TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Salah Paham


__ADS_3

"Mereka siapa?" seorang pria yang hendak berkunjung ke rumah Arimbi, langsung menghentikan laju motornya saat melihat sebuah mobil yang sudah pasti mewah, terparkir di depan rumah Arimbi. Kening pria itu berkerut dengan mata terus menatap tiga orang yang baru saja keluar dari mobil.


"Kenapa Reyhan mau ikut dengan mereka?" gumam pria itu lagi saat melihat anak kecil yang awalnya enggan digendong oleh orang tua laki laki, tapi lama kelamaan anak kecil itu mau ikut juga setelah mendapat bujukan dari orang di sekitar anak itu. Bahkan dua orang lainnya malah berebut ingin memggendong anak kecil tersebut.


Pria bernama Mulyadi masih memperhatikan gerak gerak yang terjadi di rumah Arimbi sampai para tamu itu masuk ke dalam rumah. Bukannya pergi, Mulyadi memutuskan akan mengintai sejenak tamu Arimbi, dari warung penjual gorengan yang letaknya tak jauh dari rumah Arimbi.


"Bu, Ibu tahu nggak, siapa yang datang ke rumah Arimbi?" tanya Mulyadi kepada ibu penjual gorengan setelah ibu itu meletakkan segelas kopi instan pesanan pria itu.


"Nggak tahu, Mas, aku juga baru lihat. mungkin keluarga Arimbi," jawab Ibu penjual gorengan. "Lihat aja, mobilnya bagus begitu."


"Iya sih, mobil mahal itu. di kampung aja cuma ad beberapa yang punya," ucap Mulyadi.


"Jangan jangan Arimbi sebenarnya anak orang kaya raya, Mas. Ya mungkin dia membuat kesalahan karena hamil si Reyhan itu," ucap Ibu itu sambil mencomot gorengan tempe yang sudah dingin dan memakannya.


"Aku pikir juga begitu, Bu," jawab Mulyadi. "Arimbi emang cocok jadi anak orang kaya kan?"


Ibu penjual gorengan nampak mengangguk beberapa kali. "Mending kamu kalau mau sama Arimbi, harus gerak cepat, Mas. Saingan kamu kayaknya berat loh. Aku pernah lihat, pria lain beberapa kali datang bareng Reyhan. Mana Reyhan manggil orang itu ayah lagi."

__ADS_1


Mulyadi sontak tersenyum kecut. Dia menyesap kopinya lalu terdiam dengan pikiran yang berkelana, lalu pria itu menyeringai.


Sepertinya Mulyadi tiba tiba memiliki rencana lain setelah melihat apa yang terjadi di depan rumah Arimbi. Bahkan saat ini, Mulyadi melihat Arimbi dan yang lain pada keluar rumah secara bersama, lalu mereka masuk ke dalam satu mobil. Pak Seno yang paling terakhir masuk karena dia harus mengunci pintu dan memeriksa keadaan rumah sebelum ditinggal pergi.


"Aku sih yakin, Mas, mereka itu keluarga Arimbi. Lihat saja, kalau bukan keluarga, nggak mungkin mereka sehangat itu kepada Reyhan," ucap ibu itu lagi. Karena ucapan tersebut, Mulyadi semakin yakin, dia harus merubah rencananya saat ini. Setelah mobil pergi, tak lama kemudian, Mulyadi juga meninggalkan warung gorengan tersebut.


"Ayah!"


Sandi yang sedang duduk di dekat meja pembatas, dibuat terkejut begitu mendengar suara anaknya berteriak tapi tidak kelihatan wujudnya. Karena suara berasal dari samping kontrakan, Sandi bergegas keluar lewat pintu samping.


"Ayah!" Reyhan kembali memanggil begitu melihat ayahnya keluar dan mendekat ke arahnya. Reyhan hanya melongok dari mobil dan tubuhnya dijaga oleh Sandrina.


"Ayah tidak ikut naik mobil?" pertanyaan Reyhan langsung mengalihkan pandangannya kepada anak itu lagi.


"Ayah tidak ikut, Sayang. Nggak boleh sama Eyang kakung," jawab Sandi terang terangan menyindir ayahnya.


"Ayah tidak ikut karena ayah harus cari uang yang banyak untuk Reyhan. Kan Reyhan mau mainan yang banyak juga?" balas papah nggak mau kalah.

__ADS_1


"Oh iya, Reyhan kan mau mobil remot yang gede," ucap Reyhan agak cadel khas anak kecil lainnya.


"Iya, Iya, nanti beli mobil remot yang gede dan banyak," jawab Sandi kesal karena kalah dengan orang tuanya. Sementara yang di dalam mobil, tak kuasa menahan senyumnya karena sikap Sandi yang mendadak kesal.


"Ya udah, kita berangkat yuk," ucap Sandrina mengajari keponakannya. "Dadah Ayah, gitu, Rey?"


"Dadah, Ayah!" Reyhan langsung menuruti sembari melambaikan tangannya. Sandi hanya tersenyum dengan membalas lambaian tangannya juga. Setelah mobil itu hilang dari pandangan, Sandi kembali masuk ke rumah makannya untuk menunggu pembeli karena masih sepi di pagi ini.


Di tempat lain.


"Kamu kenapa, Mul? Kok jam segini udah di rumah?" tanya Ibunya Mulyadi yang merasa heran melihat kedatangan anaknya.


Mulyadi langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama dengan sang ibu berada. "Habis dari rumah Arimbi, Bu"


"Kamu ke rumah wanita itu lagi?" si Ibu langsung terlihat murka. "Apa yang kamu harapkan dari wanita itu sih, Mul?"


"Ibu tuh sekarang aja marah marah dan ngatain Arimbi, wanita yang tidak jelas. Tapi kalau ibu tahu, Arimbi itu siapa, pasti ibu berubah pikiran."

__ADS_1


"Emang siapa dia?"


...@@@@@...


__ADS_2