
"Reyhan mau makan pake lauk apa?" tawar Mamahnya Sandi saat mereka semua sudah berada di meja makan. Sejumlah lauk kesukaaan anak kecil itu, kini tersaji lengkap di atas meja, membuat satu satunya anak kecil yang ada di sana bingung mau memilih lauk yang mana.
"Itu buat Reyhan semua?" bocah yang masih setia dalam pangkuan sang ayah malah melempar pertanyaan yang membuat para orang dewasa di sekitarnya, mengembangkan senyum mereka. Sepertinya bocah itu sangat takjub dengan lauk yang cukup banyak, tersaji di depan matanya.
"Iya ini buat Reyhan semua," jawab Sandrina sembari menyodorkan beberapa piring lauk seperti ayam goreng tepung, ayam goreng serundeng, udang dan cumi goreng tepung, bahkan telur dadar pun ada. Mata Reyhan sampai berbinar dan dia bingung untuk menentukan pilihan lauk mana yang akan dia makan.
"Katanya Reyhan lapar, makan sama ayam goreng aja. Biasanya juga ayam goreng tepung yang Reyhan pilih," ucap Arimbi yang duduknya tidak jauh dari anaknya membuat si anak menoleh dan menatapnya. Biar bagaimanapun ibu yang melahirkannya sangat tahu apa yang paling disukai anak kecil itu.
"Tapi Reyhan mau semuanya, Bu," tawar Reyhan dengan wajah sedikit cemberut.
"Iya ini buat Reyhan semuanya. Udah, sekarang Reyhan makan ya? Katanya lapar," Sandi ikut bersuara mengakhiri kebingungan Reyhan dalam berdebat memilih lauk.
"Reyhan makan sama Ibu sini, biar Ayah bisa makan," tawar Arimbi dengan tangan yang terulur.
Bocah itu malah menggeleng. "Reyhan mau makan sama ayah," ucapnya.
"Udah, Mbi, nggak apa apa," Balas Sandi. "Aku bisa makan sendiri nanti. Kamu aja makan duluan, Reyhan biaar aku yang suapi."
__ADS_1
Sedikit perdebatan di meja makan pun akhirnya berakhir. Semua nampak senang melihat Reyhan yang begitu lahap menikmati makanannya. Suasana hangat sangat terasa dalam acara makan malam mendadak tersebut.
Sama halnya yang terjadi di rumah Dandi, saat ini Rianti juga sedang makan bersama keluarga dari pria yang mengajaknya kembali ke ibu kota. Meski rasa canggung masih bergelayut dalam benak Rianti, tapi wanita itu cukup senang karena keluarga Dandi menyambutnya dengan hangat.
Terutama wanita yang telah melahirkan sosok Dandi. Bahkan wanita yang dipanggil Mamah oleh dua anaknya itu beberapa kali meminta maaf atas perbuatan anak bungsunya yang sudah sangat keterlaluan. Wanita itu juga kerap sekali memberi sindiran kepada Dandi dan selalu sukses membuat si anak kesal.
"Makan yang banyak, Nak," tawar ibunya Dandi dengan menyodorkan beberapa lauk yang sudah tersaji di atas meja kepada Rianti.
"Iya, Tante, makasih," jawab Rianti sembari terrsenyum canggung.
"Malu maluin apa sih, Bang? hih!" Dandi memang sedari tadi dibuat kesal oleh keluarganya. Tapi Dandi tidak bisa membalas mereka karena yang mereka gunakan untuk meledek Dandi adalah kesalahan pria itu dimasa lalu.
Sang Abang yang akrab dipanggil Awang hanya bisa tersenyum lebar dengan tatapan penuh ejekan. "Emang kamu sekarang sudah siap lahir batin, Ri? Punya suami kayak Dandi?"
"Apaan sih, bang," geram Dandi. "Pulang sanah ih! Orang udah punya anak istri kok, masih doyan keluyuran sendirian."
"Abang kamu itu nggak keluyuran. Tadi dia pergi sama Papah untuk melihat lahan," Mamah malah membelanya, semakin membuat Dandi kesal sendiri. Sedangkan Rianti sesekali tersenyum tipis karena keluarga Dandi seperti tidak memberi ampun kepada Dandi.
__ADS_1
Rasa canggung juga kini dirasakan oleh Eliza. Meski dia hanya tamu, keluarga Randi bersikap sangat hangat kepadanya. Bahkan ibu dan kakak Randi juga beberapa kali meminta maaf karena kesalahan pria membuat Eliza merasa tidak enak hati.
"Kamu selama pergi dari rumah, benar benar putus hubungan sama keluargaa kamu, Za?" tanya kakak Randi disela sela mereka menikmati hidangannya.
"Iya, Mbak," jawab Eliza singkat dan pelan.
"Kok bisa? Pasti dimarahin orang tua kamu atas perbuatan yang tidak kamu lakukan ya?" tanya kakak Randi lagi sambil melirik sang adik. Randi sendiri hanya meendengus sebal. Pria itu sedari tadi memang selalu disudutkan karena kesalahahannya. Eliza yang dilempar pertanyaan, hanya bisa tersenyum. Dia bingung, mau menjawab dengan jawaban seperti apa, pertanyaan yang terlontar dari kakaknya Randi.
"Aku sendiri juga sampai sekarang masih bingung, Za. Entah motif apa yang membuat Randi bisa berbuat jahat seperti itu," ucap kakak Randi lagi yang masih saja membahas masa lalu.
"Udah sih, Mbak, jangan dibahas mulu," protes Randi. "Itu kan sama saja membuka luka lama bagi Eliza."
"Hahaha ..." Sang kakak malah terbahak. "Melihat wajah kamu aja juga bisa membuka lama Eliza, Ran. Nggak usah protes."
"Hih!" Randi hanya bisa menggeram kesal.
...@@@@@...
__ADS_1