TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Ikut Bersandiwara


__ADS_3

"Ada apa, Buk?" tanya seorang pria berpakaian seperti karyawan sebuah restoran kepada wanita yang menjadi tamu di restoran tempat dia bekerja. Wanita itu secara pribadi dan sembunyi sembunyi, memanggil pelayan itu untuk menemuinya di toilet pada restoran yang sama.


"Ada tugas tambahan buat kamu," ucap si wanita sambil membuka tas yang dia bawa. wanita itu tengok kanan kiri dan bersikap waspada karena takut ada yang tahu. Sedangkan di dalam toilet itu sendiri tidak ada cctv, jadi gerak gerik mereka cukup aman. Wanita itu mengeluarkan sesuatu. "nanti taruh bubuk ini di makanan yang akan diantar ke meja saya, ya?"


"Loh, tadi kan saya sudah menjalankan tugas yang Ibu kasih?" tanya pelayan pria itu dengan wajah yang cukup terkejut.


"Pria yang bersamaku memesan makanan lain. Sudah, kamu laksanakan saja tugas tambahan itu dan ini uang buat kamu," wanita itu menyerahkan bungkusan dan sejumlah uang lalu dia pergi begitu saja keluar dari toilet.


"Huft, kalau lagi nggak butuh uang banyak, aku nggak bakalan mau melakukan kayak ginian," gumam sang pelayan, lalu dia juga pergi meninggalkan toilet.


Wanita itu kembali dengan senyum yang lebih ceria. Randi yang pura pura tidak tahu dengan apa yang dilakukan wanita itu hanya membalas dengan senyuman tipis setelah menatap layar ponselnya. Wanita itu lantas bersiap untuk menikmati hidangannya sembari menunggu hidangan pesanan Randi.


Setelah menunggu beberapa saat, hidangan yang dipesan Randi pun datang, dan yang membuat Randi merasa aneh adalah, yang membawa pesanan Randi, adalah pelayan pria yang tadi masuk ke area toilet setelah si wanita itu juga masuk ke toilet. Randi pun sedikit menyeringai lalu mengetik sesuatu karena dia saat itu memang sedang berkirim pesan.


"Wahh! Kelihatannya sangat enak!" seru Randi dengan mata berbinar.


"Enak banget pastinya. Udah nikmatin aja, Mas, selagi masih hangat," si wanita menimpali dengan antusias. Bahkan senyumnya semakin melebar, sebuah senyum yang menandakan kalau rencananya kali ini bakalan berhasil.

__ADS_1


Randi lantas mengiyakan, dan dia bersiap diri untuk menikmati dua hidangan yang mengeluarkan asap sedap itu. Namun di saat bersamaan, ponsel milik Randi berdering, membuat Randi mengurungkan sejenak untuk menikmati makananya dan memilih menjawab panggilan telfon lebih dulu.


"Hallo!"


"Apa!"


"Baik baik, aku segera pulang!"


"Iya! Aku segera pulang ini!"


klik!


"Nggak tahu, tapi aku disuruh pulang secepatnya," ucap Randi sambil membuka tas slempangnya. "Maaf ya, Mbak, sepertinya aku harus pulang. Kita lanjutkan pertemuan di lain waktu aja ya?"


"Loh tapi ini makanannya?"


"Buat, Mbak aja," balas Randi lalu dia menyerahkan sesuatu. "Ini, Mbak, nanti kamu buka aja. Di sana ada kumpulan resep dari rumah makan saya dan ada surat perjanjiannya. Kamu nanti print aja surat itu lalu kamu tanda tangan diatas materai, Mbak."

__ADS_1


Awalnya wanita itu terkejut saat Randi menyerahkan sebuah flasdisk, tapi tak lama setelahnya senyum wanita itu terkembang cukup lebar. "Baiklah. Tapi ini makanananya?"


"Maaf, Mbak, kasih pelayan aja nggak apa apa," ucap Randi lalu dia bangkit dari duduknya. "Maaf banget ya, Mbak, nanti saya hubungi kamu lagi dipertemuan berikutnya, Mbak."


Wanita itu mengiyakan dan dia juga mempersilakan Randi untuk pergi. Tak lama setelah itu, si wanita tersenyum senang sambil menatap flasdisk yang dia genggam. "Bos Rusdi pasti bakalan senang banget nih dapat beginian. Bukankah ini juga bisa menghancurkan restoran pria tadi."


Wanita itu pun bersiap untuk pergi. Sepertinya wanita itu tidak masalah kehilangan sejumlah uang yang cukup banyak untuk harga makanan yang tidak disentuh sama sekali oleh pemesanannya. Wanita itu memanggil pelayan yang sama dan pelayan itu cukup terkejut.


"Loh, tapi ini makanannya gimana, Bu?" tanya si pelayan yang tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.


"Bungkus buat kamu aja," jawab si wanita dengan santai.


"Nggak mau lah, Bu, kan udah ada obatnya. Takut keracunan saya," penolakan si pelayan membuat wanita itu terkekeh.


"Hahaha ... bukan obat racun itu, tapi obat perangsang. Kamu makan aja sama temen temen cewek kamu, nanti kalau terangsang, kalian bisa enak enak sampai puas. Tenang, nggak bakalan mati kok."


"Yang benar, Bu?" melihat wanita itu mengangguk dengan pasti membuat pelayan tadi sangat antusias menerima hidangan yang tidak disentuh sama sekali itu.

__ADS_1


Begitu urusan dengan restoran selesai, wanita itu pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke tempat bosnya. Tanpa dia sadari, ada mobil lain yang mengikutinya dari belakang.


...@@@@@...


__ADS_2