
Arimbi seketika menegang. Bisikan Sandi yang terkesan nakal, benar benar membuat wanita itu dirasuki dilema. Ingin rasanya menolak, tapi Arimbi tidak berani melakukannya, karena dia tahu kalau melayani suami adalah kewajibannya sebagai istri. Tapi kalaau mau melakukannya, entah kenapa saat ini Arimbi merasa berat banget untuk menyanggupi.
"Tapi hari ini, aku cukup lelah," ucap Arimbi pelan dengan kepala yang menunduk. Matanya tidak berani membalas tatapan Sandi yang terpantul jelas dari balik cermin di hadapannya. Arimbi berharap penolakan halus yang tadi dia katakan membuat sang suami mengerti, karena sejujurnya dia memang cukup lelah hari ini.
"Kalau lelah, kenapa masih duduk di sini?" tanya Sandi. Sebenarnya pria itu juga mengerti kalau wanita yang sudah menjadi istrinya sejak beberapa jam yang lalu, pasti memang merasa lelah tubuhnya. mempersiapkan diri untuk menjelang acara akad sampai acara selesai, memang cukup melelahkan. Sandi sendiri juga merasakannya. Maka itu seandainya malam pertama mereka tertunda, Sandi masih bisa memakluminya.
"Ya udah, ayo kita tidur," ucap Sandi lagi. Melihat Arimbi yang terdiam membuat Sandi harus bisa berinistif, seperti mengajak istrinya pindah ke tempat tidur. Sandi tahu, diamnya Arimbi pasti mau mencari alasan lain karena wanita itu masih merasa canggung. Sama seperti Sandi, dia juga sebenarnya canggung, cuma rasa canggung itu terus dia lawan.
"Kamu tidur dulu aja, Mas, aku mau lihat Reyhan sebentar," Sandi tertegun dengan jawaban yang keluar dari mulut istrinya. Kening Sandi bahkan sampai berkerut untuk beberapa saat. Tapi Sandi tahu kenapa wanita berkata demikian. Senyum tipis Sandi pun seketika terbesit.
"Ya sudah, ayo kita lihat Reyhan bareng bareng," ajakan Sandi membuat Arimbi tercengang. Wanita itu bahkan sampai mendongak dan menatap Sandi lewat pantulan cermin. Arimbi tidak menyangka, sang suami bisa membaca pikirannya. Arimbi kembali menunduk dan agak gugup.
__ADS_1
"Nggak perlu, Mas. Biar aku saja, apa kamu nggak capek? Mending kamu tidur dulu?" Arimbi berusaha untuk menolaknya. Sandi yang memperhatikan gerak gerik Arimbi, sontak menghembus nafasnya dengan kasar. Tangan yang sedari tadi memijat pundak Arimbi dengan lembut, seketika berhenti.
Arimbi tertegun, Sandi terdiam dan perlahan tubuh suaminya menjauh. Diluar dugaan, Sandi langsung merebahkan tubuhnya dan memilih berbaring miring memunggungi istrinya. Tentu saja diamnya Sandi, membuat Arimbi malah bingung. Seketika bermacam pertanyaan dan dugaan langsung bermunculan dalam benak Arimbi.
Cukup lama Arimbi menunggu. Wanita itu sangat yakin kalau pria yang menjadi suaminya pasti marah. Arimbi terus memperhatikan gerak gerik Sandi dari balik cermin. Hingga beberapa saat lamanya Arimbi merasa kalau Sandi sudah terlelap karena gerakan tubuhnya bisa lebih tenang. Arimbi lalu menoleh untuk memastikannya.
Setelah meyakini kalau sang suami benar benar tertidur, Arimbi baru bangkit dari duduknya, lalu dia mengganti cahaya lampu yang terang, menjadi cahaya lampu yang remang remang, terus Arimbi naik ke atas ranjang dan berbaring memunggungi suaminya. Dengan pikiran yang tidak menentu Arimbi berusaha untuk memejamkan matanya.
Namun beberapa saat kemudian, Arimbi dibuat terkejut saat tiba tiba dia merasa ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Arimbi sontak menegang, sampai matanya kembali terbuka lebar. Diluar dugaan, ternyata sang suami belum benar benar tidur nyenyak. Arimbi ingin menolak pelukan Sandi, tapi apa daya, tenaganya tidak akan mampu.
"Pisah ranjang bagaimana maksunya?" suara Arimbi sampai agak tergagap karena perlakuan dan perkataan yang keluar dari mulut Sandi sempat membuat wanita itu bingung.
__ADS_1
"Ya kayak di sinetron atau cerita novel itu. Jika menikah tanpa cinta, biasanya tidurnya terpisah. Aku tidur di ranjang, kamu tidur di lantai. Atau sebaliknya," ucap Sandi dengan suara yang cukup jelas terdengar, karena kepala pria itu berada tepat di belakang kepala istrinya.
"Kenapa bawa bawa cerita novel?" Arimbi malah terlihat gemas begitu mendengar jawaban suaminya.
"Ya kan kali aja. Kalau nikah tanpa cinta, biasanya seperti itu. Hampir semua jalannya sama. Awalnya benci, nyiksa, nyakitin. Ujung ujungnya jadi menyesal terus bucin. Apa kamu berharap aku juga seperti itu? Kamu nyiksa aku lalu suatu saat kamu menyesal dan jadi bucin sama aku?"
"Loh, bukankah itu kebalik ya?" Arimbi kembali dibuat kaget dengan apa yang Sandi ucapkan. "Biasanya kan wanitanya yang diperlakukan seperti itu oleh laki lakinya."
"Tapi kan posisinya beda. Kalau sekarang kan, aku yang berada di rumah kamu, jadi ya aku yang mungkin diperlakukan kayak pemeran ceweknya."
Senyum Arimbi sontak terkembang. "Dahlah jangan mikir aneh aneh, mending kita tidur."
__ADS_1
"Kalau mikir yang enak enak, boleh nggak?"
...@@@@@@...