
Pada akhirnya tiga pria itu pulang dengan hati yang cukup tenang dan juga senang. Meski ada yang menggantung dari pembahasan yang mereka lakukan dengan wanitanya masing masing, setidaknya tiga pria itu memiliki secerca harapan yang membuat mereka semakin semangat dalam menebus dosa di masa lalu.
Dari ketiga pria yang menghuni dalam satu rumah kontrakan sekaligus tempat usaha, Randilah, penghuni yang pulang paling terakhir. Dia pulang menggunakan ojeg dari kampung tempat tinggal Eliza. Kepulangan Randi tentu saja membuat kedua sahabatnya merasa terkejut. Dandi dan Sandi cukup penasaran Randi pergi dengan kemana dan dengan siapa. Makanya, saat Randi pulang, dia langsung diberondong pertanyaan oleh dua sahabatnya.
"Dari rumahnya Eliza. Tadi tuh aku di jemput oleh Pamannya Eliza," jawab Randi saat salah satu temannya melempar pertanyaan kepadanya.
"Kok bisa? Gimana ceritanya?" Sandi bertanya lagi dan Dandi hanya diam, cukup menjadi penyimak pembicaraan yang terjadi di depan matanya.
Dari pertanyaan yang keluar dari mulut Sandi, tentu saja, Randi menceritakan semuanya secara rinci. Bahkan Randi mengulang cerita yang semalam menimpanya, sebagai tanda kalau apa yang terjadi hari ini, masih ada sangkut pautnya dengan kejadian yang dialami Randi dan Eliza tadi malam.
"Ya kamu seneng dong, memiliki kesempatan yang banyak untuk mendekati Eliza?" kini Dandi yang mengeluarkan suaranya. Dan pastinya ucapan pria itu, membuat senyum Randi terkembang dengan sangat lebar.
"Kalian tahu nggak? Kalau Eliza nggak mau di antar pulang aku, dia diancam oleh pamannya. Ancamanya sungguh unik, dia akan dinikahkan dengan aku. Apa nggak sangat menguntungkan?" ucap Randi dengan sangat antusias sampai suara tawa sombongnya meledak.
__ADS_1
"Ya elah, tadi aku juga ngajakin Rianti untuk nikah, Sandi juga. Apa kali ini tema kita adalah ngajak nikah semua?" balas Dandi.
"Hah! Mereka pada mau nggak? Di ajak nikah sama kalian?" Randi bertanya dengan wajah yang menunjukan kalau dia terkejut.
"Ya mungkin jawabannya sama kaya Eliza. Tapi kan paling nggak, aku bisa lebih dekat dengan Rianti. meskipun masih marah, dia nggak kelihatan galak lagi kayak kemarin," balas Dandi dengan semangat.
"Tapi kalau kita nikah sama cewek cewek kita, apa kita sudah siap menghadapi orang tua mereka? Aku kok malah rada takut ya," ucap Randi menyangsikan diri sendiri.
"Nah, itu dia tantangan kita," kini Sandi yang bersuara. "Kalau orang tuaku sih kayaknya aku tidak akan terlalu masalah meski kena marah. Yang jadi masalah itu orang tua Arimbi. Apa mereka mau memaafkanku?"
Pembicaran ketiga pria itu berakhir saat terdengar suara merdu menggema, sebagai tanda kalau waktu ibadah petang telah datang. Mereka langsung membubarkan diri dan bersiap untuk melaksanakan ibadah tersebut dan pastinya diteruskan dengan kegiatan lainnya.
Di belahan kampung yang lain, tepatnya di dalam sebuah kamar, seorang pria yang usianya sudah menginjak angka tiga puluh tahun, nampak sedang termenung di atas kasurnya. banyak hal yang sedang dia pikirkan termasuk tentang wanita yang sejak beberapa bulan ini mengisi relung hatinya. Di saat pikirannya sedang menerawang memikirkan wanita itu, telfon yang teergeletak di sebelah kanannya berdering dan sontak saja membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Hallo!" ucap pria itu begitu telfon sudah berpindah tempat dan menempel pada telinga kanannya.
"Oh, oke, aku akan segera datang," ucap pria itu lagi. Begitu dia mengatakan kesanggupannya, pembicaraan melalui ponsel pun berakhir. Pria itu bergegas bersiap diri untuk pergi menemui orang yang menghubunginya.
"Mau kemana, Mul?" seorang wanita yang sedang asyik nonton tv langsung mengeluarkan pertanyaannya begitu melihat anak lelakinya keluar dari kamar dengan pakaian yang cukup rapi.
"Pergi sebentar, mau ketemu sama teman," jawab pria itu dengan malas.
"Ketemu sama teman atau ketemu ama wanita nggak jelas itu?" Mulyadi memutar bola matanya. Sikapnya menunjukan kalau dia sangat malas menanggapi ucapan ibunya. "Awas aja kalau masih menemui wanita itu, Ibu akan bertindak diluar dugaan."
Mulyadi tidak merespon meski sikapnya menunjukan kalau kalau dia sangat tidak takut dengan ancaman dari wanita yang telah melahirkannya. Mulyadi langsung saja pergi tanpa pamit hingga menimbulkan gurat penuh amarah pada Ibunya.
"Sepertinya aku harus mengambil tindakan secepatnya. Wanita itu sepertinya memang harus segera diberi peringatan," gumam wanita itu penuh dengan kebencian.
__ADS_1
...@@@@@@...