
Akhirnya kini tiba saatnya bagi tiga pria akan menjalankan misi utama mereka kembali ke kota. Setelah seharian tadi mereka pergi mengecek tiga tempat usaha mereka sembari jalan jalan bersama tiga wanitanya, sekarang saat menjelang petang, tiga pria itu akan menepati ucapan mereka, yaitu menemui orang tua dari wanita yang pernah mereka sakiti di masa lalu.
"Ayah, Reyhan ikut?" rengek bocah yang sedari tadi mengikuti ayahnya kemanapun Sandi melangkah.
"Iya, Sayang. Reyhan sama Ibu dulu, Ayah mau ganti baju, sebentar," jawab Sandi dengan gemasnya karena anaknya sedari tadi benar benar tidak mau lepas dari dirinya. Meskipun begitu Sandi merasa senang juga dengan tingkah Reyhan yang menjadi sangat dekat dengan dirinya.
"Reyhan kalau mau ikut ya jangan rewel. Kalau rewel, Reyhan sama Ibu aja di sini," ucap Arimbi sedikit mengancam. Bukannya Arimbi marah, dia cuma gemas saja dengan anaknya. Karena selama disini, anaknya lebih sering bersama Sandi daripada sama Arimbi
"Nggak mau, Reyhan mau ikut ayah aja. Nanti Reyhan ditinggal," tolak anak kecil itu dengan menekuk wajah, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa gemas.
"Padahal Ibu malam ini mau ke mall sama Tante loh, tapi malah Reyhan nggak mau ikut," Sandrina mulai menunjukan godaannya. "Padahal Tante sama Ibu akan ngajak Reyhan naik kereta, mandi bola, main robot robotan, main semuanya sambil beli mainan dan jajan. Sayangnya Reyhan nggak mau ikut. Ya sudah, kita pergi sendiri ya, Bu?"
Anak kecil yang sedang berdiri di depan pintu kamar ayahnya memandang sang tante dan juga ibunya secara bergantian. Tatapannya begitu serius sampai membuat senyum senyum pada orang dewasa yang melihatnya. "Ibu mau mandi bola?" tanya anak kecil itu.
"Iya lah," Sandrina yang menjawabnya. "Kenapa? Reyhan mau ikut juga?"
__ADS_1
"Ibu di rumah aja, yah? Nunggu Reyhan sama ayah pulang?" seketika suara tawa langsung mengggelar di ruang tersebut. Bahkan Sandi yang sudah siap untuk pergi dan baru keluar, juga ikut tertawa mendengar ucapan anaknya.
"Ibu nggak mau, Ibu mau pergi sama Tante, Wle," Sandrina makin semangat meledek keponakannya.
"Ibu jangan main sama Tante, tante nakal sama Reyhan. Kata ibu, Reyhan tidak boleh main sama anak nakal. Ibu juga jangan main anak nakal," lagi lagi ucapan reyhan kembali membuat suara tawa orang yang ada di sana pecah bersamaan.
"Lah, siapa yang nakal, orang tante sama Ibu baik, ya Bu, ya?" Sandrina membalasnya sambil memeluk Arimbi dan menjulurkan lidah kepada Reyhan.
Reyhan masih menekuk wajahnya dan dia mendongak menatap ayahnya yang berdiri di dekatanya. "Ayah, Tante nakal, dia mau bawa ibu pergi," adu anak itu.
"Beneran, Yah?" Sandi mengiyakan dengan yakin. "Yee, Reyhan juga mau main sama Ayah!" anak itu malah bersorak, membuat senyum terkembang pada wajah orang orang yang menyaksikannya.
Karena takut nanti kemalaman, Sandi pun segera saja pamit dengan membawa Reyhan. Entah apa yang akan terjadi di sana, meskipun hal buruk sekalipun, Sandi sudah siap dengan segala hasilnya.
Sama halnya dengan Dandi dan Randi. Di rumah masing masing, mereka juga sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah orang tua wanita mereka. Mereka juga sedikit merubah rencana mereka masing masing setelah tadi siang, ketiga pria itu bertemu di tempat usaha dan membahasnya lagi.
__ADS_1
"Kamu nggak apa apa? Nggak jadi ikut Dandi ke rumah orang tua kamu?" tanya Mamahnya Dandi ketika Dandi sudah pergi dari rumahnya.
"Nggak apa apa, Tante," jawab Rianti pelan dan sopan. "Setelah dibahas dan dibicarakan, mungkin memang lebih baik Dandi pergi sendiri dulu, biar aku tahu hasilnya gimana."
Mamahnya Dandi nampak manggut manggut. "Maafin anak Tante, ya? Harusnya kamu sudah menjadi menantu Tante, malah Dandi bertingkah diluar nalar." Rianti pun hanya tersenyum sembari mengangguk pelan. "Terus perasaan kamu sendiri ke Dandi sekarang bagaimana? Apa kamu mau menerimanya lagi?" dan Rianti cukup terkejut lalu bingung harus menjawab bagaimana.
Di tempat lain, Eliza juga saat ini sedang duduk bersama kakaknya Randi di taman depan rumah. Awalnya Eliza ingin rebahan di kamar saja sambil menunggu kabar dari Randi, yang telah berangkat untuk menemui orang tuanya, tapi kakaknya Randi malah mengajaknya untuk ngobrol berdua. Eliza jelas merasa tidak enak untuk menolaknya.
"Berarti kamu sudah benar benar memaafkan Randi, Za?" tanya kakaknya Randi disela sela obrolan mereka. "Terus, bagaimana dengan perasaan kamu?"
Eliza lantas tersenyum. "Untuk memaafkan, mungkin sudah, Mbak, tapi untuk perasaan, aku belum tahu harus bagaimana."
kakaknya Randi nampak mengangguk beberapa kali. "Yah, aku tahu rasanya. Tidak mudah memang. Tapi aku harap, semua akan berakhir dengan baik baik saja ya, Za,"
"Iya, Mbak."
__ADS_1
...@@@@@...