
Suasana haru dan bahagia, kini juga sedang menyelimuti sebuah keluarga. kembalinya salah satu anggota keluarga yang telah pergi dari rumah itu, menumbuhkan rasa bahagia bercampur haru bagi setiap penghuninya. Baik itu laki laki maupun perempuan, semua berkumpul dalam satu ruangan, menyambut seseorang yang merupakan bagian dari keluarga kita.
"Kamu kelihatan gemukan, Nak? Apa kamu bahagia, hidup jauh dari Ibu?" tanya seorang wanita tua yang sedari tadi menggenggam tangan anak perempuannya yang telah lama pergi dari hidupnya selama tiga tahun lebih. "Anak kamu juga terlihat sangat mengemaskan." dua wanita itu lantas menoleh ke arah bocah kecil yang masih setia dalam pangkuan ayahnya.
"Ya, bukannya bahagia, Bu," jawab sang anak. "Cuma ya bagaimana lagi, kalau larut dalam kesedihan, nanti aku nggak maju maju. Sedangkan aku sudah memiliki anak, Bu."
"Padahal Ibu selalu kepikiran kalau saat ini kamu dalam keadaan susah loh, Mbi," celetuk seorang wanita yang menjadi kakak ipar Arimbi. "Kami juga udah nyari kamu kemana mana loh, Mbi, sampai kami lapor polisi segala. Eh, malah nggak ada hasil."
"Iya, Mbi," kakak kandung Arimbi pun ikut bersuara. "Bahkan kami sering takut dan khawatir kalau ada berita tentang wanita yang sudah menjadi mayat karena kejahatan. Takutnya itu kamu."
Arimbi pun tersenyum cukup lebar. "Maaf, jika aku membuat semuanya khawatir. Alhmdulillah, aku ketemu orang baik di sana."
"Kami udah mendengarnya dari Ibu. Kami juga cukup lega saat tadi Ibu bercerita kalau kamu dan anak kamu diterima dengan baik oleh sebuah keluarga," ucap kakaknya. "Mungkin karena sikap kamu dari dulu baik kali yah, jadi pergi sendiri aja, ketemunya sama orang baik."
__ADS_1
"Tapi hati hati loh, Mbi, kamu harus bisa memilah orang. Ya kita khawatir aja, jika kamu nanti dimanfaatin lagi kebaikannua. Dulu kan kamu juga dimanfaatin sampai kamu punya anak kan? Giliran udah punya anak, cowoknya nggak mau ngaku," kakak yang lain kembali ikut bersuara.
Sandi yang merasa tersindir, hanya tersenyum dengan perasaan yang begitu canggung. Beruntung ada Reyhan yang sedari tadi tidak mau lepas darinya, membuat Sandi bisa menunjukkan kalau dia saat ini bisa terlihat sudah berubah dengan kedekatan dirinya dan Reyhan. Arimbi pun hanya menanggapinya dengan senyuman. Dua wanita, dimana yang satu adalah kakak kandung dan yang satu kakak ipar, memang dari dulu selalu kompak.
"Terus rencana kamu ke depannya gimana, Mbi?" tanya kakak laki lakinya.
"Ya nggak ada rencana apa apa, Mas. Paling, ya ikut membantu Bu Farida seperti biasanya," jawaban yang terlontar dari mulut wanita itu tentu saja membuat terkejut semua keluarganya.
"Kamu nggak akan tinggal di sini lagi?" tanya Ibu.
"Tapi kan Ibu juga butuh dtemani kamu, Nak?" Ibunya Arimbi kembali merasa sedih.
"Di sini kan udah ada Mbak Ratna dan Mas Agung, Bu. Mbak Lia dan Mas Kamil juga rumahnya tidak jauh. Saya harap ibu sama Ayah meridoi Arimbi tinggal di sana, menemani orang tua kedua Arimbi."
__ADS_1
"Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu ya Ayah nggak bisa melarang, Nak. Selama itu memang untuk kebaikan ya Ayah tidak apa apa," jawab pria yang sedari lebih banyak terdiam.
"Terima kasih, Yah, dan maafkan Arimbi karena sering mengecewakan ayah."
"Tidak perlu meminta maaf, Nak. Ayah yang salah," wajah pria tua itu terlihat sendu. "Jika ucapan Ayah dulu tidak terlalu kasar dan keras, mungkin kamu tidak akan pernah kesusahan hidup di luar sana. Bahkan saat kamu melahirkan pun tidak ada keluarga yang menemanimu. Ayah yang sangat berdosa sama kamu, Arimbi."
"Arimbi sudah memaafkan Ayah karena ayah memang tidak salah," ucap Arimbi dengan airmata yang kembali menetes. "Maaf jika kepergianku, membuat Ayah, Ibu dan semuanya kesusahan. Maaf."
"Sudah, Nak, jangan ngomong kayak gitu lagi," ucap sang ibu sambil memeluk anak perempuannya. "Yang penting saat ini kamu dalam keadaan baik baik saja, Ibu sama Ayah sudah senang. Jangan terlalu merasa bersalah ya?" Arimbi hanya mengangguk. Dan untuk sejenak suasana hening menyelimuti ruang tamu tamu tersebut.
"Terus, Mbi, apa kamu di kampung juga akan hidup dengan Sandi?" tanya kakaknya dan keheningan seketika menjadi pecah kembali. "Apa kamu sudah siap menerima pria yang membuat kamu pergi untuk jadi teman hidup kamu?"
Arimbi melepaskan pelukan dari ibunya lalu memandang semua wajah yang ada disana. Wajah wajah itu juga terlihat cukup tegang menunggu jawaban apa yang keluar dari mulut Arimbi, termasuk Sandi.
__ADS_1
...@@@@@@...