TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Lagi Lagi Ada Gangguan


__ADS_3

"Ayo dong, Za, naik sini," Randi memohon kepada wanita yang saat ini sedang marah kepadanya karena ucapan keluar dari mulut Randi sendiri. Wanita itu terus melangkah tanpa mempedulikan rengekan Randi yang menuntun motornya mengikuti wanita itu. "Ayo naik. Nanti kalau kamu pulang kemalaman Paman bisa marah loh."


Seketika wanita bernama Eliza menghentikan langkah kakinya dan menatap tajam pria yang mengikutinya. "Emang kenapa kalau Paman marah, hah! Emang kenapa?" Eliza malah semakin menunjukkan kemarahannya, membuat Randi nyali sedikit menciut. "Emangnya yang diijinkan marah hanya Paman dan kamu saja, hah! Emangnya aku nggak boleh marah apa gimana?"


"Ya bukan gitu, Za," Randi malah gelagapan. "Kamu naik motor yuk. Nanti kamu terusin marahnya di rumah."


"Kamu itu sama aja kayak yang lain ya, egois! Emangnya aku nggak punya perasaan apa gimana? Seenaknya main main paksa!"


"Astaga, Za! Jangan teriak teriak, nggak enak, nanti ada yang dengar," Randi malah kelihatan salah tingkah dan kelabakan sendiri. "Iya, maaf, aku nggak akan kayak gitu lagi. Udah ya marahnya nanti lagi, kamu naik motor, ayok."


Eliza tak peduli. Dia kembali melangkahkan kakinya sampai Randi mau tidak mau harus mengikutinya. Kalau jalan kaki, memang jarak ke rumah Eliza terlihat cukup jauh. Soalnya kalau naik motor sekitar lima sampai sepuluh menit dengan kecepatan sedang saja sudah sampai. Randi pun masih terus berusaha membujuknya.


"Sebentar lagi kita melewati pemakaman loh, Za," ucapan Randi seketika langsung membuat langkah kaki Eliza berhenti. Randi sendiri berusaha untuk tidak tersenyum meski itu sangat susah. Di saat Eliza meilirik tajam, Randi mengalihkan pandangannya ke arah lain. Randi tahu, wanita itu pasti sedang merasa takut.


"Mau naik atau masih mau jalan kaki? Aku akan temani kok, tenang aja," tawar Randi yang memang tahu kalau wanita itu pasti akan sangat gengsi jika berubah pikiran. Mau naik motor lagi, tapi sedang dalam keadan marah. Mau lanjut jalan kaki, tapi tepat di sisi kiri Eliza, pemakaman umum itu berada. Apa lagi pemakamannya cukup luas dan gelap. Pohon pohonnya juga tinggi tinggi. Eliza jadi dilema, dan Randi tahu itu.

__ADS_1


"Naik motor aja ya? Biar cepet sampai?" bujuk Randi lagi, dan bujukan itu memang sedang ditunggu Eliza. Dengan segala rasa malunya dan tetap memasang wajah ketus, Eliza kembali naik ke motor. Randi sendiri senyumnya terkembang dan langssung menyalakan mesin motornya.


Di saat bersamaan, dari arah berlawanan terlihat beberapa motor mendekat. Randi pikir motor itu hanya lewat, tapi ternyata mereka berhenti dan menghalangi motor pria itu. Kening Randi dan Eliza sontak berkerut. Entah siapa lagi orang yang ingin membuat masalah dengan Randi, yang jelas pria itu siap untuk menghadapinya, meski lawannya lebih dari satu.


Randi memundurkan motornya untuk mengambil arah lainnya, tapi salah satu pemotor langsung bergerak dan kembali menghalangi motor Randi. Motor mereka benar benar melintang menghalangi jalan dari dua arah.


"Kalian siapa sih? Kurang kerjaan banget!" sungut Eliza kepada enam pria yang menaiki tiga motor. Mereka menggunakan helm jadi wajahnya kelihatan. "Jelas banget tuh, tampang tampang pengecut, beraninya keroyokan."


"Hust! Jangan ngomong kayak gitu. Mereka paling salah satu korban cinta kamu," ucap Randi agak lirih.


"kalau berani ya jangan main keroyokan!" Eliza malah yang menjawabnya dengan lantang. "Mana ada cewek yang suka sama cowok tapi mainnya keroyokan kayak kalian. Aku aja nggak sudi."


Ucapan Eliza tentu saja sangat menjatuhkan harga diri keenam pria itu, dan salah satunya orang yang memimpin penghadangan. Jelas sekali kalau pria itu sakit hati mendengar ucapan Eliza yang begitu lantang.


"Gimana, nih? Kita jadi serang nggak?" salah satu dari mereka berbicara lirih kepada pria yang dianggap pemimpin dari perbuatan yang sedang mereka lakukan.

__ADS_1


"Harus jadi dong," rekan yang lain memprovokasi. "Kita udah direndahin kayak gitu. Kita harus kasih pelajaran pada wanita yang sok cantik itu."


Sementara itu di pihak Randi. "Sepertinya aku akan berkelahi lagi," gumamnya tapi masih bisa di dengar oleh Eliza.


"Hati hati, aku sedang menghubungi paman dan juga Taryo untuk segera ngirim bantuan," jawab Eliza yang memang sedang mengetik sesuatu di balik punggung Randi.


"Kenapa di kampung sini banyak orang pengecut sih? Heran aku," Randi emnggerutu sembari bersiap siap turun dari motor.


Sedangkan di pihak musuh, mereka masih berunding dengan mata terus menatap ke arah target. "Sesuai rencana aja. Empat orang menyerang pria itu dan mengalihkan perhatiannya, aku dan Dodi yang akan menangani Eliza. Paham."


"Paham dong!"


"Ya udah kalian serang dia sekarang!"


"Oke!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2