
"Ayah!" teriak seorang bocah begitu melihat sosok yang ditunggu bocah itu muncul di depan matanya. Sang anak langsung berlari, tanpa mempedulikan teriakan orang orang disekitarnya agar anak itu berhati hati. Bocah itu terus saja berlari dengan lucunya menyambut pria yang sudah dia tunggu kedatangannya sejak hari masih cerah.
"Astaga! Jangan lari, Sayang!" seru pria yang dipanggil ayah oleh bocah itu. Begitu turun dari mobil, pria itu langsung melangkah cepat menyongsong kedatangan anaknya agar tidak terjatuh dan langsung menggendongnya. "Nanti kalau Reyhan jatuh gimana?" tanya si Ayah sedikit kesal bercampur khawatir dan ada rasa senang juga dalam benaknya.
"Ayah kok lama? Reyhan dari tadi nyariin ayah, Reyhan pengin ikut naik mobil," berondong anak itu dengan wajah polosnya, membuat semua yang melihat tingkah Reyhan, mengembangkan senyumnya.
"Iya, nanti Reyhan ikut naik mobil. Sekarang kita masuk dulu ya," ajak Sandi. Bersama keluarganya, Sandi kembali melanjutkan langkah kakinya yang tadi sempat terhenti karena harus menyambut Reyhan terlebih dahulu.
Begitu kedua belah pihak sudah saling berdekatan, mereka lantas saling berjabat tangan satu sama lain lalu mereka semuanya masuk ke dalam untuk berbincang mengenai dua orang, bagian dari keluarga itu.
"Wahh, jadi ngerepotin ya, Bu," ucap Mamahnya Sandi saat para wanita dari tuan rumah mengeluarkan air minum dan beberapa cemilan untuk hidangan.
"Nggak kok, Bu. Ya namanya ada tamu, harus dihormati kan?" jawab Ibunya Airimbi setelah meletakkan dua piring lumpia ayam dan putri mandi.
__ADS_1
"Tamunya kan, orang tua dari anak yang sudah bertindak kurang ajar sama keluarga ini. Masa pakai dihormati segala, Bu, saya jadi nggak enak," celetuk papahnya Sandi, dan seketika suasana hangat di sana menjadi kecanggungan karena ucapan pria itu.
"Nggak apa apa, pak," ucap ayahnya Arimbi. "Anggap aja ini pelajaran buat anak anak kita, agar kedepannya mereka bisa saling menjaga sikap. Kan, mereka udah dewasa sekarang, jadi mereka harusnya sudah tahu mana tindakan yang benar dan mana yang tidak."
Ucapan Ayahnya Arimbi cukup membuat suasana canggung diantara dua keluarga terasa berkurang.
Suasana canggung juga saat ini sedang terjadi diantara dua keluarga lainnya. Setelah melewati obrolan basa basi sejenak, kini kedua keluarga itu memasuki pembicaraan yang cukup serius.
"Sebetulnya, saya sebagai orang tua Dandi, cukup malu menghadap keluarganya Rianti. Namun bagaimana lagi, Pak, entah ini takdir atau apa, mereka malah dipertemukan dengan keadaan yang tidak terduga. Saya pikir, setelah gagal menikah dengan anak saya, Rianti sudah menikah dengan pria lain," ucap Papahnya Dandi dengan sikap dibuat setenang mungkin.
Kening semua anggota keluarga Dandi sontak saja berkerut begitu mendengar ucapan dari Papahnya Rianti. "Kenapa bapak yang malu? Kan harusnya saya?" ucap Papahnya Dandi.
Papahnya Rianti kembali tersenyum. "Yah, saya malu karena saya sendiri juga sering berdebat dengan istri saya karena saya tidak pernah mau mengalah atapun mengaku salah. Padaha selama ini, saya sangat tidak adil kepada putri saya. Namun berkat Dandi lah, saya sadar, perbuatan saya selama ini salah kepada Rianti."
__ADS_1
Ucapan ayahnya Rianti cukup membuat semua orang yang ada di sana menjadi tercengang.
Percakapan serius juga saat ini sedang terjadi diantara dua keluarga lainnnya, yaitu keluarga Randi dan Eliza. Setelah habis waktu basa basinya, kini wajah semua orang yang ada dalam satu ruangan itu menunjukan wajah seriusnya.
"Saya sendiri, selaku Ayahnya Randi, ingin mengucapkan minta maaf yang sebesar besarnya kepada keluarga Eliza. Karena perbuatan anak saya, Eliza jadi batal nikah, dan lebih parahnya, Eliza kabur dari rumah. Jujur, saya cukup malu saat menghadap Bapak dan Ibu malam ini."
Orang tuanya Rianti pun mengembangkan senyumnya. "Tidak perlu malu, Pak," ucap Papahnya Eliza. "Jika direnungkan dengan baik, apa yang dilakukan Randi saat itu, banyak mengandung berkah dan makna yang justru sangat baik bagi keluarga kami."
"Berkah? Maksud Bapak?" tanya Papahnya Randi dengan kening berkerut. Pertanyaaan tersebut juga mewakili keluarga Randi yang lainnya, yang terlihat heran dengan ucapan Papahnya Eliza.
Pemimpin keluarga di rumah itu lantas tersenyum kembali. "Yah, berkat Randi, anak saya terhindar dari laki laki yang lebih brengsek karena doyan selingkuh. Berkat Randi juga, jalinan silaturahmi saya dengan adik saya yang telah putus selama bertahun tahun, bisa tersambung kembali. Itu karena anak bapak yang menemukan keberadaan Eliza."
Dan semua keluarga Randi tercengang mendengarnya.
__ADS_1
...@@@@@@...