TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Ajakan Dandi


__ADS_3

"Masih di malam yang sama, Dandi saat ini sedang melangkahkan kakinya menuju toko buah sesuai dengan yang dia rencanakan. Setelah mendapat sindiran keras dari orang yang mengaku sepupunya Rianti, Dandi bertekad ingin menemui Rianti saat itu juga. Entah dalam benaknya ada rencana apa, yang pasti malam ini, Dandi harus menemui wanita itu.


Mengantar uang hasil penjualan jus dan juga membicarakan tentang wanita yang ada di video rekaman cctv, manjadi alasan kuat bagi Dandi untuk menemui Rianti malam ini. Tidak butuh waktu yang lama, Dandi melihat Rianti sedang melayani dua anak muda yang duduk di bangku plastik depan tempat jus.


Rianti hanya mendengus tanpa mengeluarkan kata sama sekali, melihat kedatangan Dandi yang langsung duduk di bangku plastik depan kotak buah di pajang. Wanita itu hanya fokus ke pembuatan jus milik dua pembeli. Meskipun Dandi menatap dirinya, Rianti tetap brsikap cuek tanpa ada niat menyapa sama sekali.


"Toko kamu tutup jam berapa, Ri?" akhirnya Dandi yang sedari tadi diam, mengeluakan suaranya setelah dua anak muda itu pergi dengan menenteng empat porsi jus alpukat.


"Jam delapan," jawab Rianti agak ketus sembari bersih bersih tempat pembuatan jus.


"Ini hasil penjualan jus tadi siang . Laku semua loh," Dandi menunjukaan plastik yang berisi uang.


"Taruh saja di situ, di atas kotak yang warna hijau," mendengar perintah Rianti, Dandi langsung membalikan badannya dengan kepala agak terangkat mencari kotak hiaju yang dimaksud. Setelah ketemu, Dandi menaruh kantung plastik di sana. "Kamu nggak pulang?" tanya Rianti begitu melihat Dandi yang masih duduk setelah menaruh uangnya.


"Kapan kamu akan bertindak menangani orang yang meneror kamu?" Dandi nampak tidak mempedulikan pertanyaan wanita yang sedang langsung menunjukan wajah kesal, karena Dandi tak menjawab pertanyaannya.


"Nunggu interuksi dari Mas Agus," jawab Rianti masih dengan nada ketusnya.

__ADS_1


Dandi menghela nafasnya perlahan untuk bisa lebih bersabar lagi menghadapi Rianti yang kembali bersikap dingin. "Kenapa minta bantuan suami orang lagi sih, Ri?"


"Apa salahnya?" Rianti terlihat tidak terima. "Lagian aku yang cerita ke istrinya dan istrinya yang ngasih tahu ke Mas Agus. Lagian, kita juga nggak kenal tukang teror itu orang mana, ada hubungan apa. Tiwi sendiri juga nggak kenal meskipun dia asli orang sini, apalagi kita."


Dandi terbungkam. Dia telah salah melempar pertanyaan hingga Rianti sampai mengeuarkan taringnya. Jawaban yang keluar dari mulu Rianti memang benar, dia dan Rianti membutuhkan bantuan orang yang tinggal di kampung ini untuk menemukan pelaku teror.


"Apa kamu nggak ada niat untuk menjebaknya?" Dandi mencoba mencari alternatif lain yang mungkin bisa Rianti lakukan.


"Mana sempat. Emangnya aku kalau pagi cuma mantengin ponsel doang," jawaban ketus Rianti kembali membuat Dandi diam tak berkutik dan sangat mengerti. Tapi pria itu tetap berpikir keras untuk menyampaikan pendapatnya.


"Apa aku yang jaga disini, biar bisa nangkap basah orangnya?" Rianti langsung menunjukan tatapan tajam, mendengar usualan Dandi yang menurutnya tidak masuk akal. Dandi sendiri langsung cengegesan. Hanya dengan melihat tatapan tajam Rianti, Dandi sudah tahu jawabbannya. "Ya kali aja kamu mau."


"Wahh! ide bagus tuh!" Dandi malah terlihat berbinar. "Kalau kita digrebeg, sudah pasti kita akan dinikahkan. Aku setuju."


Secara spontan tangan Rianti mengambil jeruk yang ada di kotak sebelah kanannya dan melempar ke arah Dandi yang sedang cengengesan. "Nikah mulu yang diomongin!"


"Hehehe ..." Dandi kembali cengengesan. "Ya kita kan sudah waktunya nikah, Ri. Lihat usia kamu, sudah pantas untuk nikah."

__ADS_1


"Kalau dulu kamu nggak kabur juga aku sudah nikah!" Rianti malah mengungkit masa lalu yang membuat senyum Dandi perlahan surut.


"Maka itu, sekarang kita nikah ulang. Bukankah ini yang terbaik untuk kita?" Rianti malah terdiam. Dia terlalu malas membahas tentang pernikahan. Apa lagi yang membahasnya, pria yang dulu pernah membuat hatinya remuk, makin malas dia untuk menanggapinya.


"Jika kamu menginginkan aku menghadap orang tua kamu, Oke, akan aku lakukan, Ri. Asal itu semua bisa menebus kesalahanku dimasa lalu."


"Nggak usah gila, deh!" Rianti terusik.


"Nggak apa apa berbuat gila. Toh, aku sudah cukup gila menghadapi kamu yang ketus mulu sama aku. Sekali kali hangat, apa nggak bisa? Mentang mentang aku punya dosa besar sama kamu." Rianti kembali memilih diam dengan mata mengedar ke arah jalan raya. Dandi jadi semakin kesal sendiri karena sikap Rianti seperti itu.


"Ri,"


"Apa sih, Dan? Rewel banget dari tadi."


"Pulang, yuk.Jenguk orang tua kamu, katanya mereka lagi sakit."


Mata Rianti langsung membulat.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2