TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Sebuah Teror


__ADS_3

Hari kini berganti lagi. Seperti yang sudah direncanakan, tiga pria muda itu, hari ini memilih libur berjualan. Mereka butuh waktu untuk istirahat, melepas segala penat dari kegiatan usaha yang sebenarnya menjenuhkan tapi harus mereka lakukan.


Pagi ini, setelah selesai melaksankan ibadah, ketiganya memutuskan untuk melakukan olahraga di sekitar taman kota yang memang lokasinya sangat dekat. Randi yang ucapannya memang terbukti kalau badannya terasa pegal pegal setelah perkelahiannya semalam, tetap memaksakan diri untuk ikut berolah raga. Biar bagaimanapun mereka memang harus menjaga tubuhnya agar tetap sehat, salah satunya dengan cara berolah raga.


gerakan gerakan kecil mereka lakukan mulai dari lari beberapa putaran mengelilingi taman kota serta melakukan beberapa gerakan senam untuk melenturkan, mengencangkan serta memperkuat otot otot tubuh mereka. Meski mereka sadar apa yang mereka lakukan menjadi pusat perhatian, tapi ketiganya nampak besikap biasa saja, tanpa merasa terganggu.


"San, kamu sudah hubungi para karyawan kalau hari ini kita libur?" tanya Randi saat satu jam kemudian mereka memutuskan untuk istirahat di taman kota tersebut.


"Sudah, tadi, sebelum olahraga," jawab Sandi sembari menyeka beberapa keringatnya.


"Aku malah belum bilang sama Rianti kalau hari ini tidak perlu bikin jus. Nggak punya nomer kontaknya aku," ucap Dandi tanpa ada yang bertanya.


"Loh, emang kemarin kamu nggak minta?" Randi cukup terkejut saat Dandi berkata demikian.

__ADS_1


Dandi sontak menggeleng cepat. "Nggak berani. Lagian belum tentu juga Rianti mau memberi nomer ponselnya."


"Terus nanti kalau dia sudah bikin jus untuk warung kita gimana?"


"Ya kan nanti aku kesana," Dandi mengedarkan pandangangannya, menatap langit yang sudah terlihat sangat cerah. "Apa aku ke toko Rianti sekarang aja ya?"


"Ya mending sekarang aja. Lebih cepat lebih baik," Sandi menimpali. Dan tanpa berpikir panjang Dandi langsung bangkit dan beranjak menuju toko Rianti yang memang letaknya dekat. "Uang hasil penjualan kemarin nggak di bawa?" teriak Sandi.


"Nanti aja!" seru Dandi, dan tak lama kemudian pria itu menghilang dari pandangan kedua temannya. Dandi malangkah dengan santai menuju ke arah toko Rianti. Bahkan toko buah itu sudah terlihat dari keberadaan Dandi saat ini. Kening Dandi berkerut saat matanya melihat sosok yang dia kenal sedang berada di depan toko dengan toko yang belum terbuka sepenuhnya.


Rianti yang melihat kedatangan Randi hanye mendengus lalu sedikit melengos. "Belum."


Dandi nampak menganggukan kepalanya beberapa kali, lalu matanya teralihkan dengan benda yang dipegang oleh Rianti saat ini. "Kamu hari ini ulang tahun?" tanya Dandi begitu saja, tapi pikirannya langsung mengingat sesuatu tentang wanita itu. "Bukankah ulang tahun kamu bukan bulan ini ya?"

__ADS_1


Lagi lagi Rianti hanya menghembus kasar nafasnya tanpa ada niat memberi jawaban pada pria yang saat ini masih sangat dia benci. Wanita itu duduk di atas bangku yang ada di depan tokonya dengan menatap benda kotak yang dibungkus kertas kado. Rianti segera saja membongkar kado tersebut, dan setelah tahu isinya, Rianti malah melempar kado tersebut sembari berteriak. "Akhh!"


Dandi yang sedari tadi memperhatikan tingkah Rianti tentu saja ikutan terkejut dengan teriakan wanita itu. "Ada apa, Ri? Kok kamu teriak?" Dandi langsung mendekat, keningnya sontak berkerut melihat wajah Rianti berubag pucat. Pandangan Dandi langsung beralih ke arah kado yang tadi dilempar Rianti. Dandi mendekat dan memungut kado itu. "Astaga! Ini ..."


Dandi tidak bisa melanjutkan kata katanya saat melihat isi kado tersebut. Sebuah foto yang menampilkan wajah Rianti, diberi tanda silang merah dan ada ancaman di sebelah foto tersebut. "Astaga! Siapa yang berani ngancam kamu seperti ini, Ri? Kamu punya musuh?"


Rianti yang wajahnya ketakutan sontak saja menggeleng lemah. Dandi pun membuang kembali kontak itu dan mendekat ke arah Rianti dan duduk disebelahnya. "Ini, kamu baru pertama kali mendapat teror seperti ini atau gimana?"


Lagi lagi Rianti menggeleng. "Ini ketiga kalinya aku diteror seperti ini," Rianti mejawab dengan suara pelan tapi masih bisa didengar oleh Dandi.


"Ya ampun! Sejak kapan kamu dapat teror seperti ini? Apa teman kamu tahu?"


Rianti kembali menggeleng. "Sejak dua bulan yang lalu."

__ADS_1


Dandi sangat terkejut mendengarnya, tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Sedangkan tak jauh dari keperadaan Dandi dan Rianti, ada sosok yang tersenyum sinis sembari menatap ke arah mereka.


...@@@@@@...


__ADS_2