TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Kenapa Ada Mereka?


__ADS_3

"Itu kan Randi!" tunjuk Ayunda ke arah pria yang sedang memasuki area dapur. "Kok dia ada disini?" mata kedua teman Eliza langsung menatap wanita yang saat ini sedang menekuk wajahnya.


"Itulah alasannya aku nggak mau datang kesini," ucap Eliza dengan ketus.


"Eh, tapi kamu harus kasih penjelasan dong?" balas Ayunda.


"Betul! Dan kita harus bikin babak belur cocok tampan tapi sialan itu!"


Eliza hanya bisa menghembus nafasnya secara kasar. Dia tahu benar bagaimana dua sahabatnya itu jika sudah membully orang. Sudah dipastikan akan mati kutu. Bukan membully dalam arti jahat, tapi menindak tegas untuk membalas perbuatan seseorang yang telah berbuat salah kepada salah satu dari mereka bertiga. Dulu, Eliza juga sama seperti mereka.


Sambil memesan makanan, Iren juga menitip pesan kepada salah satu karyawannya. Dan pastinya karyawan itu menyanggupi karena dia menganggap kalau tiga wanita itu pasti kenal dengan bos mereka. "Mas Bos, ini ada pesanan, tapi orangnya minta Bos Randi yang mengantar ke mejanya."


Randi yang saat itu sedang menghadap kompor langsung menoleh. "Siapa?"


"Nggak tahu, Mas bos. Mereka cewek dan mereka cantik cantik banget," mendengar ucapan karyawanya, Randi langsung mengedarkan pandanganya ke arah meja pembeli. "Mereka di lantai dua," ucap sang karyawan lagi saat tahu bosnya sedang mencari sosok yang mengirim pesan.


Randi pun tidak mengangguk tapi juga tidak menggeleng. Namun dia menerima kertas yang katanya milik wanita yang tadi menitip pesan kepada karyawam. beberapa menit kemudian, setelah pesanan Eliza dan dua temannya sudah siap, Randi malah meminta karyawannya yang mengantar pesanan tersebut.


"Mas bos!" panggil karyawan yang tadi diminta minta mengantar pesanan.

__ADS_1


Dandi dan Randi sontak saja menoleh. "Loh, kok pesanannya di bawa lagi? Ada masalah?" tanya Randi saat melihat karyawan yang dia suruh membawa kembali pesanan Eliza.


"Mereka minta Bos Randi yang nganterin." jawab si karyawan.


Randi langsung saja mendengus. "Ada ada aja sih! Nggak tahu lagi sibuk apa gimana."


"Udah anter aja. Daripada nanti kita dapat Rating buruk," ucap Dandi yang sebenarnya hatinya sedang tidak baik baik saja sejak nenerima sindiran yang dia terima oleh sepupunya Rianti beberapa saat yang lalu.


Tanpa membalas ucapan Dandi, dengan wajah yang terlihat kesal, Randi mengambil alih nampan dari karyawannya, dan mengantarkan ke lantai dua. Begitu sampai di lantai dua, mata Randi membelalak saat melihat tiga wanita duduk di salah satu kursi yang nomernya tertera di kertas pesanan.


"Mampus aku!" umpat Randi. Mau tidak mau dia harus mengantar pesanan untuk tiga wanita dimana dua diantaranya sudah menunjukan senyum yang sangat menakutkan.


"Hai," sapa Randi, sembari meletakan satu persatu pesanan ketiga wanita itu.


"Mau kemana? Duduk dulu sini," Iren yang melihat Randi berdiri dan akan pergi setelah selesai mengantar pesanan langsung mencegahnya.


"Maaf, aku lagi agak sibuk. Selamat menikmati ya?" tolak Randi dengan halus dan ramah meski hatinya agak panik.


"Mau duduk dulu, atau aku bikin keributan dibawah," ancam Iren dan hal itu sukses membuat Randi yang memang sudah mengenal tabiat mereka, langsung mematung. "Kalau mau kita bikin keributan, ayok! Kita turun bareng."

__ADS_1


"Oke! Aku akan duduk, tapi sebentar, aku ke kamar dulu, manggil temanku." Setelah mendapat kode kalau Randi dipersilakan, pemuda itu melangkah menuju kamar untuk memberi tahu Sandi yang sedang berada di dalam kamar bersama keluarganya.


"Reyhan sama tante Sandrina dulu ya? Ayah mau ke bawah itu, banyak pembeli," ucap Sandi begitu Randi telah memberi tahu tujuan memanggilnya.


"Nggak mau," anak itu semakin mengencangkan pelukan di leher ayahnya. Reyhan sedari tadi sangat susah dibujuk untuk ikut keluarga Sandi yang terlihat bisa menerima dengan baik anak tak berdosa tersebut sebagai bagian dari keluarganya.


"Tante Sandrina mau ngajakin Reyhan main mobil remot di taman kota itu? Masa Reyhan nggak mau?"


"Wah! seru tuh main mobil remot! Yuk main sama tante yuk."


"Nah, tuh, Tante ngajakin. Nanti setelah main mobil remot, Reyhan dibeliin jajan dan mainan yang banyak sama tente, ya Tante ya?"


"Nah iya, nanti Eyang juga beliin mainan buat Reyhan, Gimana?" Mamah ikut membujuk cucunya. Sedangkan Papah hanya diam saja meski dirinya juga senang melihat cucunya, tapi hatinya masih kesal dengan kelakuan anaknya.


Mendengar kata mainan dan jajan, Reyhan langsung berubah sikap. Bahkan pelukan dileher ayahnya pun dia lepaskan. "Beli tayo ya, Yah?"


"Oke, Reyhan mau apa aja, pasti Tante belikan," Sandrina yang menjawabnya, dan akhirnya anak itu luluh, mau bermain sama keluarga yang seharusnya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2