TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Pagi Hari Di Pasar


__ADS_3

Pagi itu suasana pasar sudah terilhat sangat ramai. Meski langit masih agak gelap, tidak menyurutkan langkah para pencari rejeki untuk bertempur melakukan jual beli dalam persaingan yang sehat. Bahkan mereka banyak yang datang ke pasar tersebut saat malam masih mendekap langit dan banyak mata yang masih terbuai dalam hangatnya mimpi.


Dari sekian banyaknya orang yang berada di pasar tersebut, ada seorang pria lajang yang nampak acuh menenteng beberapa kantung plastik berisi barang barang hasilbelanjanya. Pria itu bahkan dengan cueknya menyusuri lapak demi lapak untuk mencari barang belanjaan lainnya yang belum dia dapat. Sampai beberapa saat kemudian pria itu melihat seseorang yang dia kenal dan diapun memutuskan untuk belanja di lapak orang tersebut.


"Udah cepetan mau beli apa?" tanya si penjual dengan ketusnya. penjual yang merupakan seorang wanita itu langsung menunjukkan wajah tidak ramahnya begitu matanya menangkap orang yang membeli barang dagangannya adalah orang yang saat ini paling dia benci.


"Layanin ibu itu dulu. Kan yang datang dia duluan," ucap si pria dengan segala kesabaran dalam menghadapi wanita bernama Eliza itu. Sedari pria itu datang, suara Eliza tidak sedikitpun ada nada lembutnya. Eliza langsung mendengus kesal lalu melayani pembeli lain dengan ramah. Hal itu membuat pria bernama Randi hanya bisa menguatkan hatinya agar bisa lebih sabar lagi.


"Kamu nggak capek? Pagi dan sore jualan?" Randi mencoba melempar pertanyaan dengan sengaja agar dia bisa lebih lama berada di lapak wanita itu. Biar bagaimanapun Randi harus berusaha lebih keras untuk mendapat maaf sekaligus hati Eliza.


"Nggak usah sok perhatian," hardik Eliza dengan suara yang lebih lirih karena tidak enak dengan orang orang disekitarnya. "Udah cepet beli apa?"


"Nanti kalau kamu sakit gimana?" bukannya menunjukkan barang apa yang akan dibeli, Randi malah melempar pertanyaan yang justru membuat wajah kesal Eliza semakin terlihat.

__ADS_1


"Kamu sengaja lagi mancing amarahku apa gimana sih?" tuduh Eliza. Suara emosinya masih bisa dikendalikan sekuat hati. "Pengin mengancurkan namaku di depan pedagang lain gitu?"


Randi terkesiap. Tentu saja dia sangat terkejut dengan tuduhan yang terucap dari mulut Eliza. Randi mengalah. Dia tidak ingin wanita itu semakin salah paham terhadapnya. Randi langsung menunjukkan bumbu apa saja yang harus dia beli. Dengan sigap, Eliza membungkus apa saja yang ditunjuk pria itu.


"Berapa semuanya?" tanya Randi sambil membuka tas slempangnya lalu mengambil selembar uang berwarna merah.


"Delapan puluh empat ribu," jawab Eliza tidak ada manis manisnya sama sekali. Randi menyerahkan uang itu. Begitu menerima kembalian, Randi bukannya pergi, dia malah duduk di bangku milik pedagang bubur kacang hijau yang letaknya tepat di sebelah lapak Eliza. "Ngapain duduk disitu?" sungut Eliza.


"Nggak usah," jawab Eliza masih dengan nada ketusnya.


"Ya ampun, galak banget, Mbak El," mendengar suara pedagang bubur, Eliza sontak terkesiap dan langsung salah tingkah sendiri. Sedangkan Randi langsung cengengesan melihat tingkah wanita yang terpaksa melempar senyum kepada ibu penjual bubur kacang hijau. "Jangan galak galak, nanti nggak ada laki laki yang mau mendekati loh, Mbak El," sang ibu malah memberi nasehat.


"Walaupaun galak tapi tetap cantik ya, Bu," Randi bersuara tanpa memandang wajah Eliza yang saat itu sudah pasti langsung melirik tajam ke arahnya pria yang sedang menerima semangkuk bubur.

__ADS_1


"Iya, amas. udah cantik, baik, pekerja keras lagi," puji si ibu itu. "Coba aku punya anak laki seumuran Mbak El, aku pasti akan lamar Mbak El jadi mantu."


Mendengar ucapan ibu penjual bubur, sebenarnya Eliza ingin tersenyum saat itu juga. Tapi berhubung di tempat itu ada pria yang paling dia benci, Eliza berusaha menahan senyumnya dan tetap memasang wajah dingin.


"Hehehe ... untungnya ibu tidak punya anak laki laki ya?" Randi berkata dengan perasaan yang lebih lega. "Tapi kalau aku perhatikan ya, Bu, sepertinya Mbak El sudah ada laki laki yang suka."


"Ya emang ada, malah ada beberapa disini," jawaban penjual bubur cukup mengejutkan Randi yang sebenarnya ada maskud lain dari ucapannya yang tadi Randi ceritakan. "Tuh ada pedagang buah yang disana, anaknnya juragan kerupuk. Terus itu juragan sayur. Banyak yang suka sama Mbak El, ya Mbak El ya?"


"Iya, Bu," Eliza malah menjawab dengan wajah nampak ceria membuat Randi malah menjadi merasa kesal sendiri karena ternyata disini banyak saingannya.


...@@@@@@...


Hy reader apa kabar? Gimana lebaran kalian? Seru bukan? Othor cuma mau ngucapin selamat hari raya idul fitri, minal aidin wal fa'izin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita tetap bisa bersilaturahmi meski lewat bacaan ya? Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2