TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Jadi Tukang Pijat


__ADS_3

Malam itu, waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam lebih empat puluh lima menit. Di sana, pada satu rumah yang baru saja menggelar acara pernikahan secara sederhana, suasana rumah sudah terasa sangat sepi. karena lelah yang menghinggap pada tubuh mereka, penghuni rumah tersebut lebih memilih istirahat lebih awal, karena ingin segera melepas lelah yang menghinggap pada pada tubuh dan pikiran mereka.


Di dalam salah satu kamar yang ada rumah itu, tepatnya kamar yang digunakan oleh sepasang pengantin baru, dua penghuninya baru saja menyelesaikan ibadah wajibnya sesuai agama yang mereka anut. Nampak raut bahagia tercetak jelas pada wajah mereka karena ada kenikmatan yang berbeda saat bisa menjalani ibadah bersama pasangan yang halal.


"Sekarang tinggal melakukan ibadah lainnya," celetuk sang suami yang sedang melepas baju koko dan sarungnya. Senyumnya begitu nakal sembari melirik sang istri yang mematung karena cukup terkejut dengan apa yang dikatakan sang suami. Tidak ada kata yang keluar dari mulut sang istri. Begitu dia menaruh mukena pada tempatnya, wanita itu langsung merebahkan diri di atas ranjang.


Sang suami yang tidak lain adalah Dandi, sontak menyeringai. Melihat Rianti yang sudah terbaring menghadap ke arah lain, membuat pria itu semakin ingin menaklukan sang istri malam ini juga. Dengan segala tekad yang sudah dia rencanakan sejak pagi hari sebelum acara akad. Dandi sudah berjanji pada diri sendiri, kalau malam pertamanya harus sukses.


Meskipun Rianti sudah pernah Dandi sentuh beberapa tahun yang lalu, tapi bagi Dandi, malam ini tetap dia anggap sebagai malam pertama. Biar bagaimanapun ini adalah malam pertama bagi dua wanita itu, atas berubah status mereka menjadi suami dan istri. Maka itu, momen seperti ini, bukankah harus ditandai dengan melakukan hubungan yang halal?


Tubuh Rianti menegang saat dirinya merasakan tubuh sang suami sudah naik ke atas ranjang, dan wanita itu semakin tidak tenang saat tangan kekar milik suaminya mendarat dan melingkar pada perutnya. telinga Rianti juga mendengar hembusan nafas yang keluar dari hidung Dandi, sebagai tanda kalau wajah suaminya berada tepat di dekat telinganya.

__ADS_1


"Sudah siap melakukan ibadah lainnya, istriku?" bisik Dandi terdengar begitu nakal


"Ibadah apa?" bukannya menjawab, Rianti malah melempar pertanyaan dengan gugup. Bukannya dia tidak tahu ibadah apa yang dimaksud Dandi, tapi dia hanya pura pura tidak tahu karena terlalu gugup dengan keadaan yang sedang dia hadapi.


"Yakin tidak tahu? Atau aku tunjukkan saja, bagaimana?" Dandi makin memperlancar godaannya demi suksesnya malam pertama. Biar bagaimanapun sebagai pria normal dan juga pernah menyentuh Rianti, Dandi merindukan saat seperti itu terjadi lagi, dan malam ini adalah malam yang sangat tepat untuk meluapkan rindu melakukan kenikmatan kembali.


"Tapi badanku rasanya sedang tidak enak," masih dengan suara yang terdengar gugup, Rianti mencoba memberi alasan. Bukannya Rianti tidak ingin melakukannya, dia cuma merasa ada yang mengganjal saja untuk melakukan ibadah yang diinginkan suaminya. Walaupun Rianti sangat tahu dengan jelas kalau itu adalah sebagian dari kewajibannya sebagai istri.


"Nggak usah," tolak Rianti. "Dengan istirahat, nanti juga badannya udah enakan kok."


Dandi pun tersenyum cukup lebar. "Nggak apa apa, Sayang, biarkan kali ini aku menyenangkan istriku," ucapan yang keluar dari mulut Dandi semakin membuat Rianti resah dan tidak karuan. Apa lagi tangan kekar pria itu mulai melancarkan aksinya dengan memijat lengan Rianti, membuat wanita itu semakin merasa tidak tenang. "Sekarang kamu tengkurap, sayang."

__ADS_1


sepertinya Rianti sudah tidak bisa memilih kata yang tepat untuk menolaknya. Sudah dipastikan semakin wanita itu memberi alasan, maka semakin Dandi akan lebih pintar untuk membuat alibi baru. Mau tidak mau Rianti menuruti perintah suaminya.


"Pijatanku enak nggak, Yang?" tanya Dandi setelah beberapa menit dia melakukan pijatannya.


"Enak," jawab Rianti singkat. Karena memang hanya itu yang bisa dia katakan. Namun dalam hatinya Rianti mengakui kalau pijatan yang dilakukan suaminya memang sangat nyaman. Senyum Dandi terkembang dan otaknya terus bekerja untuk melancarkan tujuannya.


"Sekarang, kamu gantian pijitin aku ya?" pinta Dandi beberapa menit kemudian setelah Rianti meminta dirinya untuk menghentikan pijatan karena telah merasa cukup. Rianti kembali tidak ada pilihan lain lagi selain mengiyakannya. Wanita itu sekarang bangkit dari berbaringnya.


"Kenapa buka baju?" tanya Rianti dengan suara yang sedikit lebih keras karena terkejut dengan kelakuan suaminya.


"Karena dadaku yang pengin dipijat, sayang, pada pegel nih, aduh" alasan yang keluar dari mulut Dandi kembali membuat Resah dalam benak Rianti.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2