TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Setelah Mendengar Kabar


__ADS_3

"Kalau sikap papah begin terus, lebih baik Mamah ikut Eliza hidup di kampung," entah itu sebuah ancaman atau hanya gertakan semata, yang pasti suami dari mamahnya Eliza seketika langsung membulatkan matanya begitu mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang istri dan ucpan itu terdengar bersungguh sungguh.


"Mamah lagi nggak bercanda kan?" tanya papah Eliza memastikan. "Masa hanya gara gara Iksan, Mamah sampai ngancam Papah kayak gitu?"


"Kenapa? Papah nggak terima? Papah mau marah sama Iksan gitu?" cecar sang istri.


"Ya bukan maksud Papah gitu, Mah," sangkal Papah. "Yang penting kan Eliza sudah ada di sini, kita jemput Eliza bareng bareng."


"Enak banget ya, Papah ngomong kayak gitu. Bukannya berterima kasih sama adik sendiri, tapi malah menggunakan kesempatan mumpung Eliza ada disini. Picik sekali pikiranmu, Pah. Kalau kayak gini, mending Eliza nggak pulang sekalian. Tetap sama Iksan. Papahnya hanya mentingin egonya sendiri."


"Loh, kok Mamah ngomong kayak gitu?"


"Kenapa?" Mamah menaikan suaranya sedikit lebih keras. "Apa ada yang salah dengan omonganku? Nggak kan? Dengan dalih mencari Eliza, Papah rela mengemudikan mobil sampai jauh ke ujung timur mengemudikan mobil sendiri. Padahal, jangankan Eliza, Mamah aja nggak kenal siapa teman papah itu, tapi Papah dengan yakin Eliza berada disana. Buktinya apa?"


Papah terbungkam. Sindiran sang istri membuat pria itu tak berkutik untuk sekedar membantah karena pada kenyataannya tindakannya saat mencari Eliza cukup membuat sang istri tercengang.


"Giliran Mamah usul untuk mencari ke rumah Iksan, berbagai alasan, Papah lontarkan. Yang capek lah, ini lah, itu lah. Nyatanya, Eliza beneran tinggal di sana. Mungkin kalau Mamah tinggal di kampung dan terlihat miskin, papah juga akan langsung menceraikan Mamah. Ya nggak apa apa lah. Yang penting hati Mamah tenteram hidup bareng Eliza. Nggak merusak tali silaturahmi dengan saudara, meski hidup sederhana dan terlihat miskin."

__ADS_1


Begitu selesai meluapkan rasa kesalnya, Mamahnya Eliza langusng perg saja meninggalkan sang suami yang semakin ternganga karena ucapan sang istri yang mengucapkan kata cerai.


Masih di malam yang sama, begitu pulang ke rumah, Sandi dibrondong banyak pertanyaan oleh keluarganya. Sedangkan Arimbi memilih diam, meski dia juga penasaran dengan reaksi orang tuanya saat melihat kehadiran Reyhan di sana. Namun semua yang ingin ditanyakan oleh Arimbi, sudah terwakilkan oleh keluarga Sandi.


"Kamu nggak ingin bertemu orang tua kamu, Mbi?" tanya Sandi setelah orang tua dan adiknya masuk ke kamarnya masing masing. Kini hanya ada Arimbi dan Sandi di ruang tamu. "Kalau pengin ketemu ta besok biar aku yang antar kamu."


"Apa orang tuaku sudah tidak terlihat marah? terutama Ayahku?" bukannya menjawab pertanyaan Sandi, wanita itu malah melempar pertanyaan yang membuat Sandi cukup bingung untuk menjawabnya.


"Ya kelihatan marah sih enggak ya, Mbi, namun saat mereka melihat Reyhan, mereka terlihat sedih gitu," jawab Sandi. "Kalau kamu penasaran, mending ketemu langsung aja, gimana?" Arimbi pun terdiam dan dia terlihat sedang berpikir.


Di tempat yang berbeda, Dandi juga langsung diberondong berbagai pertanyaan oleh orang tuanya sendiri. Mereka juga penasaran dengan hasil dari perginya Randi ke rumah mantan calon besannya. Dandi pun menjelaskannnya secara gamblang. Setelah puas mendapat jawaban, orang tua Dandi memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


"Ya yang pasti kaget sih. Eh kata Ibu kamu Mbak Mirna sudah ngasih tahu kepada orang tua kamu mengenai tempat keberaadaanmu, Ri," balas Dandi.


Rianti tersenyum kecut. "Ya, percuma sih ngasih tahu ke orang tuaku. Nggak ada manfaatnya."


"Loh, kenapa?" tanya Dandi heran.

__ADS_1


"Ya nggak kenapa kenapa."


jawaban Rianti yang terlihat santai justru membuat Dandi merasa ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu. Dandi pun tidak bertanya lebih jauh lagi. Malah dia melempar pertanyaan yang cukup membuat Rianti tertegun. "Kalau kamu mau menemui orang tua kamu, aku bisa mengantarmu. Kamu mau?"


Dan Rianti hanya terdiam.


Sama seperti Sandi dan Dandi, Randi juga mendapat serbuan pertanyaan dari keluarganya begitu pulang ke rumah. Tidak ada yang dia tutup tutupi dan dengan sangat jelas, Randi selalu menjawab setiap pertanyaan yang terlontar untuknya. Hingga beberapa waktu berlalu, kini hanya ada Randi dan Eliza di ruang tamu. Semua keluarga Randi sudah masuk ke dalam kamar.


"Papah terkejut saat tahu aku tinggal di rumah Paman Iksan?" tanya Eliza yang tadi juga cukup terkejut mendengar cerita dari Randi.


"Iya, kayak kaget dan nggak nyangka gitu," jawab Randi. "Kenapa emang?"


Eliza tersenyum masam. "Nggak kenapa kenapa."


Randi pun mengangguk beberapa kali. "Kamu mau menemui orang tua kamu kapan, Za? biar aku antar."


Eliza memilih diam, tidak langsung menjawabnya.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2