TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Perdebatan Orang Tua


__ADS_3

Sepeninggal tamunya dari rumah, sepasang suami istri itu nampak masih terduduk di ruang tamu yang cukup mewah. Mereka terdiam dengan pikiran yang berkecamuk hebat, setelah mendengar kabar tentang anaknya yang telah pergi dari rumah sejak beberapa tahun yang lalu. Mereka tidak menyangka kalau anak mereka selama ini justru dalam keadaaan baik baik saja.


Bukannya tidak senang melihat keadaannnya anaknya, tapi orang tua itu justru bersyukur karena anaknya di luaran sana dalam keadaan baik baik saja. Meskipun mereka belum tahu kondisi yang sebenarnya tentang anak mereka, tapi melihat anak kecil yang dibawa tamunya, mereka yakin kalau anak mereka dapat menjalankan kehidupannya yang cukup baik.


Namun yang membuat mereka berpikir cukup keras adalah kenapa anak mereka justru dipertemukan kembali dengan pria yang telah menghancurkan hidup sang anak? Dan jika melihat anak kecil yang sangat dekat dengan tamunya, membuat pikiran lain berkecamuk dan cukup membuat keduanya tidak tenang.


"Apa Arimbi beneran mau menerima cowok brengsek itu, Bu?" setelah terdiam cukup lama, Ayahnya Arimbi pun mengeluarkan suaranya. Paling tidak mereka memang harus berdiskusi mengenai anak mereka.


"Ibu tidak tahu, Pak, tapi dilihat dari sikap cucu kita yang begitu sangat dekat dengan ayahnya, mungkin Arimbi memang sudah menerima Sandi," balas Ibu.


"Apa anak kita bisa semudah itu memaafkan orang yang telah menghancurkan hidupnya? Lagian jika mereka hidup bersama, bayang bayang buruk itu pasti akan selalu menghantui Arimbi kan, Bu?"

__ADS_1


"Menghantui bagaimana, Pak?"


"Begini loh, Bu, menurut, Bapak, nggak mungkin setelah Arimbi dan Sandi hidup bersama nanti, tidak akan ada pertengkaran. Pasti nanti ada saatnya mereka bertengkar dan bisa saja dari pertengkaran tersebut, keduanya mengungkit perbuatan mereka di masa lalu, apa itu tidak berbahaya."


Kening sang ibu berkerut dan pikirannya mencernaa ucapan suaminya. "Tapi kemungkinan yang mengungkit itu Arimbi, Pak."


"Ya pasti Arimbi lah, dia kan wanita sama kayak ibu, suka ngungkit ngungkit kesalahan dimasa lalu jika lagi kesal," bukan bermaksud menyindir, tapi ucapan Bapak cukup membuat istrinya mendengus kesal karena merasa tersindir.


Awalnya Bapak melongo mendengar nada protes yang keluar dari mulut istrinya. Namun setelah mencerna ucapan yang terakhir keluar dari mulut sang istri, senyum pria itu terkembang. "Astaga! Siapa yang lagi nyindir nyindir ibu? Orang lagi memberi contoh tentang Arimbi."


"Sama aja," Ibu menjadi kesal dan dia segera saja bangkit dari kursinya meninggalkan sang suami yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah istrinya menghilang dari pandangan mata, Bapak termenung sendiri di ruang tamu dan memikirkan kembali tentang Arimbi serta keputusan apa yang akan Bapak ambil untuk anaknya.

__ADS_1


Masih di malam yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Sepasang suami istri juga sedang terdiam, begitu tamu mereka telah pergi. Hanya sesekali terdengar suara isak yang keluar dari mulut sang istri karena kabar yang dibawa tamunya cukup mengejutkan. Kedua orang tua itu tidak menyangka, nasib buruk juga hampir saja menimpa anak mereka setelah pergi dari rumah.


"Sekarang Papah dengar sendiri bukan? Kalau satu satunya anak perempuan Papah, memilih hidup sendiri daripada selalu ditekan oleh Papah," wanita yang sedari tadi hanya mengeluarkan sisa sisa isak tangis, akhirnya mengeluarkan suaranya juga.


"Siapa yang menekan Rianti, Mah? Papah nggak pernah merasa menekan anak itu!" Papah kelihatan tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan sang istri kepadanya.


"Papah masih menyangkalnya? Bahkan ketiga anak laki laki Papah selalu papah bela jika mereka berbuat salah. Papah memilih diam, tidak marah sama sekali terhadap Rianti. Tapi setiap Rianti yang berbuat salah, Papah orang pertama yang akan membentaknya, menyudutkannya, dan selalu menyalahkan dia. Alasan apapun yang keluar dari mulut Rianti, selalu dibantah habis oleh Papah, apa papah sebuta itu mata hatinya sama anak perempuan Papah?"


Papah tercengang mendengar sang istri yang nampak sedang mengeluarkan amarahnya yang mungkin terpendam sejak lama. Bahkan kilatan amarah begitu terlihat dari mata merah sang istri yang mulai mengeluarkan air mata kembali.


"Mamah masih sangat ingat, Saat Rianti akan menikah dengan Dandi, Papah selalu menyindir Rianti sampai membuat anak itu tidak nyaman. Dan Papah semakin menyudutkan Rianti saat mereka gagal nikah. Dengan sangat bangga, Papah menunjukan kalau ucapan Papah sangat benar tentang Dandi. Papah tidak mau mengerti perasaan Rianti yang seharusnya mendapat dukungan dari kita. Papah malah terus memakinya, menyindir dan mencibir sampai anak kita benar benar pergi. Bahkan setelah tahu kabar tentang Rianti, papah masih menunjukan keangkuhannya, tidak mau menjenguk. Apa Papah begitu bahagia melihat Rianti hidup susah?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2