
"Eliza! Dengan siapa itu!" seru Dandi. Suara lantangnya tentu saja membuat Randi yang sedang menatap ke arah yang sama sontak melirik sahabatnya. Ternyata bukan Randi saja yang melihat kedatangan Eliza denngan seorang laki laki, tapi Dandi juga. "Apa dia pacarnya? kok Eliza kayak kelihatan seneng gitu?"
Pria yang datang bersama Eliza saat ini memang pria yang berbeda dengan yang Randi lihat beberapa hari yang lalu. Tapi mendengar ucapan Dandi, Randi mencoba bersikap tenang meski hatinya terasa ada yang membakar. Randi tidak mau terjadi kesalah pahaman yang bisa berakibat fatal, sama seperti yang dialami oleh Dandi.
"Emang kenapa kalau dia pacarnya?" bukan bermaksud membuat suasana hati panas, tapi pertanyaan yang terlontar dari mulut Sandi cukup menumbuhkan amarah dalam hati Randi. Pria itu baahkan sampai menatap dengan tajam kedua sahabatnya.
"Apa kalian sedang sengaja ingin membuatku marah?" pertanyaan Randi sontak membuat keduanya menoleh dan setelah mencerna ucapan Randi beberapa saat, tawa keduanya langsung pecah.
"Hahaha ... sorry, bro, aku nggak ada maksud apa apa?" Sandi langsung mengangkat dua jarinya membentuk huruf V lalu meraih kertas yang baru saja diletakkan di atas meja pembatas.
Randi merebut kertas itu dari tangan Sandi. "Ini Pasti pesanan Eliza, biar aku saja yang bikin."
Sandi dan Dandi nampak saling pandang, lalu keduanya memilih duduk karena memang tidak ada pesanan lain yang harus mereka masak. Randi sendiri langsung bergerak cepat membuat dua menu yang sama untuk pembeli yang baru datang.
Begitu pesanan telah siap, Randi sendiri yang mengantarkan pesanan itu ke lantai atas dimana Eliza dan pria yang bersamanya berada. Randi berusaha menahan degup jantungnya yang berpacu tak karuan. Apa lagi saat matanya menangkap sosok wanita yang duduk berhadapan dengan seorang pria, membuat degup jantung Randi semakin terpacu lebih cepat.
__ADS_1
"Makasih," ucap pria yang bersama Eliza setelah Randi meletakkan pesanan mereka di atas meja. Sedangkan Eliza sendiri memilih membuang muka. Randi hanya membalas ucapan itu dengan senyuman, lalu dia bukannya pergi, tapi Randi duduk di salah satu tempat yang letaknya di belakang Eliza. Hanya terhalang satu meja dan Randi memang sengaja tidak langsung turun, ingin menguping pembicaraan mereka.
"Kata adikku, disini makanannya enak, jadi aku ngajak kamu kesini? Apa kamu sudah pernah coba?" tanya pria yang duduk dihadapan Eliza sambil mengaduk makanananya beberapa kali sebelum disantap.
"Pernah satu kali, cuma nggak terlalu menikmati sih," jawab Eliza yang juga melakukan hal yang sama dengan pria di hadaapannya, kemudian mulai mencicipi satu sendok kuahnya.
Pria itu terlihat mengangguk beberapa kali sembari melayangkan senyum lalu mulai memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. "Rasanya memang enak sih. Beda sama yang ada di kota ini," ucap pria itu, tanpa dia sadari ada seseorang yang diam diam tersenyum mendengar pujian itu. Randi memang sengaja memunggungi keduanya agar dia tidak dicurigai sedang menguping obrolan mereka.
Untuk sesaat keduanya tidak melakukan perckapan apapun. Mereka saling terdiam sambil menikmati makanan yang mulai terasa pedasnya. Hingga saat makanan mereka tinggal setengah, mereka memilih berhenti sejenak karena tidak kuasa menahan rasa pedas tapi nikmat itu. Pria itu juga sesekali melirik Eliza dan senyum tipisnya juga terbesit.
"Hum," balas Eliza tanpa menatap pria yang sedang menatapnya.
"Apa aku sudah bisa mendapatkan jawabannya?" pertanyaaan pria itu sontak membuat gerakan tangan Eliza berhenti dan menatap pria yang masih setia menatap dirinya.
"Jawaban apa?" Eliza justru terlihat bingung dengan pertanyaan pria itu. Di sisi lain, Randi yang mendengarnya juga sempat tertegun. Seketika pikirannya langsung memikirkan bermacam macam pertanyaan dan dugaan.
__ADS_1
"Ya tentang perasaanku, kamu lagi nggak pura pura lupa kan?" pria itu semakin memperjelas ucaoannya. Wajahnya cukup terkejut saat Eliza justru bertanya dan terlihat seperti orang yang lupa.
"Jadi kamu mendatangi aku ke lapak jualan Taryo, hanya ingin bertanya tentang hal itu?"
"Lah, emangnya apa lagi?"
Wajah Eliza langsung berubah emosi. "Bukankah aku sudah mengatakan sama kamu, aku sedang tidak ingin menjalin hubungan sama siapapun. Apa kamu nggak paham dengan ucapanku waktu itu?"
"Kapan kamu bilangnya?" entah pria itu pura pura atau memang tidak tahu beneran, tapi pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, cukup membuat Eliza semakin meradang.
"Astaga, Rud! kamu belum tua tua amat kan? Orang jelas jelas aku mengatakannya saat itu juga."
"Serius, aku nggak tahu, Za," pria itu masih berkilah. "Apa yang membuat kamu menolakku, Za, apa? Sedangkan keluarga paman kamu sendiri mau menerimaku."
...@@@@@...
__ADS_1