
"Wuih, banyak benar jusnya, Dan!" seru Sandi begitu melihat sahabatnya datang dan menunjukkan dua kantung plastik yang dia bawa. "Reyhan mau minum jus nggak?" tawar Sandi pada anaknya dalam gendongan. Bocah itu dengan antusias mengangguk dan terlihat senang dengan tawaran dari ayahnya.
"Reyhan mau jus apa? jeruk, jambu, mangga atau buah naga?" kini Dandi yang memberi penawaran sambil menata jus di lemari pendingin bersama minuman lainnya yang telah disediakan.
"Wah, sepertinya seger banget nih jusnya, Mas bos? Harga jualnya berapaan itu," salah satu karyawannya juga ikut memberi komentar sambil memperhatikan Dandi manata jus jus tersebut.
"Lima ribu, nanti harganya dicatat di buku minuman ya? Biar kalian tidak lupa," ucap Dandi memperingati dan dua karyawan yang mendapat jatah kerja pagi langsung mengiyakan perintah salah satu bosnya. Sementara itu Reyhan merengek minta jus mangga, dengan sigap, Dandi menyerahkannya pada Sandi dan pria itu membantu memegangi jus buah yang sudah tertancap alat penyedotnya.
"Aku pikir, Rianti nggak akan mau ngisi jus di tempat kita," ucap Randi yang baru saja bergabung di tempat bagian depan, dimana lemari pendingin itu berada. "Apa dia sudah nggak marah sama kamu, Dan?"
Sebelum menjawab pertanyaan temannya, Dandi memilih tersenyum sembari menyelesaikan pekerjaannya. Tak butuh waktu lama, begitu selesai dia bangkit dan beranjak menuju dapur. "Awalnya juga dia membatalkan. Tapi berkat seorang pria yang ada di toko itu, dengan sangat terpaksa, Rianti akhirnya mau membuat jus untuk stok warung kita."
"Seorang pria? Siapa?" tanya Randi lagi.
__ADS_1
Dandi mengangkat kedua pundaknya. "Aku tidak tahu, tapi sepertinya pria itu menyukai Rianti."
"Loh, kok bisa?"
"Ya bisa lah. Dilihat dari sikapnya juga aku tahu kalau pria itu menyukai Rianti. Tadi pas aku pulang pun, orang itu masih berada di toko buah. Padahal sebelum aku datang, dia juga ada di sana. Benar benar ngeselin."
Sandi dan Randi sontak sedikit terkekeh melihat wajah kesal sahabat mereka. "Yah, ternyata kamu punya saingan juga di sini, kirain aku doang," cibir Randi.
"Eh., kira kira, Ibunya Reyhan ada yang suka nggak ya?" tanya Sandi yang tiba tiba kepikiran kalau Arimbi juga bakalan ada pria yang menyukainya.
"Miris amat ya kedengaranyya," ucap Sandi sembari sedikit mengeluarkan suara tawanya. "Tapi kalaupun benar, aku teermasuk beruntung, tidak memiliki saingan. Tinggal menghadapi Bu Farida aja untuk meminta maaf dan juga restu."
Di saat Sandi baru saja mengakhiri ucapannya, Reyhan tiba tiba berteriak. "Ibu!" Tiga pria yang asyik ngobrol sambil menunggu pembeli, seketika serentak menoleh ke dapan warung. Di sana memang terlihat ada Arimbi. tapi yang membuat ketiga pria itu terkejut adalah, Arimbi tidak datang sendirian. Dia bersama seorang laki laki yang nampak berwibawa. Pria itu sepertinya usianya lebih tua dari Sandi dan kawan kawan.
__ADS_1
"Ayah, aku mau sama Ibu," rengekan Reyhan membuat tiga pria yang tatapannya terpaku ke arah Arimbi langsung mengalihkan pandangan mereka. Sandi pun tersenyum dan menurunkan sang anak dari gendongannya. "Ibu!" Reyhan seketika berlari menghampiri ibunya.
Lagi lagi Sandi dibuat terkejut. Bukan Arimbi yang menangkap tubuh kecil anaknya, tapi pria yang bersama Arimbi langsung menangkap tubuh Reyhan dan menggendongnya. "Pagi pagi kok udah minum es, Jagoan, nanti sakit loh." Sandi semakin dibuat tercengang. Pria itu sepertinya sangat akrab dengan anaknya.
Reyhan sontak tersenyum lebar. "Dibeliin ayah tadi, Om." mendengar kata ayah keluar dari mulut Reyhan, wajah pria itu seketika sedikit berubah. Matanya menatap pria yang saat ini mendekat ke arah keberadaan dirinya, Arimbi dan juga Reyhan.
"Reyhan masih betah disini, kamu udah main jemput aja., Mbi," ucap Sandi sesantai mungkin. Padahal hatinya cukup panas melihat keakraban Reyhan dengan pria yang baru saja dilihatnya. Sandi merasa kalau pria itu akan menjadi saingannya dalam berjuang meluluhkan hati Arimbi.
Arimbi yang sedari tadi diam, nampak salah tingkah mendengar pertanyaan pria yang telah menyakitinya. "Emang apa salahnya kalau aku jemput dia?"
"Ya nggak salah sih, tapi sepertinya kamu tidak suka kalau Reyhan dekat dengan ayahnya."
Interaksi yang terjadi antara arimbi dan sandi tentu saja menjadi perhatian pria yang saat ini sedang menggendong tubuh reyhan. "Jadi ini ayahnya Reyhan," pria itu bergumam dalam hati.
__ADS_1
...@@@@@@@...