TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Tamu Dari Kota


__ADS_3

seperti biasa, jika memasuki waktu tengah hari, rumah makan yang dikelola tiga pria itu terlihat sangat ramai. Bukan hanya ramai dengan datangnya pengunjung, warung makan itu juga kebanjiran orderan melalui pesan aplikasi dan juga pesan chat. Mungkin karena efek kemarin libur, jadi untuk hari ini semua yang bekerja di rumah makan di sana, sangat disibukan untuk memenuhi pesanan yang melimpah.


Bahkan saat waktu baru menunjukan pukul tiga sore, beberapa menu malah sudah kehabisan stok persediaan karena banyaknya pesanan. Belum lagi stok minuman yang tersedia di lemari pendingin juga ikut berkurang cukup banyak. Melihat keadaan seperti itu, sudah bisa dipastikan kemungkinan warung itu akan tutup lebih awal.


Meski begitu, ketiga pria yang usianya sudah matang untuk menikah itu, tidak akan pernah menambah stok persedian barang dagangannya. Mereka tetap memegang satu prinsip, mau ramai ataupun sepi, jumlah persediaan bahan bahan jualannya sudah mereka tentukan dan batasi. Dengan begitu, keuntungannya akan lebih jelas terlihat nantinya.


Tak jauh dari warung makan tersebut, terlihat sebuah mobil berhenti terparkir di area parkir taman kota. Begitu mobil telah terparkir dengan sempurna, nampak tiga orang keluar dari mobil tersebut dan melangkah melewati taman kota yang cukup sejuk karena banyaknya pohon rindang di sana.


"Ternyata benar, warung sundanya sangat ramai," celetuk salah satu dari tiga orang itu saat matanya menatap warung yang di kelola oleh tiga pria.


"Wajarlah Ramai, masakan Abang kamu dan teman temannya, kan, emang nggak diragukan lagi kelezatannya. Apa lagi katanya ini cuma ada satu satunya di kabupaten ini. Jadi pantas kalau warung makan Abangmu Ramai," sahut salah satu orang yang lebih tua dari yang tadi menunjukan rasa kagumnya.


Langkah tiga orang itu pun semakin dekat ke warung sunda dan saat langkah kakinya tepat menginjak bagian depan warung makan, mata ketiga orang itu langsung mengedar ke sekitar dengan tatapan penuh dengan rasa kagum. Salah satu karyawan yang melihat tiga orang itu langsung menyapanya dengan raamah.


"Selamat datang, Bapak, Ibu, silahkan masuk. Tapi sebelum duduk, silakan membuat pesanan terlebih dahulu di meja sana," ucap karyawan itu dengan menunjuk sebuah meja dimana ada seorang karyawan juga di balik meja.

__ADS_1


"Baik, terima kasih," jawab orang yang paling muda lalu beranjak menuju meja yang ditunjuk. Dua orang sisanya malah berpencar, satu mengikuti orang yang akan memesan makanan, satu lagi melangkah menuju meja pembatas antara bagian dapur dan ruang untuk membeli.


Salah satu karyawan yang melihatnya hanya bisa memperhatikan orang itu tanpa berniat ada yang menegurnya. Dalam pikiran karyawan, orang itu sama seperti pengunjung yang baru pertama kali datang, kebanyakan mereka akan berkeliling melihat lihat sekitarnya.


"Sepertinya warungnya ramai banget," celetuk orang itu kepada tiga pria yang sedang serentak fokus menghadap ke tempat kompor. Tiga orang itu spontan menoleh bersamaan dan mata mereka sedikit membalalak saat tahu siapa yang telah mengeluarkan suaranya.


"Papah!" pekik Sandi.


"Om Suryo!" Dandi dan Randi hampir serentak mengeluarkan suara kagetnya.


"Beres, Om," jawab Dandi dan Randi bersamaan.


"Papah sama siapa kesini?" tanya Sandi yang memang baru menyelesaikan pesanan untuk dua porsi. Sebelum ayahnya menjawab, mata Sandi sudah melihat dua orang yang sangat dia kenal, datang menghampiri. "Ya ampun, Mamah, Sandrina! Kok kesini pada nggak ngasih kabar sih?"


Karyawan yang sedari tadi memperhatikan sekaligus sedang mengambil menu pesanan milik pembeli, baru paham kalau tiga tamu itu adalah keluarga salah satu bosnya.

__ADS_1


"Kalau kasih kabar ya bukan kejutan, Bang," Sandrina yang menjawabnya.


"Ya udah, ajak Papah sama mamah duduk dulu deh, San. Udah pada pesan belum?" tanya Sandi.


"Udah tadi," jawab sang adik.


"Duduk di sini aja lah, males naik ke atas," Ibunya Sandi menunjuk meja yang kebetulan kosong di dekat meja pembatas, dan ketiga orang itu langsung duduk di sana sambil menikmati suasana yang cukup ramai. Sandi sendiri kembali disibukan dengan memasak beberapa menu termasuk untuk keluarganya yang baru datang.


"Papah sama mamah sengaja datang kesini apa gimana?" tanya Sandi beberapa saat kemudian sambil meletakkan pesanan untuk keluarganya.


"Nih, si Sandrina, minta ke pantai yang ada, tak jauh dari kabupaten ini katanya," jawab si ibu. "Jadi ya sekalian kita mampir."


Sandi nampak manggut manggut dan pembicaraan hangat diantara mereka pun tercipta. Selain tanya kabar, tentu saja mereka juga berbagi cerita masing masing selama berpisah. Hingga saat mereka larut dalam obrolan, ke empat orang itu dikejutkan dengan suara teriakan.


"Ayah!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2