
Setelah peristiwa malam itu, Rusdi benar benar tidak bisa bertingkah lagi. Bahkan kebohongan Sandi yang mengaku telah menyebarkan video rekamannya ke beberapa orang, membuat Rusdi selalu bersikap waspada. Di tambah lagi tiga wanita yang pernah dia suruh juga menunjukkan video yang sama membuat Rusdi semakin ketar ketir.
Ternyata rencana Sandi benar benar berjalan dengan sangat lancar. Padahal hanya tiga wanita yang memiliki video yang sama dengan yang Rusdi lihat. Tapi kebohongan yang dikakukan Sandi dan dua temannya, berhasil memancing sugesti Rusdi kalau video tentang perbuatan ranjang yang dilakukan Rusdi telah tersebar ke beberapa orang.
Hingga sampai hari pernikahan Sandi tiba, Rusdi benar benar tidak melakukan tindakan apapun. Pria itu selalu bersikap dingin kepada orang orang yang dia temui dan juga orang orang disekitarnya. Dia takut kalau di sekitarnya ada mata mata dari mantan sahabatnya. Namun, Rusdi juga masih sering melakukan praktek penyimpangannya.
Memiliki uang yang banyak dan juga rumah sendiri, membuat Rusdi bisa dengan mudah mendapat lawan main yang dia inginkan. Apa lagi, sekarang banyak laki laki lurus, yang mau jadi belok demi sejumlah uang. Maka itu, Rusdi bisa menikmati penyimpangannya dengan mudah tanpa rasa khawatir kalau keluarganya akan tahu.
Seiring waktu berjalan, hari pernikahan Sandi kini ada sudah di depan mata. Semuanya sudah siap sesuai dengan yang direncanakan dua keluarga. Masing masing dari mereka nampak sedang mempersiapkan sesgala sesuatunya agar lebih sempurna.
"Nenek!" teriak seorang bocah begitu matanya melihat dua orang yang dia kenal keluar dari mobil yang menjemput sepasang suami istri tersebut. Bocah itu langsung saja minta turun dari pangkuan Pakdenya untuk menyambut dua orang dewasa yang sudah lama tidak dia temui. Mereka adalah Bu Farida dan pak Seno. Kedua orang itu memang diminta untuk datang ke rumahnya Arimbi, menjelang pernikahannya.
"Jangan lari lari, Rey!" teriak pria tua yang baru saja datang, yang tak lain adalah Pak Seno. Pria itu langsung menghampiri anak kecil yang sudah dia anggap sebagai cucunya sendiri, dan langsung menggendongnya begitu anak kecil bernama Reyhan berhasil dia datang.
__ADS_1
"Kakek kok lama datangnya?" tanya bocah yang baru saja mendapat kecupan dari pria yang menggendongnya.
"Kan Kakek harus jualan dulu," jawab Pak Seno. "Kenapa? Reyhan kangen sama kakek dan nenek?" Bocah itu hanya cemberut, membuat dua orang yang sedang berjalan berdampingan tersenyum dengan gemasnya.
Kedua orang itu tentu saja langsung di sambut hangat oleh Arimbi dan keluarga. Suasana haru juga tercipta diantara mereka saat Bu Farida menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Arimbi dulu. Hampir semua wanita yang mendengar kisah Arimbi dari mulut Bu Farida, mengeluarkan air mata karena kisah yang Arimbi alami.
"Terima kasih ya, Bu, sudah mau menerima dan merawat anak serta cucu saya dengan baik," ucap Ibunya Arimbi dengan suara yang bergetar dan isak tangis yang tidak bisa dibendung.
Semua yang ada di sana, nampak tersenyum begitu mendengar ucapan Bu Farida.
"Ya udah, Mbi, antar Bu Farida dan Pak Seno ke kamarnya dulu. Kali aja mereka ingin beristirahat, mereka kan habis melakukan perjalanan yang cukup jauh," ucap Ayahnya Arimbi.
Arimbi pun mengangguk dan dia segera melaksanakan perintah ayahnya. Kini dua orang tua itu berada di dalam kamar yang akan menjadi tempat istirahat suami istri tersebut. "Apa kamu bahagia, nak?" pertanyaan yang kekuar dari Pak Seno, cukup membuat Arimbi tertegun. Wanita itu sontak memandang Bu Farida dan Pak Seno secara bersamaan, lalu dia tersenyum.
__ADS_1
"Doakan saja agar aku bahagia, Pak, Bu. Paling tidak ini semua juga demi Reyhan." jawab Arimbi lembut. Kini ketiganya sama sama duduk di tepi ranjang secara berdampingan.
"Apa kamu belum bisa mencintai Sandi?" kini sebuah pertanyaan keluar dari mulut Bu Farida.
Lagi lagi Arimbi tersenyum. "Urusan cinta, biar nanti tumbuh dengan sendirinya, Bu. Kita kan pernah jalan bareng. Mungkin suatu saat juga rasa itu akan tumbuh. Lagian kan aku sama Sandi udah tua, Bu. Apa masih perlu pake cinta cintaan segala."
Bu Farida malah terkekeh. "Hehehe ... ya kan kamu belum tua tua banget, Mbi. Kecuali kalau kamu sudah seumuruan dengan Ibu."
Senyum Arimbi kembali terkembang. "Intinya Arimbi cuma minta didoakan saja yang terbaik ya, Pak, Bu. Semoga Sandi benar benar berubah dan menjadi laki laki yang bisa dipegang tanggung jawabnya."
"Pasti, nak, kami pasti akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kamu dan Reyhan," ucap Pak Seno, dan ketiga orang itu saling tersenyum mengeluarkan rasa bahagianya.
...@@@@@...
__ADS_1