TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Sindiran Pedas


__ADS_3

Randi terperangah mendengar ucapan wanita yang sedang berbincang dengan temannya. Dia bahkan menatap lekat ke arah wanita itu dengan perasaan yang cukup berkecamuk. Randi tahu wanita itu sedang menyindir dirinya. Ingin rasanya Randi menghampiri Eliza dan kembali meminta maaf, tapi saat ini dia tidak mungkin melakukannya karena tidak ingin menganggu kesenangan wanita itu.


Eliza sendiri tahu kalau dia sedang ditatap oleh Randi, tapi wanita itu terlihat cuek. Ada kepuasaan tersendiri dalam hati saat Eliza mengatakan sesuatu yang tepat mengenai lubuk hati Randi. Eliza bisa menerka, saat ini Randi menatapnya pasti karena pria itu tersindir dengan ucaapannya.


"Hahaha .. sok tahu kamu. Emang kamu pernah dekat dengan cowok kayak gitu?" tanya teman Eliza disela sela menikmati seblaknya yang cukup pedas.


Eliza sontak tersenyum sinis. "Aku malah lebih parah. aku sampai difintah segala, gila nggak tuh!" Eliza terus mengeluarkan perasaan yang selama ini dia pendam dan Randi hanya bisa terdiam sembari menatap eliza dengan segala perasaan bersalahnya.


"Berarti gara gara fitnah itu sampai kamu pergi dari rumah?" si teman kembali bertanya.


"Nggak perlau dijawab juga kamu pasti tahu jawabannya," balas Eliza. "Udah sih cepat dihabisin, aku sudah nggak betah lama lama di sini."


"Hahah ... santai bestie. Orang lagi menikmati juga."


"Cihh, lain kali jangan ajak ajak aku kesini lagi."


"Iya nyonya. Ih bawel banget sih."

__ADS_1


Eliza hanya mendengus sembari kembali menikmati hidangan dihadapannya. Sedangkan Randi masih terdiam dengan tatapan yan tak lepas dari wanita yang sedari menyindirnya. Tak lama berselang kening Randi berkerut saat di meja itu pula ada seorang pria yang menghampiri Eliza dan temannya.


"Kamu ngapain disini?" tanya Eliza yang nampak terkejut dengan kedatangan pria tersebut. "Pasti ini Windi yang ngasih tahu kamu kalau aku ada disini, iya, kan?" kali ini tatapan Eliza begitu tajam menatap teman wanitanya. "Sialan kamu, Win, pantas kamu maksa maksa aku datang ke tempat ini."


Teman Eliza yang bernama Windi langsung tersenyum lebar. "Sorry, Za, dia yang minta. Aku mana tega nggak bantuin."


Eliza terlihat sangat kesal, dia menyeruput es jeruknya lalu segera bangkit dan berdiri. Saat Eliza hendak melangkah, pria yang baru datang itu langsung menahan tangannya. "Za, pliss, jangan pergi Ini semua memang aku yang minta. Abis kamu susah banget jika diajak jalan."


Eliza langsung menghentakkan tangan pria itu dengan kencang. "Kamu sudah tahu alasannya, kan? Kenapa kamu masih ngotot sih? Mending kamu ajak jalan Sindi, ngapain aku terus yang kamu kejar?" Eliza langsung pergi meninggalkanm tempat tersebut. Dia bahkan sempat melirik tajam ke arah Randi yang mematung dan terus menatapnya.


Pria itu hendak berdiri dan mengejar Eliza tapi ditahan oleh wanita yang bernama Windi. "Nggak usah dikejar, nanti dia makin benci sama kamu."


"Sabar," Windi mencoba menenangkan pria itu. "Dia seperti itu karena trauma dengan laki laki."


"Trauma? Maksudnya?" pria itu terlihat cukup terkejut mendengarnya. Begitu juga dengan Randi.


"Baru aja Eliza cerita penyebab dia pergi dari rumah. Ternyata dia pernah sangat dikecewakan oleh cowok. Bahkan dia sampai difitnah segala."

__ADS_1


"Hah! difitnah? Difitah bagaimana?"


Windi sontak mengangkat kedua pundaknya. "Tidak tahu, dia tidak cerita semuanya."


Bukan hanya pria itu yang terlihat frustasi, tapi Randi juga. Dia bahkan memutuskan beranjak dari tempat itu dengan langkah gontai menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. sikap Randi tentu saja menjadi perhatian dua sahabatnya yang sedang meracik pesanan konsumen yang ada di lantai satu.


"Kamu kenapa, Ran? Kusut amat?" tanya Sandi sembari memindahkan mie goreng pedas ke dalam piring kotak.


"Paling ditolak oleh Eliza," dan yang menjawab pertanyaan dengan gaya sok tahunya. "Tadi kamu lihat kan? Eliza kelihatan marah saat pergi."


"Tahu lah, aku masih bisa ngedektin Eliza atau nggak. Dia kelihatan banget benci sama aku," balas randi begitu duduk di kursi dekat meja pembatas.


"Loh, emang tadi kamu ngapain aja di atas? Kirain lama karena kamu sudah baikan?" ucap Dandi.


Randi sontak tersenyum kecut. "Aku benar benar lelaki pengecut ya? Gara gara perbuatanku, Eliza katanya sampai trauma jika ada cowok yang mendekat."


"Apa! Kok bisa?"

__ADS_1


"Aku juga kaget melihatnya. Bahkan gara gara fintah yang aku lakukan dulu, Eliza memilih pergi dari rumah karena tidak kuat menanggung malu."


...@@@@@@...


__ADS_2