggak perlu ngatain yang nggak nggak. Kamu tidak terima aku tolak? Hati nggak bisa dipaksakan, Mas," Meski emosinya sudah naik cukup tinggi, Eliza berusaha menahan dirinya agar tetap bisa tenang karena saat ini dia sedang berada di pasar.
__ADS_1
"Halah, pake alasan hati nggak bisa dipaksakan. Bilang aja karena aku kere, hanya pegawai bank keliling. Pakai alasan macam macam segala. Padahal belum tentu juga dirimu masih suci, tapi malah maunya ama cowok yang mapan."
Eliza makin emosi. Tapi daripada dia meladeni pria itu, Eliza memilih langsung pergi memanggil ojeg dengan segala amarah yang dia tahan. Sedangkan pria itu kembali tersenyum sinis dengan menatap tajam kepergian Eliza. "Awas aja kamu, Za. Aku akan bikin kamu menyesal karena mempermainkan cowok kampung!"
Eliza sendiri langsung menangis begitu dia sampai rumah dan masuk ke dalam kamarnya. hatinya cukup sakit dengan tuduhan pria yang sakit hati karena ditolak cintanya.
"Kamu kenapa, Za?" tanya Bibi yang langsung masuk ke dalam kamar keponakannya. Sejak Eliza turun dari motor tukang ojek, Bibi yang kebetulan sedang menjemur pakaian di depan rumah, nampak terkejut saat menatap Eliza dengan mata yang sudah merah dan wajah yang terlihat kesal. Langkah Eliza yang terburu buru masuk kamar, membuat Bibi yakin, pasti telah terjadi sesuatu kepada keponakannya itu.
"Nggak apa apa, Bi. Aku lagi lelah aja," jawab Eliza yang berbaring miring memunggungi bibinya.
"Nggak, Bi. Nggak ada apa apa," jawab Eliza lagi. Si bibi pun mengalah. Tangannya mengusap lembut tambut keponakannya, lalu dia bangkit dan meninggalkan Eliza.
Masih di hari yang sama, tapi di tempat yang jauh dari kampung mereka, Seorang anak kecil sedang bersorak riang mengendarai seekor kuda menyusuri sebuah pantai. Di sebelahnya, ada dua orang dewasa bersamanya. Yang satu adalah penjaga kuda, dan yang satunya adalah tante dari anak itu.
"Hore! Nyampe!" seru tante dari anak itu ketika kuda yang dinaiki sudah sampai di tempat tujuan. "Ayo turun, sayang."
__ADS_1
Bacah itu malah menggeleng. "Mau naik kuda," rengeknya.
"Ya nanti naik lagi. Kita makan dulu ya? kasihan Ibu, itu dia udah nungguin."
Si anak masih menolak. Tapi saat sang Ibu sudah turun tangan, anak itu langsung menurut dengan rasa takut.
"Arimbi memang cukup keras dan tegas sama anaknya," ucap Bu Farida kepada dua orang tua yang duduk di tikar bersamanya.
"Ya memang harus begitu, agar anaknya nggak manja," sahut Suryo, Papahnya Sandi. "Menuruti permintaan anak ya nggak salah. Tapi jangan terlalu sering, jadi anaknya nggak manja."
"Harusnya sih memang begitu," sahut Pak Seno. "Tapi Sandi sepertinya tidak begitu. Permintaan anaknya selalu diturutin."
"Tapi paling nggak, harus ada yang ditakutin juga. Kalau kedua orang tuanya luluh, nggak ada yang keras, ya bakalan bahaya untuk masa depan anaknya," ucap Suryo lagi. Di saat bersamaan, Arimbi, Sandrina dan Reyhan bergabung sama para oraang tua.
"Gimana, Mbi? Kamu siap, kan? Jadi orang tua bareng Sandi?"
__ADS_1
...@@@@...