
Seperti yang sudah direncanakan, hari ini Arimbi dan Bu Farida sedang melakukan persiapan untuk pergi bersama keluarga Rafi. Awalnya Arimbi sangat enggan untuk ikut, tapi berhubung anaknya takut nanti malah rewel jika pergi hanya dengan keluarga Sandi, jadi mau tidak mau wanita itu turut serta.
Mungkin jika Sandi ikut, Arimbi akan jauh lebih tenang seandainya dia tidak ikut piknik. Tapi sayang sekali, orang tua Rafi, terutuma ayahnya, melarang keras Sandi untuk ikut serta. Mau protes seperti apapun, Ayahnya Sandi tetap teguh pada pendiriannya. Karena alsaan itu juga Arimbi memutuskan untuk menemani anaknya.
"Gimana, Mbi?" tanya Bu Farida yang saat itu baru saja selesai membuat gorengan untuk dibawa piknik. Dia bersama suami juga turut serta dalam piknik kali ini. Awalnya mereka juga enggan untuk ikut, tapi karena paksaan yang sangat halus dari Ibunya Sandi, Bu Farida dan suami akhirnya setuju untuk menemani Arimbi dan juga cucunya.
"Gimana apanya, Bu?" tanya Arimbi yang sedang mempersiapkan susu untuk bekal anaknya. Mulai sekarang, wanita itu sudah tidak dipusingkan lagi jika susu Reyhan habis. Untuk bagian susu dan keperluan Reyhan lainnya, sudah diambil alih olih Sandi. Bahkan, semalam, orang tua Sandi membelikan susu untuk Reyhan begitu banyak. Cukup untuk persediaan beberapa bulan ke depan.
"Perasaan kamu saat ini, setelah ketemu keluarga Sandi?" tanya Bu Farida lagi sembari memindahkan tahu isi, bakwan dan juga tempe goreng ke dalam wadah untuk bekal.
Untuk sejenak Arimbi terdiam. Dia menarik kursi yang ada di bawah meja di hadapannya lalu duduk di sana lalu menatap anaknya yang sedang bermain dengan mainan barunya. "Nggak tahu, Bu. Aku bingung."
__ADS_1
Bu Farida tersenyum tipis. Tangannya masih memasukan satu persatu gorengan hingga habis. "Mungkin kalau Ibu jadi kamu, ibu malah akan bersyukur."
Arimbi langsung mendongak, menatap wanita paruh baya yang saat ini sedang memindahkan lauk lainnya berupa oseng kangkung campur udang. "Bersyukur kenapa, Bu?"
Bu Farida kembali tersenyum dan dia hanya menatap sejenak kapada Arimbi. "Kelihatannya orang tua Sandi adalah orang yang baik. Meskipun ayahnya terlihat galak, tapi dia bukan galak, hanya tegas. Tidak melindungi kesalahan anaknya. Meskipun mereka terlihat seperti orang kaya, tapi mereka bener bener bisa mengambil sikap yang tidak merugikan salah satu pihak. Itu sih yang Ibu lihat."
Arimbi tidak merespon. Dia kembali menatap anaknya yang heboh sendiri dengan mainan yang berbentuk mobil dan ada delapan buah, serta beberapa binatang purba sebagai musuhnya. Ada juga figur super hero tapi malah dijadikan rakyat jelata dan korban keganasan binatang purba itu.
"Apa orang tuaku juga akan merestui kami dengan mudah? Sedangkan disini yang jadi korban adalah orang tuaku, Bu. Mereka pasti masih ingat dengan jelas, apa yang Sandi lakukan sama aku."
Bu Farida ikut duduk di kursi yang lain tapi masih satu meja dengan Arimbi. Matanya sesekali juga melihat Reyhan dengan segala tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. "Kalau orang tua kamu bisa bersikap dewasa, pasti mereka akan mengambil keputusan dengan bijak. Semua itu juga tergantung Sandi nanti bagaimana menghadapi orang tua kamu."
__ADS_1
"Justru itu yang aku takutkan, Bu. reaksi apa yang akan Mamah sama Papah tunjukan saat mendengar aku sudah memiliki anak segede itu? Aku takut mereka malah jantungan."
Bu Farida malah terkekeh. "Tapi kan orang tua kamu sudah tahu kamu hamil pas pergi, jadi mana mungkin mereka akan jantungan. Mereka dulu nggak nyuruh kamu buat menggugurkan kandungan bukan?"
"Ya enggak, Bu. Cuma kan mereka pasti mikirnya, aku nggak akan bisa merawat anakku. Apa lagi tante aku kayak orang kesetanan, pake nyumpahin aku segala gara gara aku mencoreng nama baik keluarga."
"Ya udah, berarti ini kesempatan kamu membuktikan pada keluarga besar kamu, kalau kamu sampai saat ini baik baik saja tanpa mereka. Bahkan Reyhan tumbuh jadi anak yang lucu. Apa lagi dia cucu pertama untuk orang tua kamu juga. Nggak usah khawatir, kamu masih punya bapak sama Ibu yang selalu mendukungmu."
Arimbi seketika tersenyum dan di saat itu pula mereka mendengar Pak Seno berteriak. "Reyhan, Eyang sudah datang ini loh."
Reyhan segera saja meninggalkan mainananya meski dia belum paham betul siapa itu Eyang. Kedatangan keluarga Sandi, tentu saja menjadi sorotan para tetangga termasuk pria yang hendak main ke rumah Arimbi.
__ADS_1
...@@@@...