
"Reyhan nggak mau ikut sama Tante?" bujuk Sandrina kepada sang keponakan yang sedari tadi nempel dalam pangkuan ibunya terus. Sejak sampai di rumah Sandi, anak kecil itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi senangnya saat bertemu Eyang dan tantenya. Entah karena lupa atau malu, tapi bocah itu selalu menolak ajakan orang orang yang menyayanginya.
Reyhan mau minta apa? Mau mainan apa jajan? Sini sama Eyang, nanti Eyang kasih yang banyak," bujuk Mamahnya Sandi, tapi tetap, anak itu hanya terdiam dan memandangi satu persatu, orang yang sedang berlomba lomba membujuknya, agar mau ikut dengan mereka.
"Itu diajak beli mainan, Reyhan nggak mau?" karena merasa tidak enak, Arimbi sebagai ibunya pun ikut turun tangan untuk membujuknya. Namun Reyhan tetap menggeleng sambil melingkarkan tangannya di leher Arimbi dan menaruh kepalanya di pundak sang ibu.
"Mungkin Reyhan capek kali, Mah, jadi moodnya nggak baik itu," Papah ikut bersuara. Meski semua pada kecewa tapi mungkin ucapan Pak Suryo ada benarnya, anak itu memang lelah. Apa lagi ini pertama kalinya Reyhan melakukan perjalanan jauh. Mungkin juga anak itu sedikit lupa kepada keluarganya Sandi, jadi anak itu kembali merasa asing dengan keluarga ayahnya.
"Reyhan mau sama Ayah, Bu," ucapab anak kecil itu terdengar pelan, tapi masih terdengar oleh semua yang ada di ruang tamu. Mereka semakin gemas dengan tingkah anak itu.
"Sini sama ayah, sini," Sandi yang duduk tak jauh dari anaknya langsung bangkit sejenak mengambil alih Reyhan dan memangkunya. Anak itu hanya diam sambil memandangi wajah wajah yang gemas kepadanya. Reyhan sendiri wajahnya datar tanpa ekpresi.
"Reyhan datangnya nggak ngasih kabar sih? Jadi tante nggak beliin jajan dan mainan. Besok Reyhan mau beli mainan sama Tante nggak?" bujuk Sandrina lagi yang kebetulan duduknya lebih dekat dengan kakaknya. Bukannya menjawab, anak itu malah berpaling dan menenggelamkan wajahnya pada dada Sandi, membuat adik dari Sandi itu gemas sendiri. "Hih! Ni anak, gemesin banget."
"Udah sih, San, jangan dipaksain, nanti malah rewel," tegur mamah. Meski dia juga gemas dengan cucunya itu.
__ADS_1
"Arimbi ikut ke kota apa sengaja mau bertemu orang tua kamu?" kini pertanyaan yang lebih serius langsung terlontar dari mulut Suryo, ayahnya Sandi, setelah tadi hanya ada candaan dan bicara ringan tentang Reyhan dan yang lainnya.
"Rencananya gitu, Om. Aku pengin tahu kabar mereka juga," jawab Arimbi pelan. Dia sebenarnya juga ragu dan takut, tapi semua ini demi hubungan baik antara dirinya dan orang tuanya, Arimbi harus bisa menurunkan egonya.
"Tapi apa nanti orang tua kamu nggak kaget, Nak?" sekarang giliran Mamah yang ikut bersuara. "Kamu datang dengan Sandi dan Reyhan, takutnya mereka kaget lalu malah murka sama kamu gimana?"
"Ya jangan nakut nakutin gitu dong, Mah," protes Pak Suryo. "Orang lagi semangat gitu, malah ditakut takuti. Nanti yang ada semangatnya layu gimana?"
"Bukannya nakut nakutin, Pah," Mamah membela diri. Khas wanita yang tidak mau disalahkan. "Mamah kan cuma ngomong kayak gitu agar Arimbi bisa antisipasi aja, kemungkinan terburuk kan selalu ada. Maka itu takutnya nanti tidak sesuai harapan, gimana?"
"Tapi ya kalau dipikir pikir omongan Mamah kamu ada benarnya sih," tadi menentang, sekarang Papah malah mendukung, membuat sang istri mencebikkan bibirnya. "Kalau menurut Papah sih, mending yang datang kamu sama Reyhan dulu. Nanti kamu bisa lihat reaksi orang tuanya Arimbi gimana, begitu mereka melihat kamu dekat dengan cucunya."
"Nah, iya tuh benar!" Mamah menimpali dengan sangat antuisias. "Kalau mereka mau menerima Reyhan dan bisa melihat ketulusan kamu, ya sebagai orang tua pasti nanti mereka ingin bertemu dengan anaknya. Baru deh, kamu ajak Arimbi datang ke rumahnya."
"Bukannya kita menghalangi ya, Nak. Takutnya orang tua kamu terlalu syok begitu melihat kamu kembali tapi malah datang dengan pria tidak tahu diri ini. Takutnya bukan kebaikan yang didapat, malah kesalah pahaman yang mungkin bisa saja terjadi. Biarlah nanti Sandi sendiri yang menjelaaskan tentang keadaan kamu," Papah kembali mengeluarkan usulannya.
__ADS_1
"Gimana, Mbi? Kamu setuju dengan usulan Papah?" tanya Sandi.
Arimbi sedari tadi terdiam dengan pikiran yang mencerna usulan orang tua Sandi. "Ya aku setuju aja," jawab Arimbi pelan. Semua orang cukup senang mendengar keputusan Arimbi. Mereka lantas kembali melanjutkan obrolannya.
"Ayah," suara Reyhan yang tiba tiba terdengar, membuat pembicaraan serius itu terhenti sejenak.
"Apa Sayang?" tanya Sandi lembut.
"Reyhan lapar."
"Owalah!"
...@@@@@...
Othor punya karya baru nih, di simak juga yuk
__ADS_1