
"Udah lah, mending tidur, nggak perlu bicara yang aneh aneh," ucap Arimbi kepada pria yang kini menjadi suaminya. Wanita itu merasa gemas setelah mendengar pemikiran konyol yang keluar dari mulut pria, yang sedang memeluknya dengan erat. Arimbi lantas memejamkan matanya kembali.
"Kalau kita bicara yang enak enak gimana? Kamu mau nggak?" pertanyaan Sandi tentu saja kembali membuat Arimbi tertegun. Mata wanita itu bahkan sampai terbuka kembali karena pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya membuat wanita itu kembali merasakan ketegangan. "Boleh aku bertanya, Mbi?"
"Tanya apa?" ucap Arimbi pelan. Suaranya nyaris tak terdengar. Untung saja suasana kamar saat itu begitu sunyi, jadi suara lirih yang keluar dari mulut Arimbi masih bisa didengar oleh pria yang terbaring di belakang tubuh wanita itu.
"Apa sejak kita berpisah, kamu tidak merindukan sentuhan laki laki? Kamu kan wanita yang pernah merasakan nikmatnya sentuhan pria, apa pernah terlintas dalam pikiran kamu, kalau kamu merindukan sentuhan itu?" Entah sudah berapa kali, Arimbi menunjukan rasa terkejutnya atas pertanyaaan dan sikap Sandi. Kali ini Arimbi juga kembali dibuat terkejut oleh pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya.
Jika boleh jujur, apa yang dipikirkan Sandi tentu saja benar, Arimbi wanita dewasa dan dia sudah pasti merindukan sentuhan seorang pria. Namun karena sudah memiliki anak diluar nikah, menjadikan hal itu sebagai benteng Arimbi kalau dia tidak mau disentuh oleh lelaki sebelum ada kata sah yang keluar dari mulut para saksi, sebagai tanda kalau pria yang menyentuhnya adalah seorang pria yang sudah menjadi suaminya.
"Kok diem?" Sandi mengeluarkan suara pertanyaan lagi. Melihat diamnya Arimbi semakin membuat pria itu penasaran. "Apa kamu malu untuk mengakuinya?" tanya Sandi lagi sambil tersenyum nakal.
"Apaan sih, Mas. Udah malam, tidur napa?" sungut Arimbi mendadak merasa kesal.
__ADS_1
"Baru juga jam sembilan lebih sedikit, orang secapek apapun aku biasa tidur malam," jawab Sandi sedikit berdusta. "Gimana, kamu pernah nggak? Merindukan disentuh oleh laki laki?"
"Emang perlu aku menjawab pertanyaan seperti itu?" Arimbi malah melempar pertanyaan dengan ketus.
"Ya perlu dong," jawab Sandi cepat. "Kalau aku sebagai lelaki, sudah pasti sering merindukan menyentuh wanita. Apa lagi kalau lihat yang mulus mulus dan bening bening, pengin banget aku menikmatinya. Tapi beruntung, imanku terlalu kuat, jadi ya aku masih bisa menahan diri."
"Nggak mungkin," ucapan Arimbi malah terdengar meragukan. "Nggak mungkin kalau cowok nakal kayak kamu nggak menyentuh cewek lain?"
"Eh, Serius," balas Sandi dengan yakinnya. "Celup sana sini memang enak. Tapi kan aku nggak mau nanggung resikonya. Lagian ya, pernah terpikir juga sih dengan apa yang aku lakukan sama kamu. Bukannya aku sedari dulu tidak menyesal karena pernah menolak Reyhan. Sebenarnya aku menyesal, Mbi."
"Aku kan nggak tahu kalau kamu pergi dari rumah. Lagian dulu aku sepengecut itu sampai nggak berani datang ke rumah kamu. Yang semakin membuat aku menyesal itu, aku begitu bodohnya mengikuti saran Rusdi hanya gara gara aku kecewa ditolak oleh kamu."
Arimbi sontak berdecih. "Cihh, nggak tahunya, dia mau melakukan apa saja, asal bisa selalu bersama kamu. Gimana, rasanya, tubuh kamu dinikmati oleh cowok?" tanya Arimbi. Wanita itu juga sudah tahu tentang Rusdi dan cerita yang terjadi antara Rusdi dan suaminya.
__ADS_1
"Hih! Ya jijiklah. Aku aja sampai mandi kembang setelah mendengar cerita dari Dandi dan Randi. Tapi kan isi celanaku belum sempat dinikmati oleh Rusdi. Baru dada doang."
Arimbi kembali tersenyum tipis. "Harusnya kamu nggak boleh gitu, Rusdi kan pernah membuat kamu menodai aku. Harusnya karena kamu kecewa sama Rusdi, kamu menodai dia juga. Kan adil tuh."
"Enak aja," Sandi langsung membantahnya dengan lantang. "Aku masih normal kali. Masih doyan sama lubang kamu."
"Ya kan mungkin aja lubangnya Rusdi lebih enak daripada lubang cewek," Arimbi malah semakin antusias untuk meledeknya.
"Enak apaan, yang ada batangku bau boker nanti," sungut Sandi. "Enakan lubang kamu, meski bau asam, bau keringat, tapi bikin ketagihan. Duh, jadi kangen sama bau lubang kamu, Mbi. Kamu kangen nggak sama bau asam batangku?"
Sebuah pertanyaaan kembali meluncur dan peetanyaan itu tidak bisa dijawab oleh Arimbi. Wanita itu memilih diam. Namun tak lama kemudian, Arimbi merasa ada sesautu menempel pada pantatnya. Arimbi tahu banget, benda apa yang menempel pada tubuh bagian belakang. Arimbi pun seketika menjadi resah. Tak lama kemudian, Arimbi juga merasakan benda itu bergerak, menggesek gesekkan ke bagian tubuh miliknya.
"Sayang," suara Sandi sudah terdengar begitu berat. "Kita lakukan sekarang ya? Aku kangen."
__ADS_1
...@@@@@@...