
Plak!
"Bu Farida!" pekik Sandi dengan raut muka yang nampak sangat terkejut. Wajar jika pria itu begitu sangat terkejut dengan tamparan yang dia terima di saat dia baru saja mengeluarkan kepalanya untuk melihat seseorang yang mengetuk pintu rumah kontrakannya di saat hari masih pagi.
Rasa terkejut Sandi semakin besar karena wajah wanita paru baya yang dia kenal beberapa hari sebelumnya terlihat penuh amarah dari sorot matanya. bu Farida tidak bersikap hangat seperti saat mereka bercengkrama di pasar. Tatapan wanita paru baya itu benar benar tatapan penuh rasa emosi.
"Bu Farida kenapa nampar saya?" Sandi kembali bersuara dengan raut syok sembari menatap wanita dihadapannya dengan tatapan penuh tanya.
"Apa perlu saya menjelaskan kenapa saya nampar kamu?" Bu Farida malah melempar pertanyaan yang semakin membuat Sandi merasa bingung. Sandi masih tidak menyadari alasan dibalik tamparan yang dilakukan oleh wanita itu.
"Aku ada salah sama ibu? Kalau aku ada salah aku minta maaf?" ucap Sandi lagi.
__ADS_1
Bu Farida menggeleng tak percaya melihat sikap Sandi yang seakan tidak menyadari akan kesalahannya. "Pantas Arimbi begitu membencimu. Ternyata kamu memang anak muda yang tidak memiliki rasa bersalah sama sekali."
Mendengar nama Arimbi disebut, tentu saja Sandi sontak tercengang. Sekarang dia tahu alasan wanita itu marah sampai tiba tiba menamparnya. Dari kejadian penamparan yang baru saja dialami, sandi mengerti kalau wanita itu sudah mengetahui semuanya. "Ibu sudah tahu siapa ..."
"Nggak nyangka aku, orang yang menolong Reyhan ternyata adalah orang yang tidak mau bertanggung jawab atas kehadiran anak itu," Bu Farida langsung mengeluarkan segala yang dia pendam sejak tadi malam. Bahkan setelah pulang dari pasar, wanita itu langsung menghampiri tempat Sandi demi bisa meluapkan segela beban batin yang dia tahan. "Bahkan saat saya bercerita tentang Arimbi pun kamu memasang wajah kepalsun, pura pura prihatin dengan keadaannya. Bisa bisanya aku ditipu oleh pria macam kamu."
Fari dalam kontrakan, Randi dan Dandi yang mendengar suara wanita yang sedang marah, bergegas ikut keluar. Bu Farida langsung melayangkan tatapan tajam kepada dua pria itu. "Apa kalian juga turut andil dengan kemalangan yang dialami Arimbi?" pertanyaan Bu Farida tentu saja membuat Dandi dan Randi langsung memasang wajah terkejut.
"Kenapa? Kalian malu kalau perbuatan kalian banyak diketahui orang?" tuduhan Bu Farida tentu saja membuat ketiganya gelagapan.
"Bukan begitu, Bu. cuma nggak enak aja kalau pagi pagi sudah terlihat ribut ribut seperti ini," Randi berusaha menyangkal dengan sopan.
__ADS_1
"Nggak enak? Kalian hanya mengalami hal seperti ini saja langsung merasa nggak enak. Terus, apa kalian pikir, hidup Arimbi enak setelah kalian rusak masa depannya?" biar bagaimanapun Bu Farida tetap seorang wanita yang ucapannya tidak mau kalah dari laki laki. Bahkan setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu sukses membuat tiga pria itu semakin terpojok dan sangat merasa bersalah.
"Maaf, Bu. saya tidak bermaksud membohongi bu Farida," Sandi kini bersuara. biar bagaimanapun dia harus mengakui segala perbuatannya. "Saat itu saya benar benar masih bingung harus mengawali cerita saya darimana. Saya tahu saya salah banget, tapi percayalah, Bu, saya menyesal melakukan itu semua."
Bu Farida langsung tersenyum sinis. "Yakin kalau kamu menyesal? Sepertinya ucapan kamu sangat meragukan. Aku yakin, kamu pasti tidak ada upaya untuk mencari Arimbi bukan?"
Sandi menghela nafasnya dalam dalam untuk menetralkan suasana hatinya yang sangat bergemuruh agar tidak menjadi emosi. "Bukannya saya tidak berusaha mencari Arimbi, bu. Saya dan teman teman sendiri tidak tahu kalau Arimbi pergi dari rumah karena perbuatan saya. Saya pernah beberapa kali ingin menemuinya dan meminta maaf, tapi tanggapan keluarganya sangat dingin. Bahkan saya sering diabaikan."
Bu Farida menatap mata Sandi dan berusaha mencari kebohongan di balik mata itu. Tak lama setelah itu mata Bu Farida juga menatap dua teman Sandi yang sama sama merasa bersalah. "Entah apa yang ada dipikiran kalian. Kenapa mudah banget kalian menghancurkan hidup seseorang hanya demi sejumlah uang. Apa salah Arimbi sama kalian, sampai kalian tega berbuat seperti itu? Apa?"
Ketiga pemuda itu memilih diam derngan kepala agak menunduk. "Arimbi tidak salah, Bu. kami yang sudah keterlaluan sama dia."
__ADS_1
...@@@@@...