
Setelah mengatakan sesuatu yang terdengar sangat nakal, senyum Dandi terkembang sembari terus menatap wanita yang telah resmi menjadi istrinya, sejak beberapa jam yang lalu. Sedangkan Rianti sendiri langsung tertegun, tapi dengan cepat dia memalingkan wajahnya. Entah karena malu atau bagaimana, Rianti malah terkesan salah tingkah dimata Dandi.
Di saat bersamaan sepasang pengantin tersebut mendengar sebuah suara yang memanggil salah satu nama dari mereka berdua, dan mengatakan kalau makan malam sudah siap. Rianti merasa lega karena terhindar dari situasi yang cukup menegangkan menurutnya. Sepasang pengantin baru itu akhrinya bersama sana melangkah keluar untuk makan malam.
Setelah berada di kursi yang mengitari meja makan, sekarang gantian, Dandi yang diselimuti dengan rasa canggung. Berhadapan langsung dengan orang tuanya Rianti dengan status sebagai menantu, malah membuat pria itu sedikit tegang. Padahal sebelum menikah, Dandi bisa bersikap tenang jika bermain di tempat Rianti, dan berhadapan dengan orang tuanya.
"Teman kamu dan suaminya kok nggak kamu ajak untuk nginep di sini sih, Ri?" tanya Mamahnya Rianti memecah keheningan diantara empat orang yang ada di sekitar meja makan. Ya, mereka hanya empat orang di rumah itu. Semua keluarga Rianti sudah pulang ke rumahnya masing masing, termasuk tiga kakaknya Rianti,
"Katanya mereka mau mengunjungi suadara suaminya Mah, sekalian piknik. Mumpung mereka lagi berada di kota," jawab Rianti yang sikapnya saat ini lebih tenang. "Tadi Mamah sempat ngobrol nggak sama Tiwi?"
"Ya sempat lah, Mamah malah ngobrol lama sama dia," jawab Mamahnya Rianti. "Anaknya baik. Oh iya, katanya kamu mau beli ruko di sana, Dan?" kini pandangan Mamah tertuju kepada menantunya.
__ADS_1
"beli ruko, buat apa?" tanya Papahnya Rianti yang nampak terkejut mendengar pertanyaan dari istrinya.
"Buat usaha lah, Pah. Kan usaha toko buahnya Rianti mau dibikin gede," balas Mamahnya Rianti, yang membuat sang Papah terdiam dan hanya menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Iya, Mah. Tapi kalau ada sih, Dandi penginnya beli rumah yang ada tokonya sekalian. Biar seliagus buat tempat usaha juga. Apa tadi Tiwi cerita ke mamah?" ucap Dandi.
"Iya, dia cerita banyak," jawab Mamah mertua. "Berarti kalian serius mau tinggal di kampung?" Dandi pun menganggaku sembari tersenyum. Dia melirik ke arah istrinya karena merasa tidak enak untuk menjawab pertanyaan dari mertuanya.
Sedangkan sang ayah, hanya bisa mendukungnya. Meskipun pria itu juga sangat merasa bersalah. Biar bagaimanapun, keputusan Rianti untuk tinggal jauh dari orang tuanya, karena pengaruh dari sikap ayahnya juga selama ini. Jika boleh jujur, pria itu juga sebenarnya sangat keberatan jika Rianti tinggal di tempat yang jauh. Namun papahnya Rianti tidak bisa melarangnya, karena itu sudah menjadi keputusan Rianti sendiri.
Karena suasana rumah yang sepi dan juga badan yang cukup lelah, tidak ada obrolan lanjutan di antara mereka. Semua yang ada di meja makan memutuskan langsung kembali ke kamar setelah acara makan malam selesai. Obrolan di meja makan berakhir saat Papahnya Rianti memutuskan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sepertinya, mamah kamu sangat keberatan, kita tinggal di kampung, Ri," ucap Dandi begitu dia dan istrinya sudah ada di kamar mereka. Lagi lagi posisi mereka sama seperti tadi sebelum makan malam, Rianti duduk di kursi dekat meja rias dan Dandi duduk di tepi ranjang.
"Ya nggak apa apa. Namanya juga baru awal. Nanti kalau udah lama ya bakalan terbiasa. Lagian kan rumah ketiga kakakku juga deket dari sini. Nggak ada salahnya kan kalau salah satu dari anaknya ada yang hidup jauh?" ucap Rianti dengan tenang. Meskipun dalam hatinya dia juga terasa berat, tapi Rianti yakin kalau dia bisa hidup jauh dari orang tuanya.
Dandi pun hanya mengangguk, lalu dia mengajak Rianti untuk melaksanakan ibadah terlebih dahulu sebelum mereka tidur. Mereka berdua melakukan ibadah di dalam kamar dengan Dandi sebagai imamnya.
"Ternyata sangat menenangkan yah, bisa ibadah bareng dengan sang istri? Kayak udah jadi pemimpin keluarga sejati gitu," Ucap Dandi setelah mereka selesai melakukan ibadah. Wajah pria itu benar benar terlihat berbinar saat ini.
Rianti pun hanya tersenyum tanpa ada niat membalas ucapan suaminya. Namun dalam hati Rianti, wanita itu juga merasakan keindahan yang sama karena bisa beribadah dengan pria yang berstasus sebagai suaminya.
"Sekarang kita tinggal melaksanakan ibadah yang lain, ya?" ajak Dandi dengan senyum yang mulai nakal. Tentu saja, ajakan tersebut membuat Rianti yang sedang meletakkan mukenanya, sampai mematung dengan rasa gugup yang kembali melanda.
__ADS_1
...@@@@@@...