
Sandi dan Dandi terlihat saling tatap. Mendengar cerita Randi tentang keadaan wanita masa lalunya, membuat mereka juga teringat dengan dua wanita yang pernah mereka sakiti. Bisa dibilang mungkin dua wanita itu juga memiliki rasa trauma yang sama akibat perbuatan mereka.
"Apa mungkin perbuatan kita itu benar benar sudah sangat keterlaluan?" tanya Dandi. Tapi sebenarnya pertanyaan itu tidak harus terlontar dari mulut pria itu. Jika mereka sangat merenungi dosa mereka dimasa lalu, sudah pasti apa yang mereka perbuat lebih dari keterlaluan.
"Apa hal seperti itu masih harus dipertanyakan?" akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Sandi. "Justru karena perbuatan kita yang sangat keterlaluan itulah, yang membuat para wanita bernasib seperti ini. Lihat tuh, Arimbi, punya anak tapi nggak ada suami. Salah siapa kalau bukan salah kita?"
"Itu sih kamunya aja yang keenakan," seru Randi. "Orang disuruh nidurin satu kali, malah main paksa berkali kali. Giliran hamil, kamu seenaknya lepas tanggung jawab."
"Loh, kok jadi nyalahin aku?" Sandi terlihat tidak terima. "Bukankah itu ide kamu juga, kalau bisa bikin Arimbi sampai hamil. Lagian mana ada main satu kali bisa langsung jadi?"
"Udah sih jangan malah bertengkar," ucap Dandi menengahi. "Intinya tuh, ini salah kita semua. Coba kalau kita nggak keterlaluan, mungkin wanita wanita itu sudah bahagia dengan hidup mereka."
Randi dan Sandi sontak terdiam. Yang dikatakan Dandi memang benar, semua itu karena perbuatan mereka sampai para wanita terlihat sangat membenci wajah wajah pria yang telah mempermainkannya. Karena waktu terus berjalan dan para pembeli sudah mulai berdatangan, mereka memiilih kembali fokus melayani para poembeli.
Hingga sore menjelang, salah satu pelayan menghampiri meja pembatas. "Mas, nih barang pesenannya?" pelayan menaruh dua bungkus plastik besar bahan dagangan yang sandi pesen ke seseoang.
__ADS_1
"Loh, yang nganter mana orangnya?" tanya Sandi dengan wajah terlihat sangat terkejut.
"Lagi di taman kota karena anaknya rewel," balas si karyawan. "Katanya uangnya besok dianter aja ke pasar."
"Ah sial!" umpat Sandi terlihat sangat kesal. "Dan, lanjutin kamu nih, tinggal ngsih garam sedikit. Aku mau nyusul Arimbi." Tanpa menunggu persetujuaan dari Dandi, Sandi langsung melepas apronnya dan bergegas keluar dari pintu samping. Mata Sandi langsung mengedar ke area taman kota dan benar saja, Arimbi ada disana sedang menemani anaknya main mobil remot.
"Kenapa barang pesanannya nggak kamu langsung ngasih ke aku sih?" tanya Sandi begitu dia sudah berada di dekat wanita yang dia tuju. Wajahnya masih terlihat kesal karena apa yang dia harapkan malah tidak sesuai kenyataan.
"Apa bedanya? sama aja kan?" balas Arimbi dengan nada yang sama kesal juga.
Arimbi yang sedari tadi fokus mengawasi anaknya, Langsung tersinggung dengan ucapanSandi hingga wanita itu menoleh dan menatap pria di sebelahnya dengan tatapan tajam dan penuh dengan amarah. "Lebih nggak bertanggung jawab mana? Seorang pria yang menghamili wanita dan nggak mau mengakui anak yang dikandungnya? lebih nggak bertanggung jawab mana? hah! JAWAB!" tanya Arimbi lantang dan pertanyaan itu langsung membungkam mulut Sandi.
Mata mereka beradu dan sandi melihat begitu banyak luka, kecewa dan amarah pada wanita itu. Sandi tak bisa berkata kata lagi karena semua ini memang salahnya. Arimbi dengan segala amarahnya langsung beranjak menjauh dan memaksa anaknya untuk pulang. Hal itu membuat sang anak yang sedang asyik bermain langsung menangsis kencang. Mereka otomatis jadi pusat poerhatian orang orang yang ada di ssana.
Melihat Rehyan menangis, Sandi bergegas mendekati Arimbi. "Mbi, kalau kamu marah, marah saja sama aku, jangan marah sama Reyhan, kasihan."
__ADS_1
"Tahu apa kamu soal kasihan, Hah? Bukankah kamu sangat bahagia tanpa ada rasa kasihan saat membuat hidupku hancur seperti ini?" Arimbi masih meluapakan emosinya ."Bisa diam nggak?" Arimbi membentak Reyhan sampai anak itu tersentak kaget dan menangis semakin keras karena ketakutan.
"Mbi!" Sandi yang tidak tega melihat wajah ketakutan anaknya, langsung bergerak cepat merebut Reyhan dari gendongan wanita itu. "Jangan lampiaskan kemarahanmu sama anak kecil, Mbi."
"Nggak usah sok peduli! Bukankah kamu sendiri yang bilang, nggak akan pernah peduli dengan apapun terjadi sama aku? Kamu mau menjilat ludahmu sendiri!" Arimbi mencoba mengambil alih anaknya tapi Sandi menghalanginya.
"Mbi,Pliss. Jangan seprti ini? Kasian Reyhan," Sandi terus berusaha mempertahannya anaknya yang nangis semakin kencang.
Karena tak kunjung mendapatkan anaknya, Arimbi menghentikan aksinya dan menatap penuh rasa benci ke arah Sandi. "Jika kamu menginginkan anak itu, silahkan kamu ambil!" Arimbi langsung pergi tanpa peduli teriakan anaknya yang memanggilnya sambil menangis.
"Ibu! Huu Huu.. Ibu!"
Sedangkan Sandi terpaku menatap kepergian Arimbi.
...@@@@@@...
__ADS_1