
Rasa terkejut juga saat ini sedang ditunjukan dari wajah seorang wanita, saat mendengar ucapan dari pria yang akan menjadi suaminya. Pria yang dulu pernah membatalkan pernikahan itu, kini tengah memberi tahu sang wanita tentang kemungkinan seseorang yang menjadi musuh dan ingin merusak hari bahagia mereka. Yang pasti hal itu sangat mengejutkan bagi wanita itu sendiri.
"Kamu yakin, itu perbuatan Rusdi?" tanya Rianti dengan tatapan masih menunjukan rasa terkejutnya. "Atau jangan jangan kamu punya musuh lain."
Dandi lantas tersenyum sedikit sinis. "Ya, aku sangat yakin kalau itu adalah perbuatan Rusdi. Dia itu bisa melakukan apa saja, asal tujuannya tercapai. maklum, dulu, diantara kami berempat, dia yang paling kaya. Tapi malah dia yang suka semena mena pada kita karena merasa paling berkuasa."
Rianti terlihat beberapa kali mengangguk. "Aku tuh bingung, kalian bertiga itu sebenarnya ada masalah apa dengan si Rusdi itu? Perasaan waktu dulu aku pertama kali dikenalkan oleh kamu dan beberapa kali bertemu dengan Rusdi, dia baik banget sama kalian. Malah hangat banget gitu."
Dandi kembali menyeringai. "Kehangatan dan kebaikan yang dia tunjukkan, semuanya itu palsu. Dia punya maksud tersendiri saat itu. Kamu tahu nggak, semua yang dulu aku lakukan sama kamu itu sebenarnya idenya Rusdi."
"Hah! Idenya Rusdi? Kamu yakin?" rasa terkejut yang ditunjukan Rianti kini semakin bertambah.
Dengan sangat yakin, Dandi mengangguk. "Dulu itu saat kamu menolakku pertama kali, sebenarnya aku sudah mundur dan berniat nyari cewek lain. Tapi Rusdi malah kayak ngomporin gitu. Apalagi dia juga bilang katanya kamu ngerendahin aku kepada teman teman kamu."
__ADS_1
"Hah! Rusdi bilang gitu?" seru Rianti lagi.
Dandi pun kembali mengangguk. "Bahkan, demi membuat aku yakin, Rusdi sampai mau membayar salah satu teman kamu untuk mendukung kebohongannya. Ya otomotis aku percaya dong. Maka itu, dia nyaranin aku untuk terus ngejar kamu. Lalu yang terjadi selanjutnya, kamu lebih tahulah apa yang terjadi diantara kita."
"Astaga!" Rianti benar benar merasa tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia dengar. "Apa Sandi dan Randi melakukan kayak gitu juga semuanya rencana Rusdi."
"Iya, lah," tanpa rasa ragu Dandi menjawabnya. "Kami bertiga itu dulu nggak pernah ada niat berbuat sejahat itu sama kamu, Arimbi dan Eliza. Kami sih menganggap kalau kalian bukan jodoh kami. Eh Rusdi malah ngomporin yang tidak tidak. Sebagai laki laki, kita nggak mau dong harga diri kita diinjak injak. Makanya, di susunlah rencana seperti itu. Nggak tahunya, dia yang ngasih ide, dia juga yang membongkarnya."
Rianti kembali beberapa kali menganggukkan kepalanya. Dia masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja Dandi ceritakan. "Lalu, apa alasan Rusdi membongkar perbuatan kalian?"
"Hah!" pekik Rianti dengan suara yang cukup keras. "Dia belok?" Rianti benar benar tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya kembali. "Bukankah dulu aku pernah lihat beberapa kali Rusdi menggandeng cewek?"
"Yah, jangan kan kamu yang nggak terlalu dekat, aku yang deket aja nggak pernah nyangka. Kamu lihat sendiri kan, dia nggak ada tanda tanda menjurus ke sana. Malah, dulu aku pernah beberapa kali melihat Rusdi main ranjang dengan cewek."
__ADS_1
"Lah terus? Kamu tahu dari mana kalau Rusdi belok?"
Dandi sedikit mendongakan kepalanya sambil mengingat ngingat kejadian untuk menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Rianti. Namun itu hanya sesaat, karena Dandi ingat betul, kapan kejadian yang membuat dia dan dua sahabat lainnya tahu kebusukan Rusdi.
"Waktu itu perayaan pas malam tahun baru. Dengan dalih ngajak kita pesta karena telah berhasil membuat hidup kamu dan dua wanita lainnya hancur, Rusdi ngajak kita main ke villa pribadinya di puncak. Awalnya kita nggak curiga sama sekali. Tapi nggak tahunya, ada salah satu minuman yang dicampur obat tidur dengan dosis yang lumayan tinggi. Kebetulan yang menenggak minuman itu hanya Sandi, aku dan Randi tidak. Sandi otomatis tidur lebih awal tuh. Kami bertiga tidur belakangan. Di saat dia pamit tidur, dia masuk ke kamar dimana Sandi berada. Nah disitulah ketahuan kalau Rusdi itu nyimpang."
"Rusdi sama Sandi begituan? Cowok sama cowok?" Rianti begitu tercengang sampai suara tanyanya keluar lebih tinggi.
"Ya enggak lah," bantah Dandi. "Jadi saat itu, aku ada yang kelupaan menaruh barang di kamar yang ada Sandinya. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung membuka pintu kamar dan aku sangat terkejut, pakaian Sandi sudah dilepas semua dan Rusdi sedang menciumi dada Sandi gitu."
"Astaga!"
"Nah, dari situlah, kita mulai musuhan. Ditambah lagi Rusdi bukannya minta maaf, malah makin bertingkah dengan membongkar semua yang aku, Sandi dan Randi lakukan."
__ADS_1
"Gila!"
...@@@@@@...