
Akhirnya ketiga keluarga dari tiga pria, pulang dengan perasaan yang cukup lega. Acara lamaran secara resmi, berjalan sangat lancar. Kini, mereka tinggal menentukan tanggal pernikahan saja. Kedua belah pihak keluarga, menyerahkan keputusan mengenai tanggal pernikahan kepada calon pengantin, karena mereka yang akan menjalani pernikahan.
Tentu saja tiga pria yang hatinya sedang sangat bahagia, dengan senang hati, akan mencari tanggal yang tepat untuk hari spesial mereka. Ketiganya juga akan menentukan waktu yang tercepat untuk melangsungkan acara pernikahan mereka. Ketiga pria itu tidak ingin menunda waktu lebih lama, agar tidak ada gangguan lagi kedepannya, terutama untuk para wanita.
"Reyhan kok nggak bobo sama ibu?" tanya Sandrina yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang. Karena Sandi sedang memegang kendali mobil, sang anak saat ini berada dalam pangkuan tantenya. Bocah itu menggeleng dengan cepat. "Kenapa? Reyhan nggak betah di rumah eyang yang itu?" bocah itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Wajarlah, kalau Reyhan nggak betah di sana, dia kan baru lihat keluarga eyang yang lain," celetuk Ibunya Sandi yang duduk persis dibelakang Sandi. "Apa lagi tadi Reyhan lihat ayahnya bawa mobil, udah deh, rewel banget minta ikut."
"Iya nih anak, gemesin banget," sahut Sandrina sambil menoel pipi keponakannya. "Sayangnya nanti Reyhan nggak tinggal di kota ya, Mah. Kalau kangen, harus datang ke kampung."
"Ya gimana lagi, itu sudah keputusan Arimbi. apalagi Kakakmu juga setuju," balas Mamahnya Sandi. "Berarti kamu nanti kamu serumah dengan Bu Farida, San?"
"Ya enggak lah, Mah," bantah Sandi. "Rencananya aku akan beli rumah di perumahan yang ada di sana."
"Emang ada, Bang?" tanya sandrina.
"Ada, dong. Letaknya nggak jauh dari tempat usaha aku. Ya nggak terlalu jauh juga dengan rumah Bu Farida. Jadi mereka bisa bebas ketemu Reyhan dan Arimbi. apalagi Arimbi juga katanya pengin ngembangin usaha Bu Farida."
__ADS_1
orang tua Sandi nampak manggut manggut dan mereka cukup setuju dengan idenya Sandi.
Pembicaraan yang cukup serius juga sedang terjadi di dalam sebuah mobil. Mobil yang dikendarai oleh Dandi itu, nampak berjalan santai karena para penumpangnya sedang merasa puas saat acara lamaran kedua yang baru saja mereka lakukan, berjalanan tanpa hambatan.
"Nanti setelah menikah, kamu akan tinggal dimana, Dan? Di kota?" tanya Ayahnya Dandi yang duduk di sebelah anak keduanya.
"Ya sesuai keinginan Rianti, Pah. Dia ingin tetap mandiri. Mungkin, aku akan tinggal di kampung aja sekalian ngembangin usahanya Rianti," jawab Dandi dengan mata fokus menatap ke arah depan jalan.
"Kenapa nggak tinggal di kota aja sih?" protes Mamahnya Dandi. "Di sini, kan, bisa juga ngembangin usaha."
"Ya rasanya beda dong, Mah. Rianti kan di sana sudah punya pelanggan. Lagian itu sudah menjadi keinginan Rianti setelah berpisah dari orang tuanya. Ya aku sih setuju aja. Toh mendiri juga tidak salah kan, Mah."
"Terus nanti kami disana ngontrak juga?" tanya Papahnya Dandi.
"Sepertinya nggak deh, Mah, aku akan cari ruko atau beli rumah yang juga bisa buat tempat usaha di sana. Di sana harga tanah dan bangunannnya masih cukup murah, Pah. nggak kayak di kota."
"Ya bagus itu, kirain bakalan ngontrak lagi. Sayang aja sama duitnya."
__ADS_1
Senyum Dandi pun terkembang, tidak membalas ucapan ayahnya lagi.
Masih di malam yang sama, di dalam mobil yang berbeda, Randi juga sepertinya sedang membahas masa depan dengan ayah dan ibunya. Karena dua kakaknya membawa mobil sendiri sendiri, jadi di dalam mobil, mereka hanya bertiga saja.
"Yang namanya iksan gimana sih, Ran? Kok Mamah jadi penasaran?" tanya mamahnya Randi disela sela pembicaraan mereka.
Randi yang memegang kendali mobil lantas tersenyum cukup lebar. "Waktu pertama kali aku lihat sih, Mah, orangnya serem banget. Terlihat galak gitu. Tapi makin kesini kalau sudah kenal lebih lama, Paman Iksan baik banget. Aku aja awalnya takut jadi nggak nyangka."
"Oh ... mamah heran aja, kok ayahnya Eliza sampai segitu merasa bersalah dengan adiknya itu loh. Tadi Mamah kaget mendengar ucapanya," Randi kembali tersenyum lebar tanpa membalas ucapan mamahnya lagi.
"Terus, kamu juga nanti bakalan ikut Eliza tinggal bareng pamannya?" tanya Papahnya Randi.
"Enggak lah, Pah. Nanti mau cari rumah aja di sana. Di rumah paman iksan kan rame. nggak enak jika tinggal bersama mereka."
"Ya baguslah kalau pikiran kamu begitu. Yang penting kamu baik baik dalam menjalankan rumah tangga nanti. Jangan neko neko dan jangan bikin masalah lagi yang membuat keluarga malu."
"Siap, Pah," balas Randi dengan senyum yang cukup lebar.
__ADS_1
...@@@@@...