TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Ajakan Kerja Sama


__ADS_3

"Hallo!"


"Ya, ada apa?"


"Kerja sama?"


"Oh gitu, ya baguslah."


"Oke! Makasih ya atas infonya."


Klik. Panggilan telfon pun berakhir.


"Siapa, San?"


"Karyawan rumah makan, Mah, tadi ada orang yang nyariin aku, katanya pengin kerja sama dan buka usaha mirip kayak punyaku," jawab Sandi sambil menggendong anaknya yang sudah terlelap menuju kamar.


"Oh, terus kamu setuju apa gimana?"


"Ya belum lah. Kan ada Randi dan Dandi juga. Paling nggak aku harus ngomong sama mereka dulu. Kan ini usaha mereka juga. Lagian, aku juga belum ketemu orangnya. Mungkin besok baru ketemu."

__ADS_1


Sang Mamah hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda kalau dia mengerti. Mereka lantas masuk ke kamarnya masing masing. Tidak ada percakapan lagi di dalam rumah Sandi. Begitu pulang dari acara lamaran, semua keluarga masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Selain capek, waktu juga sudah cukup malam, jadi semua memiilih istirahat.


Sebenarnya acara lamaran resmi itu tidak pernah direncanakan oleh tiga pria itu. Dulu, saat masih di kampung, tiga pria itu hanya berencana untuk menemui orang tua para wanita sekalian mencoba melamar secara tidak resmi. Namun nyatanya usaha mereka akhirnya disambut baik oleh keluarga para wanita, dan terjadilah acara lamaran resmi pada malam ini.


Tidak hanya itu, rencana yang awalnya sudah tersusun rapi juga berubah karena acara lamaran resmi itu. Yang awalnya para wanita akan pulang esok hari, mereka jadi mengundurkan kepulangan mereka karena banyak yang harus dibahas dengan keluarga para wanita tentang pernikahan yang akan di jalani.


Tiga pria dengan suka rela mau mengundurkan jadwal pulangnya, meski mereka merasa tidak enak kepada para pelanggan di kampung, karena libur jualan terlalu lama. Namun mereka tidak punya pilihan lagi. Biar bagaimanapun acara pernikahan memang harus diperhatikan segala seuatunya secara rinci.


Keesoka harinya, seperti biasa, tiga pria akan mengunjungi tiga rumah makan mereka untuk membantu serta mengawasi apa yang terjadi di sana. Biar bagaimapun, mereka juga harus ikut turun tangan selagi masih ada di kota. Karena rumah mereka berada di tempat yang saling berjauhan, ketiga pria itu datang ke tempat usahanya dengan mengendarai mobil masing masing.


"Semalam, kata karyawan, ada orang yang ingin mengajak kita kerja sama," ucap Sandi ketika mereka saat ini sudah berkumpul di salah satu rumah makan milik mereka.


"Hah!" Randi nampak terkejut. Tentu saja, sikap pria itu mengundang rasa terkejut juga bagi dua temannya. "Bukannya orang yang ngajak kerja sama, ingin ketemu kita pada tempat usaha kita yang ke tiga."


"Loh kok bisa beda gitu?" Tanya Dandi dengan wajah masih nampak terkejut.


"Lah, aku dikasih tahunya gitu. Katanya nanti sore dia ingin ketemu sama aku di rumah makan yang ketiga. Masa iya karyawan kita bohong."


"Kok aneh? Apa orang yang akan kita temui orang yang berdeda?" tanya Dandi. "Soalnya kata karyawan kita, orang yang ingin kerja sama juga ingin berttemu sekitar jam tiga, di tempat usaha yang kedua. Kamu sendiri gimana, San?"

__ADS_1


"Aku malah nggak tahu. Orang dapat telfonnya dari karyawan disini, ya aku pikir ketemunya akan disini," jawab Sandi. "Nanti aku tanya sama karyawannya." Sandi lantas memanggil salah satu karyawan yang semalam menelfonnya. Karyawan itu mengaku dia lupa memberi tahu kalau orang yang ingin mengajak kerja sama ingin memang ingin bertemu sore ini jam tiga di tempat usaha pertama tiga pemuda.


"Loh, makin aneh aja nih. Masa ada orang ngajak kerja sama barengan gitu?" kening Dandi sampai berkerut karena dia merassa janggal dengan kabar yang baru saja dia dengar.


"Iya, San, aku ngerasa aneh," ucap Randi. "Apa ini hanya tipuan?"


"Ya, daripada kita bertanya tanya, mending nanti kita tetap temui aja sesuai keiginan mereka masing masing. Yang penting kita jangan sampai setuju terlebih dahulu sebelum mereka bertemu dengan kita bertiga," ucap Sandi.


"Benar juga sih. kita memang harus mencari kebenarannya dulu," ucap Randi. "kalau ini hanya akal akalan saja ya harus kita tindak."


"Apa jangan jangan ini rencannya Rusdi?" tanya Dandi. "Aneh aja loh, tiba tiba ada tiga orang pengin ngajak kerja sama dan mau membuka cabang usaha kita. Dari dulu nggak pernah ada kan?"


"Nah, masuk akal tuh. Jangan jangan ini memang ulahnya Rusdi," seru Randi.


"Ya udah, apapun nanti yang terjadi, kita selidiki dulu aja. Kalau memang benar, ini ulah Rusdi, berarti kita memang harus memberi dia pelajaran," ucap Sandi.


"Kamu masih nyimpen kelemahan Rusdi kan, San?" tanya Randi.


"Tentu saja masih. Awas aja, kalau dia masih berani ngusik hidupku, aku bakalan melempar kotoran ke wajahnya."

__ADS_1


...@@@@@@@...


__ADS_2