TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Kesungguhan Dandi


__ADS_3

"Jadi nanti sore kamu akan ke kantor polisi?" tanya seorang pria pada pria lain yang usianya hampir sama dan dia duduk di hadapannya.


"Ya, rencana aku nanti sore akan ke ke kantor polisinya, setelah tempat jualanku agak sepi. Kalau jam segini belum bisa. Kalian bisa lihat sendiri bukan? Tempat jualanku kalau siang rame," jawab si pria yang tadi di lempar pertanyaan kepada dua orang di hadapannya yang telah berstatus suami istri.


"Baguslah, Rianti juga sedang nungguin keputusan kamu soal ini," ucap pria bernama Agus. "Lalu, untuk kali ini, kamu serius, bukan? Untuk menjaga Rianti? Tidak ada niat untuk mempermainkanya kayak dulu lagi?"


"Pastinya sangat serius," pria yang dikenal dengan nama Dandi menjawab dengan cukup antusias. "Apa lagi besok minggu, aku ada rencana untuk menemui orang tua Rianti."


Wanita bernama Rianti, yang saat itu duduk di sebelah Dandi langsung membulatkan matanya. Bahkan dia sempat tersedak oleh kuah pedas yang sedang dia nikmati karena terlalu terkejut mendengat ucapan Dandi, Rianti langsung menenggak minuman di depannya lalu setelahnya dia menoleh ke arah Dandi. "Kamu gila?"


Senyum tipis Dandi terbesit. "Ya nggak gila, Ri. Ini kan bukti kalau kali ini aku memang sangat serius dengan kamu. Apa kamu butuh bukti lain?"


"Kenapa? Kok jadi kamu yang kelihatan takut?" tanya Tiwi kepada sahabatnya yang merasakan perubahan aneh pada wajah dan sikap Rianti. "Kalau dia memang serius ya biarkan saja dong, Ri. Kamu tinggal duduk cantik nunggu bukti."

__ADS_1


"Soalnya keluargaku tuh benci banget sama Dandi, Wi," balas Rianti mengungkap kegusarannya. "Kalau mereka tahu aku masih berhubungan dengan Dandi, bukankah imbasnya juga aku yang kena nantinya?" Tiwi dan dua pria yang ada di sana nampak terdiam sejenak sembari mencerna ucapan Rianti.


"Ya nggak apa apa kalau mereka benci sama aku, yang penting kan niataku baik kan?" ucap Dandi dengan santainya. "Nggak mungkin kan orang tua kamu juga akan rela jika kamu dinodai pria lain secara paksa. Terus mereka juga nggak mungkin akan menyerahkan kamu sama pria lain."


"Kenapa nggak mungkin?" tanya Rianti. Pertanyaan itu juga mewakili suami istri yang juga cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Dandi.


"Kamu nggak ingat? Apa yang dikatakan pria yang membongkar kejahatanku? Atau aku akan ingatkan lagi?" ucapan Dandi seketika membuat Rianti berpikir. Namun setelah menginggatnya, mata wanita itu sontak membelalak.


"Iya, iya aku ingat!" seru Rianti, dan pastinya sikap wanita itu mermbuat dua orang di hadapannya penasaran.


"Nggak perlu tahu. Rahasia negara," jawab Rianti lantang sampai membuat Tiwi mencebikan bibirnya, namun Rianti hanya membalasnya dengan senyum senyum menyebalkan.


"Paling soal ranjang, apa lagi," tebakan Agus seketika membuat senyum Rianti berubah menjadi rasa terkejut. "Tu kan benar tebakanku."

__ADS_1


Rianti memilih memalingkan wajahnya dengan kembali menikmati cireng kuah, sedangkan Dandi hanya senyum senyum gemas melihat tingkah Rianti, sedangkanTiwi terbahak bahak kelihatan sangat puas.


"Tapi tindakanmu benar juga sih," ucap Agus lagi kepada Dandi. "Meskipun mungkin ada pria yang menerima apa adanya Rianti, bisa saja itu hanya di awal saja. Karena, kan kita tidak tahu perjalanan hidup seseorang ke depannya akan seperti apa. Contohnya aja kalian, apa kalian menyangka, akan dipertemukan kembali di kota ini, enggak kan?" Dandi langsung mengangguk, setuju dengan ucapan pria beranak satu itu.


"Mungkin kalian juga sebenarnya berjodoh, cuma jalan kalian harus melewati ujian yang lumayan berat dulu," Tiwi pun ikut mengeluarkan kata bijaknya setelah tawanya reda. "Nggak kayak kita ya, Pah, ujiannya hanya marahan kecil yang sering terjadi."


Agus pun tersenyum dan dia mengiyakan ucapan istrinya. "Kita sih hanya berharap, sebagai satu satunya orang yang dekat dengan Rianti di kampung ini, Rianti juga akan menemukan kebahagiaannya. Apa lagi dia wanita yang usianya terbilang sudah cukup untuk menjalankan rumah tangga."


"Benar itu," Tiwi kembali menimpali ucapan suaminya. "Beruntung kamu tinggal di toko, Ri. Coba kalau kamu tinggal di komplek perkampungan kayak tempat aku, udah habis kamu jadi omongan orang."


"Ya aku minta doa saja pada kalian," sekarang Dandi kembali mengeluarkan suaranya. "Apapun yang terjadi nanti, aku akan menikahi Rianti. Syukur nanti kami dapat restu, kalau tidak ya, cukup restu orang tuaku saja."


Suami istri itu mengangguk beberapa kali. Tentunya mereka sangat mendukung tindakan Dandi dan juga berharap Dandi membawa kabar baik nantinya. Sedangkan Rainti hanya terdiam dalam suasana hati yang cukup gundah.

__ADS_1


Setelah ke empat orang mengobrol dalam waktu yang cukup lama, mereka pun memilih mengakhiri obrolannya karena harus menjenguk keadaan toko Rianti.


...@@@@@...


__ADS_2