
"Ibu kenapa? Kok senyum senyum sendiri?"
"Ketempelan setan kali, Mul. Biasanya nggak keluar malam, eh ini malah keluyuran."
"Sembarangan kalau ngomong," sungut Bu Dibyo kepada anak dan suaminya yang sama sama sedang nonton pertandingan sepak bola di layar televisi. "Ibu itu lagi seneng tahu, Pak. Eh, Mul, kita besok ke rumah Arimbi ya?"
"Hah!" Mulyadi langsung berseru. "Ke rumah Arimbi? Mau ngapain?" tatapan Milyadi terlihat sangat heran.
"Ya ketemu orang tuanya Arimbi," Bu Dibyo makin terlihat semangat.
"Orang tuanya Arimbi? Bu Farida?" tanya Pak Dibyo yang juga merasa heran dengan ajakan istrinya.
"Ya bukan lah," bantah Bu Dibyo. "Orang tuanya Arimbi yang datang dari kota. Tahu nggak Pak, ternyata orang tuanya Arimbi itu pengusaha berlian. Hebat!"
Kening bapak dan anak sontak berkerut dan semakin merasa heran dengan sikap wanita yang ada di dekat mereka. "Ibu tahu darimana orang tuanya Arimbi ada di sini?" tanya Pak Dibyo.
"Ya Mulyadi yang bilang tadi pagi. Nah, barusan aku ngajak Jarwo untuk nganterin Ibu ke rumah Arimbi, tapi orang tuanya malah nggak ada disana."
"Hah! Ibu barusan ke rumah Arimbi?" Mulyadi kembali dibuat kaget. "Ngapain kesana?"
"Ya mau bertemu orang tua Arimbi lah. Kan tadi ibu udah ngomong. Tapi orang tuanya Arimbi malah nggak ada disana. Tapi kata Bu Farida, besok mereka akan datang lagi ketemu sama Reyhan. Maka itu, besok, kamu sama Ibu harus ke rumah Arimbi."
__ADS_1
"Mau ngapain? Ibu mau menghina Arimbi di depan orang tuanya?" jawab Mulyadi dengan wajah sudah berubah. Rasa terkejutnya menghilang dan berubah jadi malas.
"Sembarangan! Ya enggak lah," bantah Bu Dibyo.
"Terus mau ngapain ke rumah Arimbi? Kayak nggak tahu sikap ibu aja ke Arimbi bagaimana?" keluh Mulyadi.
"Mumpung ada orang tuanya Arimbi. Besok kita lamar Arimbi."
"Apa! Ibu nggak salah ngomong?"
"Ya enggaklah. Ibu juga mau berbesan dengan orang kaya. Siapa tahu Ibu bisa dapat berlian dari orang tuanya Arimbi lalu Ibu juga dikenal di kalangan pejabat dan artis."
Waktu terus bergulir dan saat ini pukul sembilan malam telah datang. Berarti ini waktunya Reyhan untuk mengantar Eliza pulang. Berbeda dengan malam malam sebelumnya, jika kemarin Eliza masih sempat melayangkan protes dan kekesalannya karena di jemput Randi, tapi hal itu tidak berlaku di malam ini. Eliza terlihat langsung nurut tanpa ada kata yang menunjukan perlawanan.
"Kamu kenapa, Za? Kok dari tadi diam?" tanya Randi disela sela perjalananya. Sebenarnya Randi merasa aneh bukan hanya saat itu saja. Tadi saat membeli nasi goreng untuk keluarga Sandi, Randi juga merasa sikap Eliza sedang berbeda. Jika kemarin masih nampak ceria dan juga banyak ketusnya, tapi malam ini, bahkan sikap Eliza ke pembeli lain, tidak terlalu ramah. Senyumnya seperti dipaksakan gitu.
"Tidak kenapa kenapa," jawab Eliza pelan, tapi masih bisa didengar oleh pria di depannya. Karena tidak yakin dengan jawaban tang dikatakan Eliza, Randi menghentikan laju motornya. "Ada apa? Kok berhenti?
"Kamu yang ada apa," suara Randi terdengar mendinggi. "Dari tadi aku perhatikan kamu sikapnya beda loh. Bukan hanya ke aku saja, tapi pada orang lain juga. Katakan, ada masalah apa?"
"Nggak ada apa apa, Ran. Ayo pulang," balas Eliza yang hanya bisa menatap punggung Randi.
__ADS_1
"Nggak! Sebelum kamu cerita apa yang terjadi, aku nggak akan nganter pulang. Katakan, apa yang terjadi? Apa ada orang yang mengancammu sampai kamu nggak mau cerita?" meski kesal, Randi berusaha untuk mengontrol amarahnya.
"Nggak ada apa apa, Randi," Eliza pun malah jadi kesal sendiri.
"Cerita atau kita nggak pulang!" Randi masih tidak mau mengalah.
"Kok kamu jadi ngancam ngancam aku kayak gini sih?" suara Eliza malah meninggi. "Kamu udah merasa berhak atas aku apa gimana? Hah! Tanpa bantuan kamu pun, aku bisa pulang sendiri!" Randi malah kelabakan sendiri, sedangkan Eliza langsung turun dari motor dengan segala perasaan yang semakin bertambah rasa kesalnya.
"Za, Elizza. tunggu!" Randi langsung menyalakan mesin motornya dan mensejajarkannya dengan Eliza. "Udah, ayok naik."
"Nggak perlu! Pergi aja kamu sana!" jawab Eliza ketus.
"Za, ayo dong. Jangan kayak gini. Nanti Paman kamu marah?"
Eliza sontak menghentikan langkahnya dan menatap tajam pria yang saat ini masih nangkring di atas motor. "Emang apa masalahnya kalau Paman marah? Emang yang berhak marah cuma Paman, kamu dan semuanya? Aku nggak ada hak untuk marah apa gimana, Hah!"
"Bukan begitu, Za."
"Kamu itu sama aja kayak yang lainnya. Egois!"
...@@@@@...
__ADS_1