TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Ketegangan Di Dua Tempat


__ADS_3

Di sana, di dalam salah satu rumah, suasana terlihat semakin tegang. Dua orang yang pernah berhubungan di masa lalu, nampak saling terdiam dengan segala pikiran yang berkecamuk. Si pria menatap nyalang wanita yang memangku anaknya, sedangkan si wanita menghindari tatapan pria itu dan lebih fokus kepada bocah yang sedang menikmati jajan.


"Aku tahu perbuatanku ke kamu sangat keterlaluan. Aku tahu, Mbi. aku menyesal telah berbuat sejajat itu sama kamu," ucap Sandi dengan suara yang agak bergetar meski dia sudah mencoba bersikap setenang mungkin.


"Apa ini kebiasaan baru kamu? Menjilat ludah kamu sendiri?" balas Arimbi dan ucapannya benar benar menusuk ke dalam benak Sandi hingga untuk kesekian kalinya pria itu terbungkam.


Sedari tadi yang dilakukan Arimbi memang membalikan semua yang pernah Sandi ucapkan dan lakukan dulu. Dari yang tidak akan pernah mengakui anak yang dikandung Arimbi sampai kata kata menyesal yang dulu pernah sandi katakan kalau dia tidak akan pernah menyesal karena sudah berhasil menghancurkan hidup wanita itu.


"Nggak perlu pura pura menyesal. Aku tahu hati kamu saat ini pasti sedang sangat bahagia melihat keadaanku bukan? Jadi mending sekarang kamu pulang, dan rayakan kembali keberhasilanmu."


"Mbi," Sandi kembali memohon, tapi hanya itu yang bisa keluar dari mulut Sandi. Pria itu seakan kehabisan kata untuk mendebat dam mengungkapkan segala penyesalan yang dia rasakan sejak beberapa tahun ini, karena Arimbi selalu mematahkan dan menyerang dengan segala kata kata yang pernah dia lakukan di masa dulu.


"Kalau kamu memang ingin kembali melihat aku terusir dari kampung ini ya silakan bertahan saja disini. Toh mereka sudah pada tahu kalau aku cewek nggak benar karena hamil tanpa adanya suami."

__ADS_1


Dann untuk kesekian kalinya hanya rasa terkejut yang bisa Sandi tunjukkan. Meski dia juga sebenarnya tahu akibat dari perbuatannya seperti apa, tapi saat telinganya mendengar langsung penderitaan dari wanita korban nakal dan keegoisannya, hati Sandi merasakan perih dan penyesalannya semakin terbuka lebar.


"Naiklah, aku akan pulang. Aku harap kamu bisa mengijinkan aku untuk bertemu dengan Reyhan setiap saat," Arimbi memilih bungkam. Tidak ada niat untuk membalas ucapan pria yang sekarang mengusap kepala anaknya. "Sayang, ayah pulang dulu ya?"


Bocah yang sedang asyik menikmati cemilan berbentuk bulat dan rasa keju itu sontak mendongak. "Ayah pulang?" tanyanya dengan suara khas anak keil.


Dengan berat hati sandi mengangguk. "Iya, Sayang. Kalau Reyhan ingin ketemu ayah, Reyhan ke tempat ayah saja besok, minta diantar ibu."


"Mana bisa," Sandi yang menjawab. Karena Arimbi memilih diam dan seperti orang kebingungan untuk memberi jawaban atas pertanyaan anaknya, maka itu sandi yang berinsiatif memberi penjelasan. "Reyhan berdoa saja, agar kelak Reyhan bisa tinggal bareng ayah dan ibu, ya?"


Reyhan mengangguk meski wajahnya terlihat masih bingung. Sedangkan Arimbi malah mendelik mendengar ucapan pria yang sedang tersenyum menyebalkan. "Kalau ngomong itu dijaga. Nggak usah ngasih harapan ke anak kecil yang tidak tahu apa apa."


"Loh, aku tidak memberi harapan. Setidaknya aku hanya ingin mewujudkan anak kita," Sandi membela diri.

__ADS_1


"Halah, kayak nggak tahu akal busukmu aja. Paling setelah ini pas pulang juga langsung bersenang senang dengan teman temanmu yang brengsek itu."


Sandi menghela nafasnya dalam dalam. Dia memilih mengalah dan segera pamit. Sandi mengambil dompet dan mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah. "Ini buat jajan Reyhan. kalau ada apa apa kasih kabar."


"Nggak perlu!" tolak Arimbi tegas. "Aku nggak butuh uang dari kamu."


"Aku ngasih buat anak aku, Arimbi, bukan buat kamu. Meskipun telat, setidaknya biarkan aku melakukan tanggung jawabku sebagai ayah," ucapan Sandi sedikit kencang karena sedari tadi dia sudah berusaha menahan emosinya. Sandi meletakkan uang itu diatas meja, lalu tangannya bergerak mengambil alih sang anak dan menciumnya bertubi tubi. "Ayah pulang ya? Besok main sama ayah lagi." Reyhan menganganguk dengan senyum yang menggemaskan. Setelah melalui sedikit drama, akhirnya Sandi pulang dengan perasaan yang sedikit lega.


Suasana tegang juga kini sedang terjadi di rumah makan tempat Sandi mencari rejeki. Dandi kini sedang berhadapan dengan sepasang suami istri yang menuntut penjelasan atas perbuatannya saat tadi Sore. Beruntung pada saat itu suasana rumah makan memang sudah agak sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan.


"Sekarang tolong kamu jelaskan, Mas? Kenapa kamu bilang sama istri saya kalau saya selingkuh dengan Rianti?" tanya pria dengan segala amarah yang dia tahan.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2