
Di sana, di sebuah dapur, dua orang pria nampak sibuk dengan tugasnya masing masing. Mereka menyiapkan menu pesanan pembeli yang bisa disajikan tidak lebih dari sepuluh menit. Kening dua orang itu sontak berkerut saat melihat salah satu temannya datang dengan wajah yang kusut.
Sandi dan Randi sontak saling panjang, dalam benaknya mereka bertanya tanya, apa yang terjadi pada temannya ini? Bukankah tadi dia pamit hendak menjemput seseorang, tapi kenapa dia kembali sendirian dan wajahnya terlihat sangat murung? Dua pria itu menatap Dandi yang berjalan dengan langkah gontai. Dandi duduk di salah kursi yang tersedia di sana.
"Kamu kenapa? Mana Rianti?" tanya Randi.
Dandi mengela nafasnya dalam dalam. Dia meletakkan kepalanya pada meja di hadapannya. Dandi seakan tidak memiliki tenaga untuk sekadar menjawab pertanyaan dari sahabatnya. Pikirannya terlalu kacau dengan kenyataan yang baru saja dia dengar dari wanita yang dia datangi.
Karena tidak ada jawaban dari Dandi, Sandi dan Randi memilih melnjutkan pekerjaan mereka. Biarlah mereka mencari tahu nanti pada saat selesai jualan. Kalaupun Dandi dipaksa menceritakan apa yang dia alami saat ini, mereka takut hasilnya malah tidak baik dan menggangu pekerjaan mereka.
Di saat bersamaan, masuklah seorang pria dari pedagang yang lapak jualnnya di seberang jalan berhadapan dengan rumah makan tersebut. Pria itu memesan dua porsi makanan untuk dibungkus. Karena membeli dengan cara memakai kemasan, pria itu diminta menunggu dikursi khusus bagi pembeli yang melakukan pembelian dengan cara di bungkus. Kursi itu letaknya di depan meja pembatas antara dapur dan ruang permbelli.
"Emang Eliza nggak doyan pedas, Mas?" tanya Randi yang memang kenal orang itu. "Kok tumben dia pesan makanan yang nggak pedes?"
Pria bernama Taryo tersenyum. "Itu bukan buat eliza, Mas. itu buat aku dan temen aku. Eliza ditawarin malah nggak mau. Nolak mentah mentah tadi."
__ADS_1
"Owalah kirain yang satunya buat eliza," balas Randi cukup terkejut dengan jawaban pria itu. "Kenapa Eliza nolak mentah mentah? Padahal dia suka banget loh makanan seperti ini?"
Meski tersenyum, kening Taryo sempat berkerut mendengar perkataan pria yang sedang meracik pesanannya. "Sepertinya Masnya sangat mengenali Eliza dengan baik."
Randi terperangah. Kali ini dia sedikit gelagaapn mendengar ucapan pria yang diakui sebagai suami dari Eliza. "Kebetulan dulu kita pernah berteman, Mas," jawab Randi secepatnya, takut pria itu akan salah paham nantinya.
"Oh temen? temen dekat atau lebih dari deket?" tanya Taryo seperti sedang menyelidiki.
"Cuma dekat kok, Mas," Randi semakin merasa tidak enak hati. Dia takut pria itu cemburu dan salah paham, lalu dia melampiaskan kecemburuannya pada Eliza dengan sangat emosinya.
Celetukan Taryo sontak saja membuat tiga pria yang ada di sana terkejut dan langsung menatap ke arah pria itu. "Pergi dari rumah?" kini Dandi yang bersuara dan kebetulan dia memang berada tak jauh dari tempat Taryo duduk.
Dengan santai pria bernama Taryo itu mengangguk. "Entah ada kejadian apa, Eliza sendiri nggak cerita. Dia pergi dari rumahnya sekitar tiga tahun yang lalu. Di suruh pulang nggak pernah mau."
"Apa!" ketiga pemuda di sana memekik hampir bersamaan. Mereka saling pandang dan dari tatapan ketiganya, sepertinya mereka tahu penyebab wanita itu diusir dari rumahnya. Apa lagi tadi mereka mendengar kalau Eliza pergi sekitar tiga tahun yang lalu. Sudah pasti apa yang menimpa pada wanita itu ada hubungannya dengan tiga pria tersebut.
__ADS_1
"Di usir bagaimana ceritanya, Mas?" tanya Randi dengan segala rasa penasarannya.
"Katanya sih dulu dia hendak menikah tapi entah kenapa pernikahannya batal dan dia diusir dari rumah. Itulah sebabnya dia berada di kota ini."
Randi terpaku. Dia bahkan tak sanggup melanjutkan memasak dan pekerjaannya langsung di ambil alih oleh Dandi yang keadaan hatinya sudah membaik. Lutut Randi terasa lemas. Tentu saja kabar itu sangat mengejutkan bagi pria itu. Parahnya lagi, Randi yakin, dialah penyebab semua hal buruk yang menimpa Eliza tiga tahun yang lalu.
"Beruntungnya Eliza bertemu dengan kamu ya, Mas," kini Sandi yang bersuara agar pria itu tidak mencurigai sesuatu karena suasana mendadak tegang.
"Yah entah beruntung atau apa, yang namanya saudara, kan memang wajib saling tolong menolong bukan?" ucapan Taryo kembali membuat randi terkejut dan pria itu langsung menatapnya.
"Saudara?"
Dengan enteng, Taryo mengangguk. "Aku tuh maasih terbilang saudaranya Eliza dari kakek dan nenek. Cuma ya karena kakek dan nenek kami sama sama sudah meninggal jadi rasa persaudaraan kita juga ikut merenggang. Makanya aku sekeluarga kaget pas Eliza datang ke rumah kita."
"Astaga!"
__ADS_1
...@@@@@...