
Suatu sore menjelang petang, di sebuah restoran, bagian dari sebuah hotel mewah, terhiat dua manusia, antara pria dan wanita sedang terlibat pembicaraan yang cukup membosankan. Terutama bagi sang pria, dia seperti sedang diselidiki kehidupan pribadinya oleh wanita yang baru dia kenal kemarin, dan itu sangat menyebalkan.
Mungkin karena si pria yang biasa panggil dengan nama Randi itu terlalu yakin kalau wanita yang menjadi lawan bicaranya memiliki maksud terselubung dalam pertemuan ini, membuat pria itu malas berbincang ke hal yang bersifat pribadi. Namun demi mendapatkan hasil yang maksimal, Randi harus bisa tetap bersandiwara demi bisa membuktikan kecurigaannya.
Beruntung, setelah cukup lama menunggu, seorang pelayan datang ke tempat dimana Randi dan wanita itu berada. Pelayan tersebut mengantar pesanan yang dipesan oleh si wanita. Gerik gerik antara si pelayan dan wanita itu tidak lepas dari perhatian Randi, membuat pria itu berpikir keras untuk melakukan sesuatu.
"Ayo, Mas, dinikmati hidangannya?" tawar si wanita begitu hidangan yang dia pesan sudah tersaji rapi di atas meja.
"Mbak, apa boleh saya pesan hidangan yang lainnya?" pertanyaan yang keluar dari mulut Randi, tentu saja membuat wanita yang sedang bersiap untuk menyantap hidangan di depan matanya terkesiap. Bahkan gerakan tubuhnya sampai terhenti karena terlalu terkejut dengan pertanyaan yang diajukan padanya.
"Kamu nggak suka makanan seperti ini?" pertanyaan itu terlontar dari mulut si wanita. "Tadi kenapa kamu nggak bilang, Mas?" wanita itu sepertinya cukup kesal dengan permintaan Randi yang diluar dugaan itu.
"Kan, tadi kamu cuma nawarin aku mimunan, Mbak. Nggak nawarin aku makanan, aku pikir, kamu cuma pesan makanan untuk diri sendiri saja." ucapan Randi kembali membuat si wanita tercengang. Wanita itu lalu berpikir tentang apa yang diucapkan Randi dan tak lama kemudian, wanita itu tersenyum lebar sambil mengeluarkan suara tawanya sedikit.
__ADS_1
"Hahaha ... aku pikir apapun yang aku pesan, kamu bakalan setuju saja. Biasanya kalau pertama kali makan bareng, kan kebanyakan pesanan disamakan saja, jadi aku ya melakukan hal seperti itu," kilah si wanita dusta. "Kamu nggak suka makanan seperti ini, Mas?"
Randi lantas tersenyum lebar. "Aku tidak terlalu suka makanan luar negeri, Mbak. Aku lebih suka makanan lokal negeri sendiri, Mbak."
"Oh gitu? Ya udah, aku akan panggil pelayan yang tadi," wanita itu menoleh dan mencari sosok pelayan yang tadi mengantar makanan. Hal itu semakin menambah rasa aneh dan juga curiga dalam benak Randi. Padahal ada pelayan lain di dekat sana, kenapa harus pelayan yang sama yang dicari si wanita itu.
"Misi, Mbak?" bukan si wanita yang memanggil, tapi Randi. Pria itu berpikir terlalu cepat dan berinisiatif memanggil pelayan yang sedang melintas di dekatnya. Tentu saja sikap Randi kembali membuat si wanita terkejut bukan main.
"Begini, Mbak, aku mau menambah pesanan," ucap Randi sambil matanya sessekali menatap si wanita yang sedang tersenyum ke arahnya. Randi tahu, wanita itu saat ini sedang dilanda perasaan yang entah Randi menyebutnya apa. Yang pasti senyum yang wanita itu tunjukkan terlihat palsu dan terpaksa.
"Baik, Pak, Bapak mau menambah pesanan apa?" pelayan itu menyodorkan buku menu yang dia bawa dan mengambil catatan dalam sakunya.
Randi membaca beberapa restoran di sana ada menu lokal yang cukup mahal. Randi lantas memesan dua menu itu. Si wanita kembali dibuat terkejut karena tahu makanan yang dipesen Randi cukup mahal meski makanan itu adalah menu lokal. Setelah pesanan dibuat, pelayan itu lantas pergi.
__ADS_1
"Kamu suka seafood?" tanya si wanita begitu pelayan itu pergi.
"Ya, sangat suka. Apa lagi menu seafood tadi terlihat lengkap dengan bahan yang terbaik, mantap," jawab Randi dengan sumringah.
Wanita itu hanya terssenyum tipis. "Ya udah, kalau gitu aku permisi ke toilet dulu ya, Mas?"
"Loh, nggak jadi makan, Mbak?" tanya Randi yang cukup terkejut karena tadi si wanita sudah bersiap siap untuk makan.
Wanita itu lantas tersenyum. "Kebetulan, tiba tiba saya ingin ke toilet," ucapnya, lalu dia pun bangkit. Randi diam diam memperhatikan gerak gerik wanita itu dengan berpura pura menatap layar ponselnya.
"Aneh, padahal ke toilet tinggal lurus aja. Kenapa dia celingukan kayak mencari seseorang?" gumam Randi dalam hati. Namun tak lama setelahnya, pria itu menatap sinis begitu wanita itu sampai di depan pintu yang menuju ke toilet. "Ternyata mencari pelayan yang tadi. Astaga!"
...@@@@@...
__ADS_1