
Libur satu hari tak terasa sudah berlalu. Saat ini ketiga pria lajang kembali disibukkan dengan kegiatan yang sama seperti hari hari biasanya. Di pagi hari, mereka selalu akan berbagi tugas, satu orang pergi ke pasar dan dua orang akan mengerjakan tugas yang lainnya di rumah, yang berhubungan dengan bahan bahan jualan mereka.
Satu hari libur kemarin, sudah banyak pelanggan yang protes dan mengeluh. Banyak yang merasa kecewa saat sudah mendatangi rumah makan tersebut tapi mereka malah melihat rumah makan tutup. Tidak sedikit juga chat yang masuk melalui ponsel yang disediakan khusus untuk para pelanggan. Rata rata mereka kecewa karena tidak ada pemberitahuan saat rumah makan itu libur.
Wajar jika rumah makan khas sunda itu banyak yang merasa kecewa. Selain melayani pembeli biasa, warung makan itu juga menerima beberapa orang yang ingin ikut menjual lagi produk olahan makanan dari dari rumah makan tersebut. Maka itu, banyak yang melayangkan protes dan juga saran tentang adanya pemberitahuan jika rumah makan tesebut aka libur.
"Gila! Barang barang kebutuhan hari ini hampir semuanya pada naik," seru Dandi yang kali ini dapat jatah berbelanja di pasar. Begitu pulang ke kontrakannya, dia langsung mengeluhkan atas melonjaknya harga beberapa barang yang dia beli. "Nih, bawang merah satu kilo empat puluh, bawang putih empat puluh enam, cabe rawit merah, tujuh puluh ribu. Apa nggak edan,"
"Ya ampun segitunya, Dan," balas Randi dengan suara yang tidak kalah seru juga. "Bukankah kita sudah biasa mengalami naik turunnya kebutuhan kita itu."
"Heheehe .... iya, sih," balas Dandi sambil menggaruk kepalanya yang tidak galat. "Tapi kan kali ini aku rasa naiknya sangat tinggi. Bukankah beberapa hari yang lalu, cabe masih di bawah empat puluh ribu? Naiknya tinggi banget loh."
__ADS_1
Kedua teman Dandi mengangguk serentak dan mereka baru merasa terkejut saat mendenggar perbandingan harga satu barang yang sangat signifikan hanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, barang barang langsung naik pesat. Pembahasan tentang kenaikan harga langsung merambat ke pembahasan lainnya sembari terus mempersiapkan barang dagangan mereka.
Hingga pukul sembilan tiba, dua karyawannya yang telah datang langsung membersihkan serta merapikan tempat yang menjadi jalan rejeki para karwayan yang kerja disana. Sebenarnya tempat itu sudah dirapikan oleh Randi, tapi yang namanya pekerja, mereka ingin melakukan yang terbaik untuk atasannya Maka itu mereka mau membersihkan kembali tempat yang sebenarnya sudah bersih dan rapi.
Dandi sendiri saat ini sedang pergi ke toko buah untuk mengambil jus. Karena jus itu baru dibuat saat Dandi datang, jadi pria itu harus menunggu sampai jus siap untuk di bawa. "Gimana? Tadi pagi kamu dapat teror lagi nggak, Ri?" tanya Dandi disela sela dia membantu mengupas mangga.
"Oh iya, ada tadi," jawab Rianti yang sepertinya baru ingat kalau dia tadi pagi kembali mendapat teror.
"Jelas sekali, yang ngirim cewek. Nanti aku kirim videonya sama kamu," ucap Rianti terlihat antusias. Dandi pun merasa senang karena sikap Rianti kali ini sudah berubah lebih hangat. Dandi hanya mengiyakan saja sebagai balasan perkataan wanita yang saat ini sedang sibuk membuat jus sirsak.
Di warung makan sendiri, terlihat beberapa pembeli sudah mulai berdatangan. Meskipun belum terlalu ramai, tapi orang orang yang ada di rumah makan itu cukup senang dengan datangnya para pembeli. Dengan sigap, dua karyawan melayani pembeli dengan mencatat semua pesanan yang para pembeli yang ingin menikmati hidangan di tempat itu.
__ADS_1
Sandi dan Randi dengan tangkas pula mulai meracik pesanan para pembeli secara bergantian. Tidak perlu menunggu waktu lama, satu persatu pesanan mulai matang dan sudah siap untuk dihidangkan. Dua karyawan dengan segera mengantar makanan ke meja para pelanggan yang sebagian ada di lantai dua.
"Mas bos kenapa? Kok kayak lagi seneng gitu?" salah satu karyawan nampak heran saat melihat kedatangan salah satu bosnya yang membawa jus dalam kemasan gelas plastik.
"Wah! Kamu peka juga, ya?" seru Dandi yang memang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat itu. "Pokoknya ada deh. Kamu nggak perlu tahu. Nih, jusnya kamu rapiin ya?"
"Beres, Mas bos!" balas karyawan itu yang sebelumnya mencebikkan bibirnya saat Dandi tidak mau mengatakan sesuatu sampai membuat dirinya senang. Di saat Dandi melangkah ke arah dapur, matanya melihat seorang pembeli turun dari lantai atas sambil menenteng mangkok.
"Woy! kalau jual makanan yang benar, dong! Masa di makananku ada kecoanya!"
...@@@@@...
__ADS_1