TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Cerita Mengejutkan


__ADS_3

Dandi pulang dengan senyum yang merekah indah. Dengan menyeruput jus mangga di sepanjang jalan, Dandi merasa bersyukur. Setidaknya dia menemukan jalan untuk meminta maaf dan menebus kesalahan yang pernah dia perbuat pada wanita yang tadi masih menyimpan kemarahan saat Dandi berada di tempat wanita itu mencari rejeki.


Berbeda dengan Dandi, Rianti justru menyimpan kekesalan yang luar biasa meski Dandi sudah pergi dari tokonya. Karena terlalu kesal, dia sampai mendiamkan pria yang saat ini sedang sibuk memerika persediaan buah yang ada di toko tersebut. Pria yang akrab dipanggil Agus itu malah merasa heran dengan sikap wanita yang sudah tiga tahun lebih tinggal di tempat ini.


"Kamu kenapa sih, Ri? Kok kayak nggak suka banget dengan pria itu?" tanya Agus disela sela merapikan barangnya. Tapi Rianti memilih diam. Dia enggan memberi tahu siapapun tentang pria yang menyebabkan dia harus angkat kaki dari rumah itu. "Apa dia mantan pacar kamu?" terka Agus lagi.


"Apaan sih. Mantan apaan coba," sungut Rianti dengan kesal tanpa menoleh ke sumber suara.


"Ya habis sikap kamu pada pria itu agak lain. Padahal dia pendatang loh, tapi kok kamu kayak benci banget. Jangan jangan dia benar mantan pacar kamu juga."


"Terserah Mas Agus aja deh mau mikir dia siapa. Yang pasti aku males kerja sama dengan cowok kayak dia."


Jika sudah begini, Agus memilih mengalah. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya sampai beberapa menit kemudian, Agus pamit pergi karena harus mengecek persediaan buah di lapak miliknya sendiri yang dihaga sang istri. Begitu Agus menghilang dari pandangan, emosi Rianti secara perlahan surut dan berganti menjadi wajah yang terlihat sangat sedih.


Di lain tempat, Ibu Farida terlihat turun dari ojeg. Wanita itu baru saja pulang dari pasar, bergantian dengan sang suami menjaga lapaknya. Sedangkan di rumah Bu Farida, seorang bocah nampak berlari dari dalam rumah sambil berteriak memanggil ibu farida dengan sebutan nenek.

__ADS_1


"Walah, cucu nenek!" seru Bu Farida menyambut bocah yang usianya hampir tiga tahun itu ke dalam pelukannya. "Cucu nenek lagi ngapain? Nungguin nenek?"


Bocah laki laki yang akrab di panggil Reyhan itu mengangguk dan langsung berceloteh. Tak lupa juga, Reyhan menanyakan oleh oleh kepada nenek seperti biasanya, dan dengan senang hati sang nenek langsung mengeluarkan jajanan kesukaan bocah itu.


"Jangan eskrim terus, Nak. batuk nanti loh," sang ibu langsung memberi nasehat kepada bocah yang sekarang sudah turun dari gendongan neneknya.


"Nggak apa apa, Mbi. Orang nggak tiap hari ini nenek beliin ya, nak," ucap bu Farida membela cucunya. "Kamu nggak ke pasar? Kok bapak yang berangkat?" tanya Farida pada wanita yang duduk dihadapannya.


"Nih si bocil, orang ibunya udah siap siap mau berangkat malah rewel. Biasanya juga anteng sama kakek," jawab Arimbi sambil mengusap agak kasar rambut anaknya karena terlalu gemas.


Arimbi sontak terperangah, tapi tak lama setelahnya dia berusaha bersikap biasa saja sambil membersihkan bibir anaknya yang belepotan oleh eskrim. "Nggak sengaja ketemu atau gimana, Bu?" tanya Arimbi seakan menyelidiki.


"Ya nggak sengaja ketemu. Dia tadi sedang berbelanja buat dagangannya," balas Bu Farida terlihat begitu antusias. "Sepertinya dia akan jadi pelanggan tetap kita, Mbi."


"Pelanggan tetap? Maksud ibu?" tanya Arimbi seperti sedang memastikan sesuatu.

__ADS_1


"Ya di tempat jualan kita kan ada krupuk seblak dan berbagai topingnya. Daripada dia selalu beli di bandung, dia memutuskan kemungkinan akan berlanggan di lapak kita."


Rianti tidak memberi reaksi apapun. Dia masih cukup terkejut dengan apa yang dia dengar. Ingin rasanya dia mempengaruhi Bu Farida agar tidak berhubungan dengan Sandi. Tapi itu hal yang tidak mungkin Arimbi lakukan. "Ibu ngobrol banyak nggak sama dia?" tanya Arimbi beberapa saat kemudian.


"Ya, banyak. Dia bahkan nanyaian kamu dan anak kamu." mata Arimbi seketika membulat, tapi itu tak berlangsung lama."Ibu cerita apa saja dengan pria itu?"


"Ya, paling seputar dagang. Tapi entah kenapa Ibu merasa ada yang aneh dengan anak muda itu.?"


"Aneh? Aneh gimana, Bu?"


"Masa dia nanyain tentang kamu terus. Dia Juga menyanyakan tentang Reyhan," balas Bu Farida.


"Nanyain gimana?" meski berusaha tenang, Arimbi mencoba untuk mengatasi kepanikan dalam hatinya yang tiba tiba saja menyerang.


Ibu Farida menatal bocah yang sedang asyik sendiri menikmati eskrim."Kalau diperhatikan, wajah pria itu mirip dengan Reyhan."

__ADS_1


...@@@@...


__ADS_2