
"Ayah!" teriak anak kecil yang baru saja turun dari motor dan langsung berlari masuk ke dalam rumah makan. Kedatangan anak itu, tentu saja menjadi pusat perhatian bagi orang orang yang ada disana. Banyak juga yang memandang gemas melihat tingkah anak itu. Bahkan karyawan rumah makan yang mengenal anak itu meledeknya dengan cara menghalangi langkah bocah tersebut.
"Awas! Reyhan mau sama Ayah!" bocah itu berbicara dengan bibir mengerucut, kepada karyawan laki laki yang menghadang langkah anak itu.
"Ayah Reyhan nggak ada. Ayah sedang pergi," ledek si karyawan.
"Itu Ayah!" tunjuk Reyhan yeng memang sudah melihat ayahnya sedang tersenyum kepadanya tanpa beranjak dari tempat duduk. Bocah itu berusaha memberontak agar lepas dari pelukan karyawan itu. "Awas, Om, Reyhan mau sama Ayah."
"Iya, iya," si Karyawan menyerah. Lalu dengan gemas dia mencium bocah yang memang sudah akrab dengannya lalu melepaskan anak itu. Reyhan langsung saja kembali berlari menuju ke tempat Ayahnya berada.
Sandi saat itu langsung berdiri didekat celah yang dijadikan pintu masuk ke area dapur untuk menyambut anaknya agar tidak masuk ke dapur. "Ih, anak Ayah udah wangi," ucap Sandi saat anaknya sudah dalam gendongan dan menciumnyaa beberapa kali.
"Iya, karena Reyhan mau ikut ayah ke kota," ucapan Reyhan tentu saja membuat Sandi tertegun.
"Reyhan tahu darimana kalau Ayah mau ke kota?" tanya Sandi, lalu menatap Arimbi yang masih berada di atas motor. Entah apa yang sedang dilakukan wanita itu sehingga tidak mau masuk saat mengantar Reyhan.
"Ibu," jawaban yang keluar dari mulut Reyhan langsung membuat Sandi memutuskan melangkah menemui Arimbi. Dandi dan Randi yang saat itu baru saja selesai membuat pesanan milik pembeli, hanya bisa menatap Sandi tanpa tahu apa yang tadi dikatakan Reyhan karena cukup berisik.
__ADS_1
"Kamu ngomong ke Reyhan kalau aku bakalan ke kota?" tanya Sandi begitu dia sudah berdiri di dekat Arimbi berada. "Nanti kalau dia rewel nyariin aku gimana, Mbi? Mana kamu pakai bohong lagi sama Reyhan."
"Bohong? Apa maksudnya?' tanya Arimbi yang terlihat cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Sandi.
"Ya itu, katanya Reyhan mau ikut aku ke kota. Nanti dia beneran mau ikut gimana?" ucap Sandi dengan wajah agak kesal. Sedangkan Reyhan terus bergerak minta turun. Sandi pun melepaskan sang anak dari gendongan dan meminta salah satu karyawan untuk menjaganya. "Seenggaknya sama anak jangan bohong lah, Mbi. Kasian dia."
"Siapa yang bohong? Orang Reyhan mau ikut kamu ke kota," balas Arimbi tanpa mau menatap pria di hadapannya. Sandi sendiri langsung ternganga dan merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Kamu serius? Ngijinin Reyhan ikut aku ke kota?" tanya Sandi guna memastikan ucapan Arimbi. "Aku padahal mau minta izin bawa Reyhan, tapi takutnnya kamu melarang."
"Ya bukan Reyhan aja yang ikut. Aku juga akan ikut," ucapan Arimbi kembali membuat Sandi tertegun.
"Emang kamu pikir aku tukang bohong kayak kamu?" sungut Arimbi. "Aku datang kesini karena mau menyampaikan hal ini sama kamu, kalau aku dan Reyhan ikut ke kota bareng kamu."
Senyum Sandi seketika merekah dengan lebar. "Wahh! Baiklah. Besok kita berangkat pagi sekitar pukul sembilan," ucap Sandi dengan semangat dan hati yang bahagia.
"Ya udah, aku mau pulang dulu. Titip Reyhan," pamit Arimbi.
__ADS_1
"Beres!" jawab Sandi antusias. Begitu Arimbi pergi, Sandi langsung saja kembali masuk ke dalam dan meraih tubuh anaknya kembali. "Yee! Besok Reyhan ketemu sama Eyang!" seru Sandi sambil duduk di kursi dekat meja pembatas.
"Ketemu sama Eyang?" tanya Randi dengan kening berkerut. Dia dan Dandi cukup terkejut mendengar seruan Sandi tadi. "Reyhan besok ikut ke kota apa gimana?"
"Bukan Reyhan aja, Ibunya juga ikut," jawab Sandi dengan wajah terlihat ceria.
"Lah, kok Arimbi ikut juga? Apa dia juga pengin ngomong tentang kalian sama orang tuanya juga?" tanya Randi lagi dengan rasa terkejut yang semakin bertambah. Pertanyaan yang keluar dari mulut Randi juga mewakili Dandi yang juga sama terkejutnya.
"Mungkin saja Arimbi sudah berubah pikiran. Lagian kapan ada kesempatan lagi, bukan? Jika ada Arimbi, aku juga semakin yakin untuk menemui orang tuanya," ucap Sandi.
"Ya syukurlah. Akhirnya Arimbi ada perubahan juga sama kamu," ucap Dandi.
"Lah, emang Eliza dan Rianti masih sama sikapnya sama kalian?"
"Kalau Eliza kayaknya masih sama. Masih jutek gitu sama aku," jawab Randi.
"Kalau Rianti sih sudah nggak terlalu. Apa lagi kita sudah dua kali tidur bareng dan semalam, kita ngobrol banyak," jawab Dandi. Dan di saat bersamaan, ssalah satu ponsel dari mereka berbunyi, bertanda ada pesan yang masuk. Salah satu dari mereka memeriksa ponselnya dan matanya membelalak saat membaca pesan itu.
__ADS_1
...@@@@@...