TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Perubahan Yang Mengherankan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Arimbi."


Kening Ibu satu anak, yang namanya disebut oleh tamunya sontak berkerut. Sudah pasti rasa terkejut dan heran langsung berbaur dalam benak Arimbi. Baru beberapa hari, tamunya itu bersikap ketus dengan segala caciannya, tapi malam ini, tiba tiba tamunya bersikap sangat lembut dan ramah. Tentu saja Arimbi malah syok.


"Walaikum salam, Bu. Silakan masuk," balas Arimbi kepada wanita yang telah melahirkan anak laki laki bernama Mulyadi. Arimbi sama sekali tidak tersenyum. Bukan karena sengaja besifat dingin, tapi dia masih heran saja dengan sikap berbeda yang ditunjukkan wanita itu. "Silakan duduk, Bu."


Wanita dengan pakaian yang kelihatan wah itu duduk dengan senyum yang terus tersungging. "Anak kamu mana? Ini aku bawakan mainan, titipannya Mulyadi."


Belum habis rasa terkejut yang ada di benak Arimbi, wanita itu kembali dibuat syok dengan apa yang dikatakan tamunya. Ibunya Mulyadi menyerahkan bungkusan plastik yang dia tenteng di atas meja.


"Reyhannya lagi tidur, Bu," jawab Arimbi tanpa menyentuh benda yang sudah tergeletak di atas meja karena masih dalam rasa bingung dengan sikap tamunya.


"Jam segini sudah tidur? Wah, hebat ya?" Ibunya Mulyadi malah terlihat senang dan memujinya. Senyumnya begitu sumringah. "Padahal aku kesini pengin ketemu anak kamu loh, Mbi. Pasti anaknya lucu."


Arimbi bingung harus bereaksi seperti apa. Ini terlalu mengejutkan. Bahkan Arimbi sempat sempatnya berpikir kalau wanita itu pasti ada maksud lain karena bersiap seperti itu. Atau ketempelan mahkluk halus, jadi bisa berubah sikapnya dalam hitungan beberapa hari.

__ADS_1


"Eh, ada Bu Dibyo," seru ibu Farida yang baru saja keluar dari ruang tengah. Wanita itu sebenarnya ingin istirahat, tapi karena merasa penasaran dengan tamu yang datang, wanita itu memilih keluar menemui tamunya. Apa lagi dari dalam, Bu Farida mendengar suara orang yang dia kenal, jadi dia memilih untuk keluar dari ruang tengah.


"Iya, nih, Bu Farida, lagi pengin ketemu Reyhan," balas Bu Dibyo, ibunya Mulyadi. Sebenarnya Dibyo adalah nama suaminya dan wanita itu malah lebih dikenal dengan pangglan Bu Dibyo daripada namanya sendiri, sejak menikah puluhan tahun yang lalu.


"Wahh! Sayang sekali, Reyhannya sedang tidur. Lagi kecapean dia, habis piknik sama nenek dan kakeknya yang dari kota," ucap Bu Farida setelah dia duduk di kursi tamu dan meminta Arimbi untuk membuatkan minum.


"Wahh! pasti Reyhan senang banget yah ketemu sama nenek kakeknya?" Senyum Bu Dibyo pun ikut merekah.


"Ya pasti seneng lah, Bu. Segala macam apa yang Reyhan mau, pasti diturutin. Tuh, lihat! Mainan hampir dua karung aja belum dibongkar, tadi dibeliin lagi. Rumahnya jadi sesak oleh mainannya Reyhan," ucap Bu Farida sambil menunjuk ke arah tumpukan mainan di sisi ruang tamu yang lain. Di sana memang tidak ada kursinya, tapi jadi sesak gara gara mainan Reyhan yang begitu banyak.


"Nggak kaya raya lagi. Jualannya aja berlian di kota sana," balas Bu Farida yang memang sempat berbagi cerita tentang usaha masing masing saat pergi piknik tadi siang.


"Apa? Berlian?" Bu Dibyo sampai terlihat syok. Padahal Bu Farida tidak ada niat untuk pamer. Bu Farida hanya cerita apa adanya berdasarkan fakta yang dia tahu.


"Iya, usaha nenek kakek Reyhan, itu ya jualan emas, berlian, mutiara. Langganannya aja katanya para artis dan pejabat. Pokoknya hebat. Reyhan beruntung punya nenek dan kakek yang sangat sayang sama dia."

__ADS_1


"Namanya juga cucu sendiri, ya harus sayang, dong, Bu," balas Bu Dibyo masih dengan sikap ramahnya. "Terus nenek kakeknyua sekarang dimana? Kok nggak kelihatan?"


"Mereka nginep di hotel. Nggak mungkin mereka nginep di sini. Tapi mungkin besok mereka kesini lagi."


"Oh gitu. Ya udah, Bu, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya. Besok aja, saya main kesini lagi kalau Reyhan sudah bangun."


Bu Farida dan Arimbi yang sedari tadi memilih diam, mempersilahkan wanita itu untuk pergi. Kedua wanita beda usia itu masih diliputi rasa heran dengan sikap yang ditunjukan tamunya.


"Ibunya Mulyadi kenapa ya, Mbi? Kok sikapnya jadi aneh gitu?" tanya Bu Farida lagi yang sudah tidak tahan ingin mengeluarkan pertanyaan seperti itu.


"Aku juga heran, Bu. Kemarin aja sikapnya nggak begitu. Eh sekarang malah kesini jadi kayak gitu. Pakai bawa mainan untuk Reyhan lagi."


Dua wanita itu sungguh diliputi rasa penasaran. Berbeda dengan tamunya yang sudah pergi. Saat ini wanita yang dipanggil Dibyo itu terlihat senang dengan segala pemikirannya sendiri.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2