TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Tetap Maju Mengejar


__ADS_3

Sandi, Dandi da Randi menjalani aktifitas pagi ini dengan semangat yang entah lari kemana. Begitu wanita paru baya pergi setelah melampiaskan amarah kepada mereka, ketiga pemuda itu seperti kehilangan semangat untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan jualan mereka.


Meski saat ini ketiganya nampak memegang pekerjaan masing masing, tapi pikiran mereka menerawang pada nasib mereka ke depannya mengenai hubungannya dengan tiga wanita yang saat ini menjadi prioritas mereka. Terbukanya tabir kesalahan yang mereka lakukan, seakan menjadi penghambat tambahan untuk jalan mereka dalam meraih kata maaf sekaligus menaklukan hati para wanita.


"Bagaimana ini? Apa yang akan kalian lakukan setelah semua orang terdekat para wanita sudah pada tahu dengan perbuatan kalian?" tanya Randi begitu tugasnya sudah beres semua dan dia memilih duduk di kursi dekat meja pembatas.


"Dntahlah," jawa Dandi tak berdaya. "Aku yakin, Rianti saat ini semakin membenci aku karena kejadian kemarin."


"Tapi apa iya kita harus menyerah? Aku juga sendiri bingung sih, keluarga pamannya Eliza benar benar serem," Randi menimpali.


"Kalau aku nggak mungkin menyerah lah. Orang aku sudah punya anak. Kalau aku menyerah, makin buruk nama aku. Kasihan Arimbi dan Reyhan juga nantinya,"Sandi mencoba bijak dalam menmghadapi kebimbangannya.

__ADS_1


"Tahu bakalan begini, mending dulu aku hamilin Rianti sekalian. Biar memiliki alasan yang jelas saat ingin menebus dosa," ucap Dandi. Meski menyebalkan tapi ucapannya terdengar menggelikan juga.


"Hahaha ..." Randi malah terbahak gara gara ucapan sahabatnya. "Kalau tahu bakalan jadi kayak gini, aku nggak akan menggagalkan acara nikahannya Eliza. Nggak apa apa jika aku tidak memilikinya, tapi aku nggak larut dalam rasa sesal yang lumayan bikin nyesek."


Kedua teman Randi pun ikut tersenyum mendengar pernyataan itu. Seandainya mereka tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari, mereka juga pasti akan berpikir yang sama dengan Randi. Mereka tidak mau melakukan hal yang merugikan diri mereka sendiri dan juga orang lain hanya karena rasa egois.


"Maka itu, seberat apapun jalan yang akan kita tempuh, kita memang harus menghadapinya," Sandi kembali bersikap bijak. "Jika kita menghindarinya, yang ada masalah akan selalu datang, entah kepada kita maupaun kepada para wanita. Terbukti kan, Eliza sampai trauma menjalin hubungan. Aku yakin Arimbi dan Rianti juga mengalami hal yang sama."


"Ya, benar sih kata kamu, San. Kita memang harus terus maju. Lalu, langkah apa yang akan kalian lakukan? Apa akan terus mengemis maaf? Kayaknya itu bakalan berlangsung lama deh. kayak aku contohnya, pasti kadar kebencian Rianti saat ini semakin bertambah besar."


Dua sahabat Sandi nampak terdiam saat mendengar dengan cermat apa yang diucapkan pria itu. Tentu saja mereka sangat setuju dengan perkataan Sandi. Seketika semangat mereka kembali menyeruak, ketiganya langsung memutuskan melanjutkan pekerjaan mereka karena hari sudah semakin siang.

__ADS_1


Di hari yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Tepatnya di sebuah tempat yang ada di kota besar. Seorang pria terlihat membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil tersebut. Dengan berpakaian jass lengkap, pria itu dengan gagah dan sikap yang sangat berwibawa, memasuki sebuah gedung perkantoran yang lumayan tinggi. Beberapa kali pria itu melebarkan senyum ramahnya kepada semua orang yang kebetulan bertatapan mata dengan pria itu.


"Lihat tuh, Pak Rusdi, ganteng banget ya," ucap salah satu wanita yang bekerja di gedung tersebut setelah saling melempar senyum dengan pria yang baru saja dia sebut namanya. "Udah ganteng, pakai ramah banget lagi. Benar benar cowok idaman."


"Hahaha ... benar," teman wanita itu menimpali. Tentunya teman sesama wanita yang sama sama mengagumi pria bernama Rusdi itu. "Udah gitu dia kaya lagi, paket komplit nggak sih."


Dua wanita yang bekerja pada satu meja sebagai resepsionis itu saling tertawa lirih. "Bener. Spesial banget Pak Rusdi itu. Tapi sayang, hatinya susah untuk diklakukan. padahal aku bersedia banget loh jadi wanitanya."


"Bukan cuma kamu saja, aku juga mau. Tapi kamu tahu kan, gosip yang beredar gimana?"


"Tahu dong. Tapi aku nggak yakin kalau pak rusdi memiliki kelainan." teman si wanita itu hanya mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


Sementara itu orang yang sedang dibicarakan oleh dua wanita, kini sudah berada di dalam ruang kerjanya. Pria itu tesenyum saat matanya menatap layar laptop dalam waktu yang cukup lama.


...@@@@@@...


__ADS_2