TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Tiga Wanita


__ADS_3

Lalu lalang kendaraan malam dan bisingnya kendaraan tak membuat goyah seorang wanita yang sedang hanyut dalam lamunan. Mata wanita itu memandang ke arah jalan tapi pikirannya tertuju pada satu nama dan segala ceritanya. Wanita itu tidak menyangka akan bertemu dengan pria dari masa lalunya.


Pluk!


Sebuah tepukan melayang, mengenai pundak si wanita yang sedang melamun. Tepukan yang mengejutkan sampai membuat wanita itu tersadar dari lamunan. Dia menoleh dan melihat seorang pria tersenyum kepadanya sembari duduk pada kursi plastik yang ada di daerah tersebut.


"Lagi ngelamunin siapa? Cowok yang tadi duduk di sini?" tanya si lelaki.


Wanita bernama Rianti langsung mendengus dan melirik sinis. "Sok tahu!"


"Hahaha ..." pria itu terkekeh. "Sepertinya cowok yang tadi mengenalimu, tapi kenapa kamu malah cuek?"


"Ya mending cuek kan? Biar dia langsung pergi? Ngapain harus ramah?"


Pria itu masih terkekeh walaupun suaranya tidak sekeras tadi. "Apa kamu takut kalau pria itu akan memberi tahu orang tua kamu menengai keberadaanmu?"


Rianti terdiam, lalu kepalanya tergolek di atas meja. "Aku sudah di buang, Mas. Orang tuaku sudah tidak peduli lagi sama aku."


Pria itu diam. Meski pria itu tidak tahu apa yang terjadi pada Rianti, namun pria itu yakin, masalah yang terjadi pada wanita itu bukan masalah yang sederhana. Pria itu bangkit dan hendak beranjak.


"Lain kali jangan sayang sayang sembarangan sama cowok lain. Nanti ada orang salah paham gimana? Bisa bisa hancur rumah tanggaku," sungut pria itu lalu dia beranjak. Sedangkan Rianti terkekeh sejenak sembari mengucap maaf, lalu terdiam dan melamun lagi.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di warung tenda jualan nasi goreng dan sebagainya, seorang wanita juga nampak melamun di atas kursi dekat gerobag. Sejak ketemu pria dari masa lalunya, fokus jualan wanita bernama Eliza jadi buyar dan terbagi. Bahkan saat ada pembeli, Eliza sesekali terlihat tergagap.

__ADS_1


"Za," panggil seorang pria yang baru saja menyelesaikan pesanan salah satu pembeli.


"Hum," sahut Eliza tanpa mau menoleh.


"Lihat tuh di atas!"


"Atas mana?" wanita itu mendongak.


"Di atas lantai dua ruko seberang jalan," Eliza sontak mendongak ke arah yang ditunjukkan pria disebelahnya. "Cowok yang tadi lagi lihatin kamu tuh."


Eliza sontak mendengus dan melirik tajam pada pria tersebut. "Apaan sih? Nggak lucu!" sungutnya.


"Hahaha ... siapa yang lagi ngelawak? Orang lagi nunjukin," bantah si pria. "Tapi sepertinya dia kenal sama kamu, Za? Apa dia berasal satu kota dengan kamu? Atau dia kenal dengan orang tua kamu?"


"Jangan bohong! Atau kamu takut ketahuan orang rumah kalau kamu berada disini?"


Eliza menghembus nafasnya secara kasar. "Kalaupun orang tua aku tahu aku ada disini, apa pengaruhnya? Kan aku udah nggak dianggap anak?"


"Nggak mungkin, mereka pasti sebenarnya kangen sama kamu, Za."


Eliza sontak tersenyum kecut. "Kalau kangen mungkin aku sudah dicari. Mereka bahkan tidak mencariku sama sekali. Sudahlah jangan ngomongin mereka lagi, males."


Pria itu terdiam. Dia tahu, Eliza pasti akan selalu marah jika berbicara tentang keluarganya.

__ADS_1


Masih di malam yang sama tapi di dalam sebuah rumah, nampak seorang wanita sedang menepuk nepuk pelan kaki anaknya yang sedang terlelap di atas kasur lantai depan televisi. Mata wanita itu memandang wajah anak laki lakinya, namun pikirannya berkelana kepada pria yang baru saja bertamu di rumahnya. Ada sesak di dalam dada wanita bernama Arimbi kala mengingat sosok laki laki itu.


"Tadi laki laki itu siapa, Mbi? Teman kamu?" tanya wanita paru baya yang duduk di sebuh kursi tak jauh dari tempat Arimbi berbaring.


"Laki laki? Laki laki siapa, Bu?" tanya seorang pria tua yang duduk di kursi sebelah wanita itu.


"Laki laki yang tadi nemuin Reyhan di pasar, Pak. Tadi dia ke rumah," jawab si Ibu.


"Loh kok bisa?" Dia tahu rumah kita darimana?" pria tua itu nampak terkejut.


"Aku juga nggak tahu, Pak, makanya aku tanya sama Arimbi, apa dia kenal? Sepertinya dia juga bukan orang sini. Tampangnya kayak orang kota gitu."


Kening pria tua itu berkerut, sedangkan Arimbi masih terbungkam mulutnya. "Apa dia teman kamu, Mbi? Jangan jangan dia memang dari kota?" terka si pria tua.


"Aku juga mikirnya gitu?" sahut si ibu. "Terus ada lagi loh Pak yang membuatku heran."


"Apa, Bu?"


"Wajah pria itu sama persis dengan wajah Reyhan."


"Hah!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2