
Masih di malam yang sama, di warung milik tiga pria.
"Kalian berkelahi hanya gara gara masalah cewek?" tanya seorang warga yang ikut melerai perkelahian antara Randi dan dua orang tamunya. Bukan hanya satu warga yang terkejut, tapi semua yang menyaksikan sidang itu. Bahkan suara tawa juga menggelegar dari mulut para warga, penuh dengan ejekan.
"Apa kalian nggak malu? Masa berkelahi rebutan cewek?" ejek warga yang lain dan langsung mendapatkan sorakan dari orang orang diksekitar sana.
"Ya kalau aku sih malu, Pak," Randi bersuara dengan nada yang terdengar sangat kesal. "Mereka berdua terlalu pengecut. Masa ada laki laki main perintah dan nyuruh aku agar ngejauhin cewek incarannya. Sedangkan dia sendiri tidak berani mendekati cewek itu, apa namanya bukan pengecut?"
"Yang benar?" tanya salah satu warga, dan Randi dengan sangat yakin langsung mengiyakan. "Astaga! Alasannya apa, kalian nyuruh dia kayak gitu? Memalukan kaum laki laki kalian ini."
"Benar. Masa kalian kalah sama bocil. Anak sekarang aja udah pada berani pacaran dan ngomong cinta ke ceweknya. Contohnya ya anak aku." sontak suara tawa langsung menggema mendengar cerita salah satu warga. "Bener, anakku kelas enam sekolah dasar, sudah sayang sayangan lewat pesan chat. Kalian yang sudah khitan lama, kalah sama anak yang baru khitan satu tahun yang lalu."
Dua pria itu hanya bisa diam. Tentu saja mereka sangat malu karena perbuatan mereka dijadikan bahan olokan para warga. Hingga akhirnya salah satu warga memerintahkan mereka pulang setelah membuat perjanjian. Setelah dua pria itu pergi dengan rasa malu dan kesal, para warga juga ikut membubarkan diri. Randi dan dua karyawannya yang masih ada di tempat langsung bekerja sama membereskan dan merapikan tempat tersebut.
"Kok ada ya cowok kayak gitu?" karyawan wanita masih tidak percaya dengan apa yang dia saksikan belum lama ini. "Bisa bisanya demi cewek, sampai kayak gitu banget."
__ADS_1
"Lah iya, aku aja yang bukan pelakunya, ngerasa malu banget. Kok mereka bisa kepikiran melakukan hal kayak gitu ya?" karyawan laki laki juga ikut memberikan komentarnya.
"Ceweknya kayak apa sih, Mas bos? Apa dia sangat cantik? sampai jadi rebutan gitu?" tanya karyawan perempuan.
"Ya incaran bos kalian itu harus cantik dong. Biar seimbang dengan wajah bos kalian yang sangat tampan ini," Randi berkata dengan sangat percaya diri.
Karyawan wanita sontak mencebikan bibirnya melihat Randi yang terlalu percaya diri, sedangkan Karyawan pria hanya terkekeh.
Sementara itu, di seberang jalan rumah makan tersebut, kejadian yang di alami Randi juga menjadi pembahasan orang orang yang ada di lapak jualan nasi goreng.
"Beneran! Coba tadi kamu ikut lihat pas sidang berlangsung, pasti akan makin heboh tuh kalau tahu kamu adalah wanita yang diperebutkan," jawab Taryo. Karena sedang tidak ada pembeli, jadi dua orang itu memilih duduk di bangku dekat gerobag dagangan mereka.
"Ada ada aja tingkah mereka," balas Eliza dengan mata menatap ke arah seberang jalan di mana warung sunda itu masih buka.
"Berarti keputusan Bapak benar dong, meminta Randi untuk jaga kamu tiap pulang dari sini. cowok itu memang bisa diandalkan," ucap Taryo yang juga memandang ke arah yang sama dengan sepupunya.
__ADS_1
"Perasaan dulu juga nggak gini amat. Tapi sejak ada Randi, kenapa masalah yang terjadi selalu ada aja ya?" keluh Eliza.
"Sebenarnya bukan karena ada Randi, tapi masalah itu ada pada kamu sendiri, Za."
Eliza sontak menoleh dan menatap sepupunya. "Kenapa jadi aku?"
"Kamu nggak buta, kan? Sejak kamu pindah ke sini, berapa banyak pria yang kamu patahkan hatinya coba? Bahkan temen aku, teman Anto, Teman Mas Yitno, kamu tolak juga. Mungkin saja diantara laki laki yang kamu tolak, masih tidak terima dan terus mengejar kamu. Eh, kebetulan aja ada Randi, laki laki dari masa lalu kamu yang sedang mengejar kamu kembali."
"Tapi kan nggak ada yang tahu kalau Randi itu laki laki dari masa laluku?"
"Memang benar nggak ada yang tahu, tapi kamu ingat nggak perbuatan Rudi sama kejadian di pasar kemarin? Bukankah di pasar, sudah banyak yang menganggap kalau kamu sama Randi ada hubungan? Mungkin karena itu, para laki laki yang masih tidak terima atas penolakan kamu, langsung bereaksi."
Eliza sontak terbungkam dengan pikiran yang mencerna ucapan Taryo. Tidak ada yang keluar untuk membantah ucapan dari sepupunya.
"Bener kata Bapak, sepertinya kamu memang harus cepat menikah, biar nggak ada kejadian yang tidak diinginkan, Za."
__ADS_1
...@@@@@...