
Masih di malam yang sama, dan di tempat yang berbeda, dari tiga pria itu berada, nampak seorang wanita sedang duduk termenung di teras depan sebuah rumah. Pikirannya berkelana dengan mata yang menatap lurus ke arah pintu gerbang. Namun pikiran wanita buyar saat tiba tiba terdengar suara yang membuat dirinya terkejut.
"Reyhan belum pulang juga?" tanya seorang wanita yang tidak lain adalah Ibunya Sandi. Wanita itu menghampiri wanita yang usisnya lebih muda darinya. dia nampak terkejut dengan kedatangan ibu Sandi. Wanita muda bernama Arimbi, langsung menoleh, lalu tak lama setelahnya senyumnya terkembang.
"Belum. Tante," jawab Arimbi pelan, karena dia maaih canggung dengan wanita yang telah melahirkan ayahnya Reyhan. "Mungkin mereka masih lama."
Ibunya Sandi lantas tersenyum. "Tante sih yakin, meskipun membawa Reyhan, Sandi tidak akan mudah mendapat maaf dari orang tua kamu. Apa lagi mendapat restu. Jika itu terjadi pada anak Tante, Tante juga akan melakukan hal yang sama kepada pria yang telah merusak anak gadis Tante."
Arimbi pun tersenyum. Mungkin Ibunya Sandi berkata demikian karena dia juga memilki seorang anak perempuan. "Tante tidak membenarkan perbuatan Sandi?" tanya Arimbi
"Tentu saja tidak!" seru Ibunya Sandi. "Meskipun saya orang tuanya, saya sangat tidak membenarkan perbuatan dia dulu. Tapi sebagai manusia, kalau ada orang yang terlihat bersungguh sungguh ingin memperbaiki masa lalunya, ya nggak salah dong kalau tante memberi kesempatan kedua."
Arimbi pun kembali tersenyum lalu melemparkan pandangannya ke arah pintu gerbang. Diamnya Arimbi juga menjadi perhatian bagi Ibunya Sandi. Wanita itu juga melempar pandangan matanya ke arah yang sama dengan Arimbi.
"Tante sedang tidak merayu kamu, untuk memberikan kesempatan kedua pada anak saya, Arimbi," ucapan Ibunya sandi sontak membuat Arimbi tertegun dan kembali matanya menatap wanita itu. "Kamu memiliki hak penuh untuk menolak permintaan Sandi. Biar bagaimanapun kamu sudah dewasa, Tante yakin kamu bisa mengambil keputusan yang sangat bijak untuk hidup kamu dan juga Reyhan."
__ADS_1
Sedangkan di rumah Dandi, Rianti juga sedang duduk sendiri di teras rumah pria itu. Rianti juga penasaran, apa yang terjadi saat ini di rumah orang tuanya. Sambil menunggu kabar dari Dandi, Rianti sedang berkirim pesan dengan sahabatnya yang di kampung yang sibuk mencari tahu tentang kabar terbaru dari Dandi dan Rianti.
"Sepertinya, kamu sedang melakukan obrolan yang sangat seru," celetuk seorang wanita, membuat Rianti sedikit terkejut dan kepalanya langsung menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Seorang wanita yang tak lain adalah ibunya Dandi, tersenyum dan menghampiri Rianti. "Apa Tante menganggu?"
"Tidak, Tante," bantah Rianti sopan. "Kebetulan kami sudah selesai ngobrolnya."
Ibunya Dandi mengangguk beberapa kali, sembari duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. "Sedang berkirim kabar dengan temen?"
"Iya, Tante," jawab Rianti semnbari tersenyum canggung.
"Apa sudah ada kabar dari Dandi?" tanya wanita paru baya itu lagi.
Ibunya Dandi tersenyum tipis. "Pasti dia saat ini sedang disidang oleh orang tua kamu." Rianti yang mendengarnya lantas tersenyum. Apa yang Ibu Dandi pikirkan, sama dengan apa yang ada di dalam pikiran wanita muda itu.
"Tidak semua, orang akan mendapatkan kesempatan kedua dengan mudah. Apa lagi yang dilakukan anak saya sangat fatal. Bukan hanya mempermalukan keluarga kamu, Dandi juga mempermalukan keluarganya sendiri. Bener bener anak bodoh."
__ADS_1
Lagi lagi hanya senyum yang dapat Rianti tunjukan. Wanita itu bingung mau membalas ucapan ibunya Dandi dengan ucapan seperti apa. Rianti lantas menunduk, menatap layar ponsel di tangannya yang sudah berwarna gelap.
"Tante hanya berharap, ada jalan yang terbaik untuk kalian berdua, Nak." Rianti pun menangguk dan mengaminkan dalam hati setelah mendengar kata yang keluar dari mulut Ibunya Dandi saat ini.
Sementara itu di rumah Randi.
"Kamu sedang menunggu Randi pulang?" tanya seorang wanita muda, kepada wanita muda lainnya yang sedang duduk di teras depan rumah juga.
Wanita yang sedang duduk itu lantas menoleh, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari tersenyum. "Enggak, Mbak," jawab wanita itu yang akrab di panggil Eliza.
Wanita yang tidak lain adalah kakaknya Randi lantas tersenyum sembari mendekat dan duduk di kursi yang ada disana. "Nungguin juga nggak apa apa. Emang kamu ngak penasaran dengan hasil yang diperolah adik saya?"
Bukannya menjawab, Eliza malah tersenyum canggung. Dari senyuman itu jelas sekali dapat terbaca kalau Eliza tidak bisa menutupi hatinya, yang juga sangat penasaran dengan yang terjadi di rumahnya malam ini.
"Wajar sih jika Randi saat ini mungkin sedang di sidang orang tua kamu," ucap kakaknya Randi. "Adikku benar benar bodoh, demi cinta, malah berbuat yang aneh aneh."
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...