TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Hubungan Saudara


__ADS_3

"Terus, Mbi, apa kamu di kampung juga akan hidup dengan Sandi?" tanya seorang kakak pada adik perempuannya. Pertanyaaan itu cukup mengejutkan, sampai semua mata langsung memandang ke arah wanita yang baru saja melepaskan pelukannya dari wanita yang telah melahirkannya.


Wanita bernama Arimbi itu tersenyum dan matanya membalas satu persatu tatapan orang yang sedang menatapnya. "Kalau saya tidak hidup dengan Sandi, bagaimana dengan Reyhan, Mbak?" Jawaban Arimbi yang tenang membuat semua mata tertuju pada bocah kecil yang saat ini hanya terdiam dalam dekapan ayahnya. "Sejak bertemu dengan Sandi, Reyhan bisa sedekat itu dengan ayahnya. Setiap hari yang dicariin ayahnya."


"Yah, namanya juga anak kecil. Kalau udah gede, mana mau dia ketemu sama orang yang sempat tidak mengakuinya," sindiran kakaknya Arimbi begitu telak dan sangat menohok di telinga Sandi. Namun bagaimana lagi, pria itu memang tidak bisa membantah sebuah kenyataan yang memang dilakukan oleh pria itu.


"Apapun masa lalu dia, ya udah, biarkan itu berlalu," sang Ayah kembali mengeluarkan suaranya. "Yang namanya jodoh, mau ditolak seperti apapun, Tuhan akan menuntunnya untuk tetap bertemu. Siapa tahu aja dengan melihat sosok Reyhan yang mirip ayahnya, membuat Sandi sadar dan segera bertobat untuk menjadi lelaki yang lebih baik lagi."


"Jadi Bapak menerima lamaran saya?" tanya Sandi begitu ayahnya Arimbi selesai mengucapkan kata katanya. Pria itu cukup tertegun dengan ucapan yang keluar dari mulut pria tua itu, sehingga dia memberanikan diri melempar pertanyaaan untuk mendapatkan kepastian tentang lamaran Sandi kemarin.


"Ya, semua tergantung Arimbi. Yang mau menjalani hidup dia. Saya sebagai orang tua ya paling hanya menasehati. Untuk mengambil keputusan ya, tetap Arimbi yang menentukan. Apa lagi sudah ada anak diantara kalian," jawaban Ayah cukup membuat Sandi sedikit bisa bernafas lega. Sekarang Sandi tinggal menunggu keputusan dari Arimbi.

__ADS_1


"Gimana, Mbi? Apa kamu mau menerima lamaran Sandi?" tanya Ibu.


Wanita yang dilempar pertanyaan langsung menatap sang ibu lekat lekat lalu memandang Ayah dan kakak kakaknya. "Maaf, jika keputusan saya membuat kalian kecewa, tapi demi Reyhan aku memang harus menentukan pilihan. Aku mau menerima lamaran Sandi, Bu." Senyum Sandi seketika terkembang dengan sempurna.


Masih di malam yang sama, tapi di tepat berbeda, beberapa orang yang saat ini berada di ruang tamu nampak begitu terkejut setelah mendengar ucapan dari wanita yang telah pergi dari rumah itu selama lebih dari tiga tahun. Wanita yang pergi dengan terpaksa, untuk sekedar menangkan diri dan menghindari murka orang tuanya karena termakan fitnah dari pria muda yang tadi mengantarnya pulang.


Wanita yang usianya paling tua di sana langsung memandang dengan tajam, pria tua yang tak lain adalah suaminya, begitu mendengar kejujuran dan rasa takut yang keluar dari mulut anak perempuannya. "Papah dengar sendiri kan? Eliza sengaja nggak ngasih kabar karena takut dengan sikap Papah? Pasti harga diri Papah langsung jatuh, karena anaknya bisa bertahan lama di rumah adiknya. Pasti sebentar lagi juga bakalan marah marah."


"Mah," ucap seorang laki laki. "Sudah lah, jangan diungkit hal itu. Yang penting kan sekarang Eliza sudah pulang. Sudah bersama kita lagi."


"Maksud kamu apa, Za? Kamu hanya pulang sebentar?" tanya Mamah.

__ADS_1


Eliza lantas tersenyum sembari mengangguk. "Benar, Mah, aku ingin tetap tinggal di kampung bersama Paman."


"Kenapa, Za? Kamu masih marah sama Mamah?"


"Nggak, Mah," jawab Eliza sambil menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya. "Di kampung aku lebih tenang, Mah, aku lebih mandiri. Mamah tahu, Paman Iksan mengajari aku banyak hal yang tidak aku dapatkan selama hidup di kota ini. Aku lebih mandiri, dan tentunya aku sudah bisa nyari uang sendiri, Mah."


"Tapi disini kamu juga masih bisa menemukan kehangatan keluarga, Nak. Nggak perlu harus di kampung lagi?" Mamah terlihat masih tidak terima dengan keputusan anaknya itu.


"Tapi di sana aku menemukan ketenangan dan kedamaian, Mah. Kehangatan keluarga, kehangatan hidup bertetangga, gotong royong, dan juga biarlah aku menjadi jembatan penghubung silaturahmi antara Papah dan Paman Iksan, Mah."


Kata terakhir yang diucapkan Eliza langsung membuat sang Papah terkesiap. Matanya nanar memandang anaknya yang lebih memilih menjauh dari dirnya dan dekat dengan adik yang sudah lama dia musuhi. Dada pria itu bergemuruh, tapi mulutnya terkunci. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu, sampai dia tidak bisa mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Terus, di kampung nanti, kamu akan tinggal bersama Randi juga, Za?" pertanyaan sang kakak membuat suasana di ruang itu kembali tegang.


...@@@@@@...


__ADS_2