TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Masih Di Toko Buah


__ADS_3

Sementara itu di toko buah.


"Jika aku mengajak kamu menikah lagi, apa kamu akan percaya?"


Wanita yang baru saja dilempar pertanyan seperti itu sontak mengerutkan keningnya dan menatap pria yang baru saja bertanya dengan tatapan yang cukup tajam. Namun tak lama kemudian dia malah menunjukan senyum sinisnya. "Jangan harap aku akan perccaya sama kamu. Kayak nggak tahu sifat kamu aja," sungut Rianti dan kembali melanjutkan pekerjaannyya.


Dandi mengembangkan senyum getirnya. Dia sudah menduga, jawaban Rianti pasti akan sangat menohok. "Dari segimana kalau aku itu tidak pantas dipercaya? Apa kamu tidak percaya kalau orang itu bisa berubah?" Dandi berusaha membela diri. Untuk meyakinkan kalau dirinya bisa berubah memang butuh perjuangan yang cukup memakan waktu dan juga perasaan.


"Ya nggak tahu," balas Rianti. " Intinya tuh, aku susah aja untuk percaya sama kamu. Apa lagi kamu masih bergaul dengan teman teman seperjuangan kamu itu. Bisa saja kan, kamu sama mereka merencanakan sesuatu yang lebih parah lagi?"


Dandi seketika ternganga mendengar tuduhan Rianti. "Loh, kami memang memiliki rencana, tapi kan rencananya tidak ada hubungannya dengan kamu. Orang aku sama mereka aja nggak tahu kamu ada disini."


"Ya awalnya memang ngggak tahu aku ada disini. Tapi setelah kalian tahu tentang keberadaanku, pasti kalian langsung merencanakan sesuatu, iyakan?" Rianti tetap tidak mau kalah. Dia masih berusaha menebak isi hati Dandi dengan segala pikiran buruknya.


"Astaga! Susah ya ngomong sama cewek? Selalu ingin menang sendiri," Dandi malah terlihat frustasi. "Kalau kamu nggak percaya, makanya ayo kita nikah. Lagian, aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku sama kamu kan?"

__ADS_1


"Tanggung jawab apa?" Rianti cukup terkejut dengan kata tanggung jawab yang Dandi ucapkan. Wajahnya juga nampak bingung dan cukup lama wanita itu memandang lawan bicaranya.


"Ya ampun, masa kamu lupa?" Dandi menatap tak percaya wajah Rianti yang sedang bingung. Bahkan wanita itu beberapa kali menggelengkan kepalanya karena benar benar tidak tahu dengan arti dari kata tanggung jawab yang Dandi ucapkan. "Kita kan sudah pernah tidur bareng, masa perbuatan seenak itu kamu bisa lupa sih?"


Seketika Rianti langsung melotot dan tangannya reflek mengambul jeruk dan dilemparkannya ke arah Dandi. "Aduh! Kenapa aku malah dilempari jeruk sih?"


"Siapa suruh hal kayak gitu diingat ingat. Aku aja menyesal telah begitu bodoh mau aja diajak dan dirayu oleh kamu. Nggak penting juga hal seperti itu harus ingat," sungut Rianti terlihat sangat emosi.


"Ya maka itu, ayo kita nikah! Biar aku bisa tanggung jawab sepenuhnya."


"Astaga! Nggak sudi apanya? Dulu aja kamu keenakan sampai nambah tiga ronde."


"Dandi!" bentak Rianti dengan mata melotot. Tapi Dandi bukannya takut, dia malah cengengesan tanpa merasa berdosa. "Ngomong kayak gitu lagi, aku sunat kamu!"


"Hahaha ... ya udah nih, sunat punya aku, cepat!" Dandi malah meledeknya sembari berdiri dan memegang pengait celananya seolah olah pria itu akan membuka celana yang dia pakai. Rianti semakin mendengus dan kembali melempari pria itu dengan sebuah jeruk. "Aduh!" pekik Dandi saat lemparan Rianti mengenai dadanya.

__ADS_1


"Udah sana pulang. Ngapain sih masih disini," usir Rianti dan sayangnya itu tidak mempan. Apalagi disaat bersamaan, orang yang akan membantu mengaktifkan cctv datang. Dandi pun menggunakan kesempatan itu untuk tetap berada di toko buah milik wanita yang sikapnya langsung ramah kepada petugas yang datang.


Setelah melalui proses yang tidak terlalu lama, akhirnya cctv yang ada di toko itu sudah bisa digunakan. Tanpa sadar, Dandi dan Rianti duduk bersebelahan untuk menguji hasil rekaman cctv yang terpasang di tiga tempat. Satu menghadap halaman dan yang dua menghadap ke dalam toko.


"Nah, kayak gini kan aman," seru Dandi. Tapi suaranya menyadarkan mereka kalau saat ini tubuh mereka terlalu menempel. Rianti langsung saja bangkit. Tapi sebelum wanita itu pergi, Dandi segera menahannya dan membuat Rianti duduk kembali di sebelahnya.


"Kamu apa apaan sih, Dan!" hardik Rianti dengan segala rasa kesal yang ada.


"Ya ampun cuma duduk sebelahan doang. Apa aku sekotor itu sampai kamu begitu jijik berada didekatku?" protes Dandi.


"Ya, karena kamu kotor, aku jadi ikutan kotor. Gara gara kamu juga, aku nggak berani berhubungan dengan laki laki lain karena sudah kotor'"


Dandi tertegun dan matanya langsung menatap lekat wanita yang tanpa sadar telah meluapkan isi hatinya. "Maka itu, karena kita sama sama kotor, kita nikah biar nggak ada yang menghina kamu nantinya."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2