TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Sindiran Dua Wanita


__ADS_3

"Padahal laki laki itu baru datang, tapi kamu sudah sangat mengistimewakannya. Apa kamu nggak takut disakiti lagi?"


Arimbi langsung melayangkan tatapan tajam kepada pria yang baru saja mengeluarkan suaranya dengan nada menyindir. "Terus kalau sama kamu, apa kamu bisa menjamin kalau aku juga tidak disakiti? Lihat saja sikap ibu kamu, kamu tidak buta kan, Mas?"


Mulyadi tercengang mendengarnya. Selama dirinya mengenal dan berusaha dekat dengan Arimbi, baru kali ini wanita itu mengatakan sesuatu tentang ibunya. Dari ucapan Arimbi, jelas sekali kalau laki laki itu tidak menyangka Arimbi ternyata selama ini, secara diam diam, memperhatikan sikap Ibunya terhadap wanita beranak satu tersebut.


"Nggak perlu kaget, Mas. Bahkan Ibu juga tahu apa yang Ibu kamu katakan. Lagian bukankah kamu sudah memiliki calon yang lebih pantas dan dia pilihan ibu kamu?" satu lagi ucapan Arimbi membuat laki laki itu terperangah. Ternyata wanita itu sudah tahu semua yang sengaja Mulyadi tutupi. "Sudahlah, Mas, aku berangkat dulu. Kasihan Reyhan sudah teriak teriak dari tadi."


Arimbi dengan tegas langsung melangkah menuju mobil dimana anaknya sudah memanggilnya beberapa kali agar di ibu cepat naik ke dalam mobil. Arimbi sengaja memilih duduk di belakang. Awalnya Sandi merasa heran dan meminta wanita itu duduk di sampingnya. Namun hanya dengan menunjukan tatapan tidak suka, Sandi pun mengerti dan memaklumi.


Sedangkan Mulyadi menatap kepergian wanita incarannya dengan perasaan yang campur aduk. Yang pasti saat ini Mulyadi terlihat marah, kesal, cemburu dan juga kecewa, menyatu jadi satu. Tatapannya begitu tajam dengan tangan yang terkepal. Dia sungguh tidak terima mendapat perlakuan seperti ini.

__ADS_1


Begitu mobil yang dikendarai Sandi hilang dari pandangan, Mulyadi langsung melangkahkan kakinya menuju motor miliknya yang terparkir di halaman rumah Arimbi. Dengan segala perasaan yang sangat kesal, pria itu meninggalkan rumah sang wanita, tanpa pamit kepada wanita tua yang ada di dalam rumah itu. Entah apa yang akan Mulyadi lakukan setelah ini, yang pasti pria itu tidak akan tinggal diam begitu saja.


Di lain tempat, Dandi sudah berada di toko buah Rianti dengan membawa beberapa kamera cctv yang baru saja dia beli. Meski Rianti awalnya menolak, wanita itu akhirnya pasrah saat Dandi terus memaksanya. Dia membiarkan saja pria itu bekerja sendirian. Kalau Dandi bersuara meminta bantuan, baru Rianti bergerak dengan malas untuk membantunya.


"Kamu ngapain disini?" suara seseorang yang baru saja datang cukup mengejutkan Dandi yang sedang berada di atas tangga dan Rianti yang sedang membuat jus buah pesanan dua pembeli dihadapannya. "Kamu masang cctv, Ri? wanita itu kembali bertanya. "Kok nyuruh pria brengsek ini?"


"Dia sendiri yang nawarin bantuan," balas Rianti tidak mau sahabatnya salah paham melihat ada Dandi di sana. "Tadi ada yang neror aku lagi, Wi."


"Hah! Serius?" wajah Tiwi langsung nampak terkejut dan dia langsung masuk mendekati sahabatnya. Rianti sontak mengangguk beberapa kali. "Gimana? Dapat ancaman lagi?"


"Sama dong kayak orang yang sedang memasang kamera cctv," kali ini ucapan Tiwi baru sengaja menyindir Dandi. "Kok orang pengecut bannyak banget ya?" Dandi yang mendengarnya pura pura acuh. Padahal hatinya cukup kesal mendapat sindiran seperti itu, tapi Dandi tahu diri. Dia harus bisa menahan segala rasa kesalnya. "Terus, gimana ceritanya pria ini sampai memasang cctv?" tanya Tiwi lagi.

__ADS_1


"Kebetulan tadi pagi dia lihat sendiri saat aku ada teror," balas Rianti sembari menyerahkan dua gelas plastik jus mangga kepada pembelinya. "Selanjutnya kamu bisa tebak sendiri apa yang terjadi."


Tiwi sontak mencebikan bibirnya. "Jadi saat ini dia mau jadi pahlawan gitu?"


"Ya nggak apa apa kan kalau aku jadi pahlawan?" Kali ini Dandi berani mengeluarkan suaranya. Dia cukup jengah karena mendapat sindiran terus. "Di sini kan dia nggak punya siapa siapa. Nggak salah dong kalau aku yang menjaganya."


"Halah, gayamu sok manis. Nanti ya ujung ujungnya omong kosong lagi," cibir Tiwi.


Dandi langsung tersenyum tipis. "Ya masa kamu rela sih, mbak, suami kamu yang melindungi cewek lain, meski cewek itu adalah sahabat kamu?"


"Emang apa salahnya?"

__ADS_1


"Emang nggak salah sih, tapi kita nggak tahu ke depannya apa yang akan terjadi. Meski Mbak percaya sama suami dan juga Rianti, bukankah lebih baik Rianti dilindungi pria lain daripada nantinya terjadi hal yang tidak kamu inginkan?"


...@@@@@...


__ADS_2